Beranda / Ilmu / 8 PERBEDAAN PUASA SYIAH DENGAN PUASANYA UMMAT ISLAM

8 PERBEDAAN PUASA SYIAH DENGAN PUASANYA UMMAT ISLAM

JendelaInfo.com – Bagi Syiah bulan Ramadhan yang penuh barokah bukanlah waktu yang istimewa jika dibandingkan bulan Muharram dan Sya’ban. Hal ini disebabkan karena Syiah memiliki tuntunan ibadah dan syariat sendiri yang berbeda dengan muslimin. Demikian sehingga akan kita dapati banyak perbedaan puasa Syiah dibandingkan kaum Muslim.

Ritual berdarah perayaan ‘Asyuro pada tanggal 10 Muharram menjadi momen istimewa bagi kaum yang mengaku pecinta Ahlul Bait ini. Adapun di bulan Sya’ban mereka mengagungkan perayaan nishfu Sya’ban dengan menghasung ummat Syiah untuk berziarah ke pusara “suci” Imam Husain di Karbala karena mereka mengimani bahwa :

“Barang siapa menziarahi pusara Imam Husain di malam nisfu Sya’ban, Allah akan mengampuni dosanya yg telah lalu dan yg akan datang”.

Kami rangkumkan beberapa perbedaan tuntunan Ibadah puasa ummat Syiah ketika Ramadhan:

1. Syiah Memulai puasa dan beriedul Fitri berdasarkan fatwa Teheran

Sering terjadi bahwa Syiah menyelisihi kaum muslimin dalam memulai puasa 1 Ramadhan dan masih puasa ketika kaum muslimin Indonesia sudah beriedul Fitri bahkan setelah 2 hari kemudian. Hal ini karena mereka menunggu fatwa Ali Khamanei Iran sebagai rujukan.

Di sisi lain bagi Syiah Hari Raya agung adalah Hari Id Ghadir Kum, yang terjadi pada 18 Dzulhijjah. Bukan hari Raya Idul Fitri, bukan pula Idul Adha. Berbeda bukan dengan kaum muslimin?

Dalam buku Fiqih Imam Jafar Shadiq karya Muhammad Jawad Mughniyah (terbitan Lentera, 2004, halaman 250-252) disebutkan Imam Jafar Shadiq as berkata:

“Tidak ada shalat pada dua hari raya kecuali bersama imam. Jika kamu shalat sendiri tidak apa-apa.”

Sholat ied ala syiah hanya dilakukan sendiri-sendiri jika tidak ada imam maksum, dan hanya boleh berjamaah jika ada imam yang telah ditunjuk oleh wali faqih.

Panggilan shalat diserukan dengan ucapan ash-shalaah sebanyak tiga kali. Takbir disetiap rakaat masing-masing sebanyak lima kali. Dan menambah qunut disetiap jeda takbir.

Cara Syiah ini pun berbeda dengan cara shalat Id-nya kaum muslimin

2. Syiah berbuka puasa ketika sudah muncul bintang menjelang berakhirnya waktu Maghrib

Dalam kitab Wasail As-Syi’ah karya Muhammad bin Al-Hasan Al-Hur Al-Amili, pada Bab: waktu berbuka adalah sampai hilangnya mega merah di ufuk timur, dan tidak boleh sebelumnya :

Dari Zurarah, saya pernah bertanya kepada Abu Ja’far – alaihis salam – tentang waktu berbuka bagi orang yang puasa? Beliau menjawab: ‘Ketika telah terbit 3 bintang.’

Ajaran Syiah ini sama persis dengan kebiasaan orang Yahudi dan Nasrani.

Berbeda dengan kaum Muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk menyegerakan berbuka begitu tiba waktunya. Beliau bersabda,

لا يزال الدين ظاهراً، ما عجّل النّاس الفطر؛ لأنّ اليهود والنّصارى يؤخّرون

“Agama Islam akan senantiasa menang, selama masyarakat (Islam) menyegerakan berbuka. Karena orang yahudi dan nasrani mengakhirkan waktu berbuka.” (HR. Ahmad 9810, Abu Daud 2353, Ibn Hibban 3509 dari Abu Hurairah).

3. Bagi Syiah afdhol (lebih utama) berbuka puasa dengan kurma dan tanah kuburan

Dari ‘Ali bin Muhammad An-Naufaliy berkata, berkata kepada Abi Al-Hasan ‘alaihis salam : “Sesungguhnya aku berbuka puasa di harinya berbuka dengan tanah kuburan dan korma (bagaimana menurut anda) ?” Beliau menjawab “engkau telah menggabungkan antara berkah dan Sunnah”[Terdapat juga di : Al-Faqih 2/174, Al-Kafi 4/170, Al-Wasail 5/114, Al-Wafi 5/192, Jami’ Ahadits Asy-Syi’ah 6/247]

Fiqh Ar-Ridha : “Seutama-utamanya sesuatu untuk dimakan tatkala berbuka puasa adalah tanah dari kuburan Husain ‘alaihis salam” [Terdapat juga di Al-Mustadrak 1/429, Jami’ Ahadits Asy-Syi’ah 6/248]

4. Syiah membolehkan minum dan merokok selama berpuasa

Diriwayatkan dengan sanad yang tsiqah (menurut Syiah) dari Ammar dan Mufaddhal bin Umar dari Imam Shadiq (alaihissalam) pada Bab 16 «من یصح منه الصوم» dari Wasail Syiah menyatakan bahwa:

“mereka yang berpuasa tetapi tidak bisa menahan rasa haus maka diperbolehkan baginya untuk minum sedikit air agar menghilangkan rasa haus dan dalam kasus ini puasa mereka tidaklah batal”

Fatwa bolehnya merokok ketika berpuasa disandarkan kepada Muhammad ash-Shadr, seorang tokoh Syiah. Di antara mereka ada yang memperbolehkan merokok di siang Ramadhan secara umum, dan ada yang membatasi jumlah maksimal tiga batang rokok dalam sehari.

5. Syiah membolehkan buka puasa walau cuma safar menyeberangi sungai/jembatan

Mereka sangat bermudah-mudahan dalam udzur yang membolehkan berpuasa, baik karena ikut ujian atau sekedar melintasi sungai dan jembatan. Bahkan mereka wajib berbuka puasa bagi orang yang mendapati fajar terbit sementara ia junub dan belum mandi besar. Syiah tidak menekankan wajibnya qadha’ (mengganti) puasa.

6. Syiah melakukan Anal seks/menggauli isteri di duburnya, dan itu bagi Syiah tidak membatalkan puasa

Dalam kitab Syiah (Al-Kafi, 4578) dan (At-Tahdzib, 4/319, no. 977) dari Muhammad bin Ahmad, dari Ahmad bin Muhammad, dari Ali bin Al-Hakam, dari seorang laki-laki, dari Abu Abdillah ‘Alaihis salam berkata:

“Jika seorang laki-laki mendatangi isterinya melalui duburnya, sedangkan isterinya saat itu sedang berpuasa, maka hal itu tidak membatalkan puasanya, dan tidak wajib mandi baginya.”

7. Syiah membolehkan bersetubuh ketika puasa asal “tidak sengaja” melakukan hubungan

Dalam kitab Minhaj As-Shalihin (1/263), karya Al-Khou’i, dia menjelaskan,

“Tidak batal puasa seseorang yang melakukan petting, kemudian secara tidak sengaja zakar masuk ke salah satu lubang (qubul atau dubur). Jika sengaja jimak, namun ragu apakah tadi sudah  masuk semua atau ragu berapa yang sudah masuk dari hasyafah, maka puasanya batal, namun dia tidak wajib membayar kaffarah”.

8. Syiah meyakini bahwa Sholat Terawih Berjama’ah Adalah Bid’ah

Bagi orang Syiah, tarawih adalah bid’ah. Mereka menganggap tarawih tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Menurut mereka tarawih adalah ajaran baru yang dibuat oleh shohabat Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu.

Besarnya kebencian mereka kepada shohabat Umar menjadikan mereka menolak sunnah sholat tarawih ini mentah-mentah. Bahkan mereka menyebut kepada orang yang melakukan tarawih sama halnya menjadikan Umar sebagai Nabi. Ini adalah tuduhan dusta mereka.

Masih banyak sebenarnya perbedaan puasa Syiah dengan puasanya ummat Islam secara umum. Begitu juga perbedaan cara adzan, cara berwudlu dan sholat, zakat, haji, kawin kontrak dan perbedaan pemahaman aqidah lainnya. Oleh karena perbedaan-perbedaan tersebut bersifat prinsip, sangat jelas bahwa Islam dan Syiah tidak akan pernah bisa disatukan (AH).

Baca Juga

bai'at

AQIDAH RAFIDHAH TENTANG BAI’AT

Sebelumnya kita telah membahas pengertian bai’at yang benar sesuai Al Qur’an dan As Sunnah dalam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *