Beranda / Ilmu / NIYAHAH, DOSA BESAR HINGGA MENGUNDANG SYETAN

NIYAHAH, DOSA BESAR HINGGA MENGUNDANG SYETAN

niyahah

 

 

Bahaya… Niyahah bisa mengundang setan!!

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha bertutur: “Ketika Abu Salamah meninggal, aku berkata, “Dia orang asing dan berada di negeri asing (Maknanya, kata al-Imam an-Nawawi rahimahullah, Abu Salamah ini penduduk Makkah dan ia meninggal di Madinah berarti ia orang asing yang meninggal di negeri asing. (Syarhu Shahih Muslim, 6/224)). Sungguh-sungguh aku akan menangisinya dengan satu tangisan yang akan diperbincangkan. Maka aku pun telah bersiap-siap untuk menangisinya. Tiba-tiba datang seorang wanita dari ‘Awali Madinah, ia ingin membantuku untuk menangisi Abu Salamah. Lalu datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,

أَتُرِيْدِيْنَ أَنْ تُدْخِلِي الشَّيْطَانَ بَيْتًا أَخْرَجَهُ اللهُ مِنْهُ؟

“Apakah engkau ingin memasukkan setan ke rumah yang Allah telah mengeluarkan setan itu darinya?” Beliau ucapkan hal itu dua kali. Aku menahan diri dari menangis hingga aku pun tidak menangis. (HR . Muslim no. 922)

Banyak kita saksikan di masyarakat kita, ketika musibah kematian menimpa suatu keluarga, anggota keluarga yang ditinggalkan meratapinya, khususnya kalangan wanitanya ataupun orang-orang yang dekat dengan si mayit.  Mereka menangis meraung-raung, berteriak-teriak menyebutkan kebaikan orang yang meninggal tersebut, merobek baju,  memukul-mukul pipi, dan perbuatan semisalnya. Hal ini dalam rangka menunjukkan kesedihan atas kematian atau musibah yang menimpa mereka. Meratapi mayit dengan menangis meraung-raung inilah yang dikenal dengan istilah Niyahah.

Jadi Niyahah artinya ratapan yang dilakukan oleh laki-laki dan wanita, akan tetapi hal ini banyak dilakukan oleh wanita ketika mendapat musibah terutama musibah kematian.

Nah dengan demikian bagaimana hukum Niyahah dalam Islam ?

Ulama sepakat (Ijma’ ulama) bahwa niyahah haram hukumnya (Syarhu Muslim 6/236) bahkan termasuk dosa besar, karena datang dalil yang berisi ancaman di akhirat berupa azab bagi pelakunya (al-Kaba’ir, al-Imam Adz-Dzahabi, hlm. 10).

Bahayanya Niyahah hingga dosa niyahah ini tidak akan diampuni kecuali dengan bertaubat. Adapun kebaikan-kebaikan yang dilakukan pelakunya tidak dapat menghapuskan dosa niyahah, karena niyahah termasuk dosa besar. Sementara dosa besar hanya dihapuskan dengan taubatnya si pelaku.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرْبَعٌ مِنْ أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُوْنَهُنَّ، الْفَخْرُ فِي اْلأَحْسَابِ، وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ، وَاْلاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُوْمِ، وَالنِّيَاحَةُوَقَالَ:النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

Ada empat hal dari umatku yang termasuk perkara jahiliah yang mereka tidak meninggalkannya, yaitu berbangga-bangga dengan kebanggaan keluarga, mencela nasab, minta hujan kepada bintang-bintang dan niyahah.” Dan beliau menyatakan, “Wanita yang melakukan niyahah apabila tidak bertaubat sebelum meninggalnya, maka kelak di hari kiamat dia akan diberdirikan dengan memakai pakaian panjang dari cairan tembaga* dan pakaian dari kudis.” (HR . Muslim no. 934)

*Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menafsirkan dengan tembaga yang meleleh.

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyatakan bahwa wanita yang berbuat niyahah mendapatkan azab demikian karena ia memerintahkan untuk berkeluh kesah dan melarang dari kesabaran. Sementara Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk bersabar dan mengharap pahala serta melarang dari keluh kesah dan murka ketika datang musibah. (al-Kaba’ir, hlm. 203)

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُوْدَ وَشَقَّ الْجُيُوْبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

“Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi (karena meratap ketika ditimpa musibah), merobek kantung dan menyeru dengan seruan jahiliah.” (HR . al-Bukhari no. 1294 dan Muslim no. 103)

Yang dimaksud dengan “menyeru dengan seruan jahiliah” adalah melakukan niyahah, menyebut-nyebut kebaikan si mayat dan mendoakan kecelakaan menimpa diri. Demikian kata al-Imam an-Nawawi rahimahullah menukil dari al-Qadhi ‘Iyadh. (Syarhu Shahih Muslim, 2/110)

‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengabarkan: “Tatkala datang berita kematian Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk dan tampak kesedihan pada diri beliau. Aku melihat hal itu dari celah pintu. Lalu datanglah seseorang menemui beliau dengan membawa kabar, “Wahai Rasulullah, istri dan kerabat wanita Ja’far meratap,” katanya sembari menceritakan bagaimana tangisan mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan orang itu agar melarang mereka dari berbuat demikian. Orang itu pun pergi untuk menunaikan perintah tersebut.

Namun kemudian orang itu kembali lagi dengan berkata : “Demi Allah, sungguh kami tidak mampu mendiamkan mereka.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

فَاحْثُ فِي أَفْوَاهِهِنَّ التُّرَابَ

“Taburkan pasir di mulut-mulut mereka.” (HR. al-Bukhari no. 1305 dan Muslim no. 935)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah membawakan ucapan al-Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam syarahnya terhadap hadits di atas :

“(Perintah ini) menunjukkan para wanita itu menangis dengan suara keras, maka ketika mereka tidak berhenti dari perbuatan demikian, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar menyumpal mulut-mulut mereka dengan pasir. Dikhususkan mulut dalam hal ini karena dari mulutlah keluar ratapan tersebut, beda halnya dengan mata misalnya.”

Karena haramnya perbuatan niyahah ini maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membai’at para wanita shahabiyah agar tidak melakukannya sebagaimana diceritakan Ummu ‘Athiyyah radhiallahu ‘anha. Ia berkata,

لاَ أَخَذَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ عِنْدَ الْبَيْعَةِ أَنْ نَنُوْحَ فَمَا وَفَّتْ مِنَّا امْرَأَةٌ غَيْرَ خَمْسِ نِسْوَةٍأُمِّ سُلَيْمٍ وَأُمِّ الْعَلاَءِ وَابْنَةِ أَبِي سَبْرَةَ امْرَأَةِ مُعَاذٍوَامْرَأَتَيْنِ، أَوِ ابْنَةِ أَبِي سَبْرَةَ وَامْرَأَةِ مُعَاذٍ وَامْرَأَةٍ أُخْرَى

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil perjanjian dari kami (para wanita) ketika membai’at agar kami tidak melakukan niyahah. Tidak ada seorang wanita pun yang berbai’at ketika itu yang memenuhinya kecuali lima orang yaitu Ummu Sulaim, Ummul ‘Ala’, putri Abu Sabrah istri Mu’adz dan dua wanita lainnya, atau putri Abu Sabrah, istri Mu’adz dan seorang wanita yang lain (HR . al-Bukhari no. 1306 dan Muslim no. 936)

Abu Musa radhiallahu ‘anhu pernah menderita sakit yang parah hingga ia pingsan dan kepalanya berada di pangkuan salah seorang wanita dari kalangan keluarganya. Maka menjeritlah wanita tersebut, sementara Abu Musa radhiallahu ‘anhu tidak mampu mengucapkan satu katapun kepada si wanita. Tatkala Abu Musa radhiallahu ‘anhu siuman ia berkata,

أَنَا بَرِيءٌ مِمَّنْ بَرِئَ مِنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَرِئَ مِنْ الصَّالِقَةِ وَالْحَالِقَةِ وَالشَّاقَّةِ

“Aku berlepas diri terhadap apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri darinya. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari orang yang mengangkat suaranya ketika tertimpa musibah dan orang yang mencukur rambutnya dan orang yang merobek bajunya” (HR . al- Bukhari no. 1296 dan Muslim no. 104)

 

Ternyata Niyahah termasuk amalan kekufuran!!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggolongkan Niyahah ke dalam perbuatan jahiliah dalam sabdanya,

أَرْبَعٌ مِنْ أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُوْنَهُنَّ، الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُوْمِ وَالنِّيَاحَةُ

“Ada empat hal dari umatku yang termasuk perkara jahiliah yang mereka tidak meninggalkannya, yaitu berbangga-bangga dengan kebanggaan keluarga, mencela nasab, minta hujan kepada bintang-bintang, dan niyahah.” (HR. Muslim no. 934)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyatakan,

اِثْنَتَانِ فِي النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌالطَّعْنُ فِي النَّسَبِ، وَالنِّيَاحَةِ عَلَى الْمَيِّتِ

“Ada dua perkara pada manusia yang menyebabkan mereka kufur yaitu mencela nasab dan niyahah terhadap orang yang meninggal.” (HR . Muslim no. 67)

Yang dimaksud dengan kufur di sini adalah kufur ashgar yakni kufur yang tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari agama Islam.

 

Dibolehkan menangisi mayit

Hadits Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma yang telah lewat penyebutannya menunjukkan bolehnya menangisi orang yang meninggal. Dan tidak hanya sekali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis seperti itu. Ketika putri beliau, Zainab radhiallahu ‘anha meninggal, beliau menangis di dekat kuburannya. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,

        شَهِدْناَ بِنْتَ رَسُوْلِ اللهِ وَرَسُوْلُ اللهِ جَالِسٌ عَلَى الْقَبْرِ، فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَدْمَعَانِ فَقَالَهَلْ فِيْكُمْ مِنْ أَحَدٍ لَمْ يُقارِفِ اللَّيْلَةَ؟ فَقَالَأَبُوْ طَلْحَةَأَنَاقَالَفَأَنْزِلْ فِي قَبْرِهَافَنَزَلَ فِي قَبْرِهَا فَقَبَرَهَا

“Kami menghadiri (pemakaman) putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk dekat kuburannya. Maka aku melihat air mata beliau mengalir. Beliau bersabda : “Adakah salah seorang dari kalian yang tidak menggauli istrinya semalam?” Abu Thalhah radhiallahu ‘anhu berkata, : “Saya”’  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan : “Turunlah ke dalam kuburnya”. Maka Abu Thalhah pun turun ke kuburan Zainab radhiallahu ‘anha dan menguburkannya.” (HR. al-Bukhari no. 1342)

Demikian pula ketika beliau menyampaikan kepada para sahabatnya berita syahidnya Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah radhiallahu ”anhum dalam perang Mu’tah, kedua pelupuk mata beliau basah berlinang air mata. (HR . al-Bukhari no. 1246)

 

Semua ini menunjukkan bolehnya menangisi orang yang meninggal, tapi dengan ketentuan tidak dengan suara keras atau tidak disertai dengan perbuatan jahiliah serta perkataan yang menunjukkan kemarahan dan kemurkaan terhadap apa yang Allah ‘azza wa jalla takdirkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika meninggalnya putra beliau yang masih balita bernama Ibrahim.

إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلاَ نَقُوْلُ إِلاَّ مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيْمُ لَحَمْزُوْنُوْنَ

Sungguh air mata ini mengalir dan hati ini bersedih namun kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai Rabb kami dan sungguh perpisahan denganmu wahai Ibrahim sangatlah menyedihkan kami. (HR . al-Bukhari no. 1303 dan Muslim no. 2315)

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan,

إِنَّ اللهَ لاَ يُعَذِّبُ بِدَمْعِ الْعَيْنِ وَلاَ بِحُزْنِ الْقَلْبِ، وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَاوَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِأَوْ يَرْحَمُ

Sesungguhnya Allah tidak mengazab (seorang hamba) karena tetesan air mata(nya) dan kesedihan hati(nya), akan tetapi Allah mengazab atau merahmati karena ini –beliau mengisyaratkan ke lidahnya. (HR . al-Bukhari no. 1304 dan Muslim no. 924)

Menangis yang dibolehkan adalah menangis yang didorong oleh tabiat (secara wajar tidak dibuat-buat) bukan karena murka terhadap ketetapan takdir Allah ‘azza wa jalla.

Tangisan seperti ini tidaklah dicela bila dilakukan. Seperti yang pernah terjadi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika cucu beliau dalam keadaan sakaratul maut, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis karena iba dan kasihan melihat kepayahan anak tersebut ketika menjemput maut. Juga dibolehkan menangis karena  sedih berpisah dengan orang yang dicintai sebagaimana terjadi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika putra beliau yang bernama Ibrahim meninggal. (Syarhu Riyadhish Shalihin, 4/307-308)

 

Baca Juga

menumbuhkan rasa cinta

Indahnya, Saling Memberi Dapat Menumbuhkan Rasa Cinta

Jendelainfo.com – Islam telah mengatur semuanya. Bahkan mengatur bagaimana menumbuhkan rasa cinta terhadap saudaranya. Rasulullah shallallahu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *