Beranda / Fokus / KOMENTAR PARA ULAMA TENTANG SYIAH RAFIDHAH

KOMENTAR PARA ULAMA TENTANG SYIAH RAFIDHAH

komentar para ulama tentang syiah rafidhah

Para Ulama sepakat bahwa Syiah Rafidhah adalah salah satu sekte yang peling besar dustanya. Kedustaan mereka sudah dikenal sejak lama. Karena itu para ulama memberikan cap dengan “kelompok yang banyak dustanya”.

Imam Malik rahimahullahu ditanya tentang Syiah Rafidhah, maka beliu menjawab :

Jangan berbicara dengannya, dan Anda jangan meriwayatkan hadits darinya, sesungguhnya mereka para pendusta.

Masih dari Imam Malik rahimahullahu, beliau berkata :

Orang yang mencaci para sahabat Rasulullah shallallahhu ‘alaihi wa sallam tidak memiliki bagian dalam Islam (tidak tergolong orang Islam).

Ibnu Katsir rahimahullahu memberikan penafsiran tentang firman Allah Ta’ala di bawah ini :

رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Imam Malik rahimahullau mengambil kesimpulan dari ayat ini tentang kafirnya orang-orang Syiah Rafidhah yang membenci para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka benci kepada para sahabat. Dan orang-orang yang benci kepada mereka (para sahabat) adalah kafir berdasarkan ayat ini.

Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata :

Sungguh Imam Malik rahimahullahu telah berpendapat dengan sebaik-baik pendapat.  Dan penafsirannya benar, sebab orang yang mencaci salah satu dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mencela riwayatnya berarti telah menolak Allah Ta’ala dan membatalkan syariat Islam.

Abu Hatim mengatakan bahwa Harmalah bercerita kepadaku, dia mendengar Imam Syafi’i  berkata : 

Saya belum pernah melihat orang yang paling dusta kesaksiannya daripada Rafidhah.

Muammal bin Ahab mengatakan bahwa dia mendengar Yazid bin Harun Berkata :

Bisa diterima riwayat seorang pelaku bid’ah selama tidak mengajak kepada kebid’ahannya, kecuali rafidhah dikarenakan mereka pendusta.

Dari Muhammad bin Said Al Ashbahani dia mendengar Syuraik bin Abdillah, seorang Hakim Kota Kufah berkata :

Ambillah Ilmu dari siapa saja yang Anda jumpai kecuali dari Rafidhah, karena mereka membuat hadist sendiri dan menjadikannya sebagai Agama.

Muawiyah radhiyallahu ‘anhu berkata, dia mendengar Al A’masy berkata :

Saya menjumpai segolongan manusia yang dikenal dengan kaum pendusta, mereka ini adalah teman-teman Al Mughirah bin Said seorang pendusta Rafidhah, sebagaimana dikatakan Adz Dzahabi.

Pokok-pokok dasar dari bid’ah orang-orang Syiah Rafidhah adalah kekufuran mereka yang tersembunyi dan penyekutuan kepada Allah Ta’ala.

Kedustaan adalah hal biasa bagi Syiah Rafidhah, bahkan mereka sendiri mengakuinya dengan mengatakan bahwa agama kami adalah Taqiyyah. Yaitu ucapaan seseorang yang bertolak belakang dengan keyakinannya. Inilah kedustaan dan kemunafikan. Mereka dalam hal ini seperti pepatah “Melempar orang lain tapi kena dirinya sendiri”.

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullahu berkata :

Saya pernah bertanya kepada ayah saya tentang Syiah Rafidhah, maka beliau menjawab : “Yaitu mereka yang mencaci dan mencela Abu Bakar dan Umar.”

Pernah ditanya kepada Imam Ahmad tentang Abu Bakar dan Umar : beliau menjawab :

Berdo’alah agar mereka berdua dirahmati oleh Allah Ta’ala, dan berlepas dirilah dari orang-orang yang membenci mereka

Diriwayatkan oleh Al Khallal dari Abu Bakar Al Marwazi, ia berkata : Saya bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad) tentang orang yang mencela Abu Bakr dan Umar serta Aisyah, maka beliau menjawab :

Orang itu tidak berada dalam Agama Islam.

Al Khallal juga berkata : Telah bercerita kepada saya, Harb bin Ismail Al Karmaani, dengan mengatakan bahwa Musa bin Harun bin Ziad berkata :

Saya telah mendengar seseorang bertanya kepada Al Firyaabi tentang orang yang mencela Abu Bakar, maka ia berkata : “Orang seperti itu adalah kafir.!”. Kemudian dia bertanya lagi, apakah dishalatkan jika ia meninggal? Beliau menjawab : Tidak.!

Ibnu Hazm telah berkata : tentang Rafidhah ketiaka mendebat kaum Nasrani yang membawa buku-buku Syiah Rafidhah agar bisa mendebat beliau,  maka Ibnu Hazam berkata :

Sesungguhnya Rafidhah bukanlah dari golongan kaum muslimin, dan perkataan mereka tidak bisa menjadi rujukan agama, mereka hanyalah kelompok yang muncul pertama kali pada duapuluh lima tahun setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat. Berawal dari sambutan terhadap seseorang yang telah dihinakan Allah Ta’ala yang mengajak semua orang y ang ingin merusak Islam. Sebuah kelompok yang mempunyai metode seperti Yahudi dan Nasrani dalam mendustakan agama dan dalam kekufuran.

Abu Zur’ah Ar Raazi berkata :

Bila kamu melihat seseorang yang mencaci salah seorang dari para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka ketahuilah sesungguhnya dia adalah Zindiq (kafir dan merusak Islam dari dalam).

Lajnah Daimah Lil Ifta (Lembaga Tetap untuk Fatwa) di Kerajaan Saudi Arabia pernah ditanya dengan satu pertanyaan, bahwa penanya dan orang-orang yang bersamanya  berdomisili di perbatasan utara Arab berdekatan dengan Iraq. Di sana ada suatu jamaah penganut madzhab Ja’fariyyah, dan sebagian mereka (kelompok penanya) tidak bersedia makan sembelihan jamaah ini, dan sebagian lain bersedia, maka kami bertanya :Mereka bertanya apakah halal bagi kami untuk memakan sembelihan mereka, padahal diketahui mereka berdoa minta tolong kepada Ali, Hasan dan Husain serta seluruh pembesar-pembesar mereka di dalam berbagai kesempatan?

Dewan yang saat itu dipimpin oleh yang mulia Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan Syaikh Abdul Razaq Afifi, Syaikh Abdullah bin Ghudayan, dan Syaikh Abdullah bin Qu’uud, semoga Allah memberikan pahala kepada mereka semua.

Jawabannya : Segala puji hanya bagi Allah semata, dan shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada rasul-Nya dan keluarga beliau serta sahabat-sahabatnya, wa ba’du :

Jika permasalahannya seperti yang disebutkan oleh penanya, bahwa kelompok Ja’fariyyah yang ada di sekitarnya berdo’a kepada Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husain serta para pembesar mereka, maka mereka itu tergolong tergolong orang-orang musyrik, telah keluar dari agama Islam, semoga Allah melindungi kita, tidak boleh makan hewan sembelihan mereka, karena itu adalah bangkai, meskipun saat menyembelih mereka menyebut nama Allah.

Maka tidaklah sah sembelihan orang rafidhah, dan tidak halal memakannya, dikarenakan kebanyakan mereka menyekutukan Allah Ta’ala dengan selalu berdo’a kepada Ali bin Abi Thalib baik di waktu sempit maupun di waktu lapang, hingga di Arafah dan saat tawaf dan sa’i, mereka juga bermohon kepada anak-anak beliau serta imam-imam mereka seperti yang sering kita dengar. Sungguh ini adalah syirik akbar dan perbuatan murtad bahkan mereka berhak dibunuh atas pebuatan mereka.

Sebagaimana mereka juga berlebih-lebihan dalam memuji Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, sampai mereka mensifati beliau dengan sifat-sifat yang hanya layak dimiliki Allah Ta’ala, seperti sering kita mendengarnya di Arafah, disebabkan perbuatan ini mereka dianggap murtad dan keluar dari Islam, disebabkan menjadikan Ali  bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai tuhan, pencipta, yang menjalankan roda perputaran alam, mengetahui yang ghaib, yang bisa memberikan kemudaratan dan manfaat maupun marahabaya dan kesyirikan lain yang sejenis ini.

Mereka juga mencela Al Quran dan menuduh bahwa para sahabat telah merubah dan menghilangkan ayat-ayat yang banyak berkenaan dengan Ahlu Bait dan musuh-musuh mereka, mereka tidak bersedia mengikutinya  (Al Quran) dan tidak mau menjadikannya sebagai dalil. Disampign itu mereka mencaci para tokoh sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti ketiga Khulafaur Rasyidin, dan sahabat lain yang mereka tergolong sepuluh sahabat yang dijanjikan oleh Allah Ta’ala dengan surga. Para umul mukminin (istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan para sahabat yang masyhur, seperti Anas, Jabir, Abu Hurairah dan yang lainnya radhiyallahu ‘anhum.

Mereka juga tidak menerima hadits-hadits para sahabat tersebut, karena telah dianggap kafir. Hadits-hadits riwayat Bukhari  dan Muslim juga tidak mereka amalkan kecuali riwayat yang berasal dari Ahlu Bait. Mereka juga berpegang dengan hadits-hadits palsu dan mengutarakan pendapat mereka tanpa berdasarkan suatu dalil.

Ditambah lagi dengan kemunafikan mereka, mengatakan sesuatu dengan lisannya yang berbeda dengan apa yang ada pada hatinya. Apa yang ada dalam hati mereka disembunyikan dengan semboya : Siapa yang tidak melakukan taqiyyah maka tidak ada agama baginya. Maka jangan sampau menerima pengakuan sikap persaudaraan  dan cinta mereka dengan dasar agama…

Kemunafikan adalah agama mereka. Semoga Allah menjaga kita dari keburukan mereka.

Shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, dan keluarga beliau serta para sahabatnya.

 

Baca Juga

AQIDAH SYIAH RAFIDHAH TENTANG TAQIYYAH

Pada artikel berikut ini kita akan membahas aqidah rafidhah tentang taqiyyah. Yang sebelumnya telah diawali …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *