Beranda / Bimbingan Islam / Hukum Islam (Fiqih) / CARA MELAKUKAN TAHNIK BAYI YANG BENAR

CARA MELAKUKAN TAHNIK BAYI YANG BENAR

Berbagai hal dilakukan oleh masyarakat sebagai adat untuk menyambut kelahiran seorang bayi. Diantaranya memasang lentera di kuburan ari-ari (plasenta) bayi atau memasang gunting atau senjata tajam lain di dekat kepala bayi, meletakkan rangkaian bawang dan cabe merah di atas kepala bayi, bahkan hingga memasang gelang dari benang untuk penangkal bala bagi si bayi. Sebagian orang meyakini keselamatan si jabang bayi terancam jika tidak melakukan hal ini. Jika sudah begini, dikhawatirkan terjatuh kepada kesyirikan.

Islam telah membimbing kita dalam semua hal termasuk dalam hal menyambut kelahiran seorang bayi. Pada hari-hari pertama setelah kelahiran, Allah subhanahu wa ta’ala melalui perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita menyambut kelahiran seorang bayi.

Berikut ini adalah hal yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap seorang bayi yang baru saja lahir, sebagaimana penuturan istri beliau, ‘Aisyah bintu Abi Bakr Ummul Mukminin:

“Apabila didatangkan bayi yang baru lahir ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau mendoakan barakah kepadanya dan mentahniknya.” (Shahih, HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 5468 dan Al-Imam Muslim no. 2147)

Tahnik adalah mengunyah sesuatu kemudian meletakkannya pada bagian atas mulut bayi. Mentahnik bayi adalah sunnah menurut kesepakatan para ulama, seperti yang disebutkan oleh al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (14/ 99).

Di antara landasannya ialah hadits Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

“Telah lahir anak laki-lakiku kemudian aku bawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun memberinya nama Ibrahim, lalu mentahniknya dengan kurma dan mendoakan berkah untuknya.” (Shahih al-Bukhari no. 5467 dan Muslim no. 2145)

Sunnah mentahnik bayi tidak khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan pada dasarnya umatnya juga diperintah untuk mengikutinya, kecuali ada dalil kuat yang menyatakan bahwa hal itu khusus berlaku bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam kitabnya, Tuhfatul Maudud (hlm. 25), Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan riwayat al-Khallal bahwa ketika budak perempuan al-Imam Ahmad rahimahullah melahirkan anaknya, beliau memberinya kurma dan mengatakan kepadanya:

“Kunyahlah kurma ini dan tahniklah dia.”

Yang digunakan untuk mentahnik adalah buah kurma sebagaimana disebutkan oleh riwayat.

Hikmah Tahnik

Tentang hikmah mentahnik bayi, sebagian ulama mengatakan bahwa hal itu sebagai bentuk harapan agar si anak nantinya beriman. Sebab, kurma adalah buah dari pohon yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serupakan dengan seorang mukmin. Beliau juga menyerupakan seorang mukmin dengan buah kurma dari segi manisnya.

Selain itu, ilmu kedokteran telah membuktikan manfaat yang besar dari tahnik, yaitu memindahkan sebagian mikroba ke dalam usus untuk membantu pencernaan makanan. Terlepas dari benar atau tidaknya, yang jelas tahnik adalah sunnah yang mustahab (disenangi) secara pasti dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Inilah pegangan kita, bukan yang lainnya. Sebab, tidak ada nash (dalil) yang menerangkan hikmahnya, maka hanya Allah ‘azza wa jalla yang mengetahuinya. (lihat Ahkamul Maulud fis Sunnah al-Muthahharah karya Salim Ali asy-Syibli dan Muhammad Khalifah ar-Rabah hlm. 33—34)

Mendatangi seorang Syaikh untuk meminta melakukan Tahnik

Mendatangkan atau mendatangi seorang Syaikh untuk mentahnik bayi termasuk perkara yang tidak pantas dilakukan karena dahulu setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam manusia tidak pergi kepada Abu Bakr dan Umar  radhiyallahu ‘anhuma untuk hal ini. Sedangkan keduanya adalah orang yang paling utama dari pada orang yang datang setelah mereka.  Sebagaimana hal itu disebutkan Imam Asy Syathibi rahimahullah dalam kitabnya al I’tishom.

Adapun seorang ayah mentahnik anaknya atau seorang kerabat mentahnik kerabat dekatnya, maka tidak mengapa karena yang dilarang hanyalah seseorang mentaknik karena menganggap adanya berkah.

Mencari berkah seperti ini tidaklah didapati pada seorang pun kecuali pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab dahulu para sahabat pernah mencari berkah dari keringat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum tidak melakukannya terhadap keringat Abu Bakr, Umar, Utsman, atau pun sahabat yang lain. Akan tetapi mereka menganggapnya khusus untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Berdasarkan hal ini asy Syatibi meriwayatkan adanya ijma’ (kesapakatan) atas hal ini.

Begitulah tuntunan syariat bagi setiap orang tua yang mengharap kebaikan bagi anaknya. Tak layak perkara ini digantikan dengan kesyirikan dan khurafat sehingga sunnah ini dilewatkan begitu saja, karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…

Wallahu ta’ala a’lam.

 

Baca Juga

nama bayi

Nama-nama Anak yang Baik dan Tidak Baik

Jendelainfo.com – Tentunya orang tua menginginkan nama yang baik buat bayinya. Dengan harapan nama bayi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *