Beranda / Internasional / Berbagai Anggapan Salah Seputar Penunjukan Putera Mahkota Arab Saudi

Berbagai Anggapan Salah Seputar Penunjukan Putera Mahkota Arab Saudi

Jendelainfo.com – Berikut ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya yang menjawab anggapan salah seputar penunjukan Putera Mahkota Kerajaan Arab Saudi.

3. Anggapan Bahwa Penuhkan Tersebut Semata Demi Keberlangsungan Kekuasaan Keluarga

“Raja Salman ini sedang berusaha menciptakan dinasti baru melalui garis keturunan Salman ini, yang akan memerintah Saudi ke depan. Mengingat Mohammed bin Salman masih muda, tentu saja dia akan berkuasa lama menjadi raja Saudi,” Lagi-lagi ini juga ucapan pengamat atau analis. Suatu ucapan yang memancing kecurigaan publik.

Mempertahankan kekuasaan tidak sepenuhnya tercela selama dilakukan dengan cara yang baik dan jujur. Penunjukan Muhammad bin Salman melalui prosedur resmi yang berlaku di Arab Saudi. Tidak ada manipulasi dan kecurangan padanya. Keputusan ini setelah melalui proses musyawarah di Badan Baiat Kerajaan di Istana Al-Safa, Makkah pada Rabu (21/6) pagi waktu setempat. Dari 43 anggota Badan Baiat, 31 anggota dalam sidang tersebut setuju Muhammad bin Salman sebagai pemegang jabatan Putra Mahkota menggantikan saudara sepupunya Muhammad bin Nayef.

Baca : RAJA SALMAN MEMILIH ANAKNYA SEBAGAI PUTRA MAHKOTA ARAB SAUDI

Baca : PENUNJUKAN PUTRA MAHKOTA BARU, TAK ADA PERPECAHAN DI DALAM KELUARGA KERAJAAN ARAB SAUDI

Sementara Raja Salman bukanlah type raja yang ambisius kekuasaan. Para raja Arab Saudi yang merupakan putra-putra Raja Abdul Aziz Alu Suud, telah dididik oleh ayahanda dengan pendidikan yang baik dan Islami. Bahwa kekuasaan yang diemban bukan semata-mata dijadikan kesempatan menikmati jabatan dan kedudukan. Namun itu merupakan amanah demi membela dan memperjuangkan agama Islam. Hal ini terbukti bagaimana dedikasi dan pernyataan para raja tersebut. Para raja itu menegaskan bahwa kerajaan atau negera berdiri di atas Al-Quran dan Al-Hadits. Para raja Arab Saudi bukan sekedar raja, tapi raja sekaligus da’i (penyeru) ke jalan agama Allah.

4. Anggapan Bahwa Hal Tersebut Mendobrak Tradisi

Sebagian pihak menilai bahwa tradisi yang ada di lingkungan kerajaan Saudi, tahta diwarisi kepada anak-anak kandung Raja Abdul Aziz. Maka kebijakan Raja Salman yang sekarang, yang berarti mewariskan tahta kerajaan kepada putranya sendiri, yang berarti beralih kepada generasi ke-3 (generasi cucu Raja Abdul Aziz), ini dinilai melanggar tradisi.

Sebenarnya hal ini tidak menjadi persoalan, selama dilakukan dengan baik dan bijak. Namun demikianlah, oleh sebagian media hal ini didramatisir sedemikian rupa sehingga memicu timbulnya kecurigaan dan prasangka negatif.

Sosok Raja Salman selama ini dikenal sebagai figur yang bisa diterima oleh seluruh kalangan di lingkungan keluarga bangsawan kerajaan. Hal ini karena sifatnya yang bijak dan bisa mendamaikan. Tidak heran, sejak lama Salman selalu menjadi penasehat pribadi para raja Arab Saudi. Ini sejak masa Raja Faishal.

Jadi, ketika Raja Salman menempuh kebijakan yang “mendobrak tradisi” ini, tidak menimbulkan gejolak di kalangan keluarga kerajaan. Karena hal itu beliau lakukan dengan baik dan bijak. Dan memang sudah saatnya, generasi ke-3 dipersiapkan untuk tampil sebagai pimpinan masa depan Arab Saudi.

Poin 1 – 2  pada artikel  >> Di Balik Penunjukan Putera Mahkota Arab Saudi

Poin 5 – 7 pada artikel>> Tuduhan Terhadap Pemerintah Arab Saudi Yang Tidak Pernah Terbukti

Baca Juga

macam sekte rafidhah

BERBAGAI MACAM SEKTE RAFIDHAH

BERBAGAI MACAM SEKTE RAFIDHAH Jendelainfo.com – Dijelaskan dalam kitab Daairatul Maarif bahwa Syiah ini bercabang-cabang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *