Beranda / Fokus / KESESATAN AQIDAH SYIAH RAFIDHAH TENTANG IMAM-IMAM MEREKA

KESESATAN AQIDAH SYIAH RAFIDHAH TENTANG IMAM-IMAM MEREKA

kesesatan aqidah syiah rafidhah tentang imam-imam mereka

Jendelainfo.com – Seperti yang telah disebutkan pada artikel SYIAH RAFIDHAH DAN YAHUDI SETALI TIGA UANG bahwa terdapat kesamaan pada aqidah Syiah Rafidhah dan Yahudi. Salah satu persamaannya adalah kesesatan aqidah Syiah Rafidhah tentang imam-imam mereka.

Orang-orang Syiah Rafidhah mengaku bahwa imam-imam mereka adalah ma’shum (terjaga dari kesalahan dan dosa-dosa) serta mengetahui yang gaib.

Hal ini sebagaimana dikutip oleh tokoh mereka, Al-Kulaini dalam buku rujukan Syiah yaitu Ushulul Kaafi, bahwa :

Imam Ja’far Ash-Shadiq berkata:”Kami adalah gudang Ilmunya Allah dan kami penerjemah perintah Allah serta kami kaum yang ma’shum, diwajibkan taat kepada kami, dan dilarang menyelisihi kami, dan kami menjadi saksi atas perbuatan manusia di bawah langit dan bumi.”[1]

Al-Kulaini pun berpendapat dalam buku yang sama pada bab:

“Para Imam Dapat Mengetahui Apa Saja Jika Menghendakinya”. Dari Ja’far ia berkata : “Imam bisa mengetahui apa saja jika memang menghendakinya dan mereka mengetahui kapan mereka mati dan tidak mati melainkan karena keinginan sendiri.”[2]

Al-Khomeini – orang binasa –  dalam bukunya Tahrirul Wasilah mengatakan:

Sesungguhnya Imam kita mempunyai kedudukan terpuji dan derajat yang tinggi, memiliki kekuasaan penciptaan yang semua makhluk tunduk kepada kekuasaan dan kekuatannya.

Dia juga mengatakan:

Sesungguhnya kita (imam yang dua belas) memiliki keadaan-keadaan tertentu bersama Allah yang tidak dimiliki oleh seorangpun dari malaikat yang dekat dengan Allah atau nabi yang diutus. [3]

Bahkan orang-orang Syiah rafidhoh keterlaluan dalam mengagungkan imam-imam mereka sampai melebih-lebihkan mereka di atas semua nabi kecuali Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana dikatakan oleh Al majlisi dalam bukunya Mir’atul ‘Uquul:

Dan sesungguhnya mereka lebih utama dan lebih mulia daripada semua nabi kecuali Nabi Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam). [4]

Pengkultusan mereka tidak hanya sampai disini saja mereka mengatakan juga bahwa para imam mereka memiliki kekuasaan penciptaan sebagaimana dikatakan oleh Al-Khuu’iy dalam bukunya Misbahul Faqahah:

Sepertinya sudah tidak ada keraguan lagi akan kekuasaan mereka terhadap semua makhluk, berdasarkan yang dipahami dari riwayat-riwayat yang ada karena mereka itu adalah perantara dalam penciptaan, dan semua yang ada tercipta karena adanya mereka. Karena merekalah semua ada. Seandainya bukan karena mereka manusia tidak akan diciptakan. Maka manusia tercipta untuk mereka, dan dengan mereka terciptanya manusia. Merekalah perantara dalam penambahan makhluk. Bahkan mereka itu mempunyai kekuasaan penciptaan di bawah Sang Pencipta. Maka kekuasaan ini setara dengan kekuasaan Allah terhadap makhluk. [5]

Kita berlindung kepada Allah dari sikap melampaui batas dan kesesatan ini.

Bagaimana mungkin para imam mereka adalah perantara dalam penciptaan?

Bagaimana mungkin para imam tersebut adalah sebab sebuah penciptaan makhluk?

Dan bagaimana mungkin mereka adalah sebab penciptaan semua manusia?

Bagaimana mungkin manusia tercipta untuk para imam itu sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembahku (Adz-Dzariyat:56)

Kita berlindung kepada Allah dari keyakinan keyakinan yang sesat ini yang jauh dari Al-Quran dan As-Sunnah yang suci.

 

Syiah Rafidhah menyangka bahwa urusan agama diserahkan kepada para ulama dan ahli ibadah di antara mereka. Halal adalah yang menurut mereka halal, dan haram adalah yang menurut mereka haram, serta konsep agama adalah yang mereka syariatkan.

Jika anda wahai pembaca yang Budiman ingin mengetahui kekafiran, kemusyrikan dan pengkultusan yang berlebih-lebihan yang diyakini oleh orang-orang Syiah Rafidhah, bacalah bait-bait Syair berikut ini yang dilantunkan oleh tokoh-tokoh kontemporer mereka yang bernama Ibrahim Al-Amili tentang penyanjungan terhadap Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu.

Wahai Abu Hasan Engkau adalah mata Tuhan…

dan tanda kekuasaan-Nya yang tinggi…

Engkau adalah yang mengerti semua yang gaib…

tidaklah ada sesuatu yang tersembunyi darimu…

Engkaulah yang menggerakkan perjalanan semua yang ada…

dan milikmulah samudra samudra yang luas…

milikmu segala urusan…

Bila Engkau menghendaki engkau hidupkan besok…

dan bila engkau menghendaki engkau cabut nyawa…

Penyair lain yang bernama Ali bin Sulaiman Al-Mazidi ketika memuji Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata dalam bait-bait syairnya :

Abu Abu Hasan engkau suami sang perawan…

Engkau berada di sisi Allah dan diri Rasul…

Purnama kesempurnaan dan matahari kecerdasan…

Hamba Rabb dan engkau adalah raja…

Nabi memanggilmu pada hari Kudair…

memberi ketetapan untukmu pada hari Ghadir…

bahwa engkau pemimpin kaum Mukminin…

dan mengalungkan kepemimpinannya di lehermu…

Kepadamu kembali segala urusan…

Engkau mengetahui segala yang terdapat di dalam dada…

Engkaulah yang membangkitkan penghuni kubur…

Kiamat ada dalam ketetapanmu…

Engkau maha mendengar lagi maha mengetahui…

Maha kuasa atas segala sesuatu…

Jika bukan karenamu bintang tak akan berjalan…

dan tidak akan ada planet yang beredar…

Engkau mengetahui segala makhluk…

dan Engkau yang berbicara dengan Ash-habul Kahfi…

Jika bukan karena mu maka Musa tidak akan berbicara dengan Allah…

Maha Suci Dzat yang menjadikanmu…

Engkau akan mengetahui rahasia namamu di alam raya…

Cintamu bagaikan matahari di pelupuk mata…

Murkamu pada orang-orang yang membencimu…

Bak bara, dan tidak ada keberuntungan bagi mereka yang membencimu…

Maka siapa yang telah berlalu dan yang akan datang…

Siapakah para nabi, Siapakah pula para rasul…

Apa pula pena Lauh mahfuzh apa pula Alam Raya…

Semuanya menghamba dan menjadi budakmu…

Abu Hasan wahai pengatur alam…

Gua pelindung orang-orang terusir…

tempat berteduh para musafir…

pemberi minum bagi pencintamu pada hari kiamat…

mengacuhkan orang yang mengingkarimu pada hari kebangkitan…

Abu Hasan, wahai Ali yang agung…

Kecintaanku padamu menjadi penerang dalam kuburku…

Namamu bagiku menjadi penghibur dikala susah…

Cintaku padamu jalan menuju Surgamu…

Engkau penambah bekal bagi diriku…

Tatkala datang keputusan Ilah Yang Mulia…

Ketika penyeru menggumumkan bersegeralah… bersegeralah…

tidak mungkin engkau meninggalkan orang yang berlindung kepadamu.

 

Renungan

Renungan

Wahai para pembaca yang Budiman…

Apakah mungkin seorang muslim yang komitmen kepada agamanya membuat syair seperti ini?

Demi Allah…

Sesungguhnya orang-orang jahiliyah dahulu pun tidak pernah terperosok ke dalam kesyirikan, kekafiran dan berlebih-lebihan seperti keterpurukan yang dialami oleh penganut Syiah rafidhoh ini.

 

[1] Al-Kulaini, Ushulul Kaafi, 1/165
[2] Al-Kulaini, Ushulul Kaafi, 1/258 (dalam Kitabul Hujjah)
[3] Al-Khomeini, Tahrirul Wasilah, 52, 94
[4] Al-Majlisi, Mir'aatul 'Uquul fi Syarhi Akhbarir Rasul, 2/290
[5] Abul Qasim Al-Khuu'iy, mISHBAHUL fAQAHAH, 5/33

 

 

 

Baca Juga

taqwa

Video: Taqwa Kunci Kejayaan Umat di Dunia dan Akhirat

Natal Menurut Islam

Perayaan Tahun Baru dan Natal Menurut Islam

Semestinya seorang muslim menimbang segala ucapan dan perbuatannya dengan timbangan syari’at Allah Ta’ala. Bagaimana Islam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *