Beranda / Warta / JANGAN SALAH KAPRAH! INILAH PERBEDAAN ANTARA ISTILAH “PERSEKUSI” DAN “INTIMIDASI”?

JANGAN SALAH KAPRAH! INILAH PERBEDAAN ANTARA ISTILAH “PERSEKUSI” DAN “INTIMIDASI”?

JendelaInfo.com – Beberapa hari terakhir ini dunia maya dan media massa diramaikan dengan istilah yang masih jarang kita dengar yaitu kata “Persekusi”. Apakah istilah ini sama dengan “Intimidasi”?

Kasus yang sedang viral adalah sekelompok ormas yang mencari facebooker yang dianggap membuat status dan menyinggung tokoh tertentu untuk kemudian “mendatanginya” ramai-ramai.

Arti kata “Persekusi” dan “Intimidasi”

Kalo membaca Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata per·se·ku·si /pérsekusi/v adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas;

me·mer·se·ku·si v menyiksa, menganiaya: tanpa memikirkan lagi keadilan atau kemanusiaan, mereka ~ lawan politiknya bagai iblis

In·ti·mi·da·si n adalah tindakan menakut-nakuti (terutama untuk memaksa orang atau pihak lain berbuat sesuatu); gertakan; ancaman;

Mengintimidasi adalah suatu tindakan untuk memaksa orang lain untuk berbuat sesuatu hal tertentu, yang mana pelakunya mendapatkan manfaat atas perbuatan tersebut (Ratno Lukito, 2008).

Perbuatan mengintimidasi tidak bisa dikatakan semuanya buruk, seperti misalnya seorang guru yang mengintimidasi muridnya yang nakal agar tidak mengulangi perbuatannya dan tidak ditiru oleh murid yang lain. Alasannya karena nasehat, teguran dan pengarahan yang sebelumnya dilakukan pihak sekolah tidak digubris oleh murid yang nakal tersebut.

Kesimpulannya persekusi identik dengan perbuatan brutal, main hakim sendiri dan pembantaian yang sifatnya melanggar norma kemanusiaan sementara intimidasi bisa bermakna positif maupun negatif.

Sejarah Asal mula Penggunaan istilah “Persekusi”

Merujuk pada Wikipedia, disebutkan bahwa persekusi adalah penganiayaan sistematis seseorang atau kelompok oleh individu atau kelompok lain. Persekusi dilakukan karena alasan permusuhan agama, etnis, politik dan lainnya yang menimbulkan efek kejahatan kemanusiaan dan melanggar hukum Internasional.

Beberapa contoh tindakan persekusi adalah pembantaian kristen oleh atheis Soviet dan Korea Utara, persekusi Yahudi oleh Nazi Jerman, persekusi Falun Gong oleh RRC, persekusi Sunni oleh dominasi Syi’ah Iran, persekusi etnis Rohingya oleh militer Myanmar dan sebagainya.

Oleh karenanya maka menerapkan istilah Persekusi untuk kasus sekelompok orang yang mendatangi para penghina agama di medsos nampaknya kurang tepat dan berlebihan dan lebih pas jika menggunakan istilah “intimidasi”.

Bolehkah Melakukan Intimidasi?

Melakukan intimidasi secara berlebihan tidak boleh dan bisa dianggap melakukan tindakan pelanggaran hukum. Jika anda mengancam, main hakim sendiri, melakukan penganiayaan bahkan pengeroyokan maka tindakan tersebut bisa kena KUHP pasal 368 tentang pengancaman, pasal 351 tentang penganiayaan atau pasal 170 tentang pengeroyokan.

Selayaknya pihak yang berwenang untuk melakukan proses pengusutan dan penangkapan terhadap orang yang melakukan pelanggaran di medsos. Dalam hal ini adalah pihak kepolisian, dengan dasar adanya aduan korban yang dirugikan. Sebagaimana tertuang dalam Undang-undang Iinformasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE) terutama pasal 27 ayat 2 tentang pencemaran nama baik atau pasal 28 ayat 2 jika mengandung unsur SARA.

Disisi lain para pengguna medsos juga harus bijak dan berhati-hati dalam membuat status Facebook, terutama ketika berkomentar di medsos. Berilah komentar dengan sopan, karena apapun alasannya kata-kata kasar, mencaci atau menuduh tanpa bukti dan fakta, merupakan tindakan yang tidak dibenarkan.

Dalam ajaran agama Islam, seseorang dilarang melakukan kezhaliman. Baik kezhaliman dalam bentuk kata-kata maupun perbuatan. Baik kezhaliman terhadap fisik orang lain, maupun terhadap harta dan kehormatannya. (AH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *