Beranda / Fokus Komunisme / PATUT DICURIGAI YANG BILANG TIDAK ADA PKI, MUNGKIN DIA YANG KOMUNISME

PATUT DICURIGAI YANG BILANG TIDAK ADA PKI, MUNGKIN DIA YANG KOMUNISME

Jendelainfo.com – Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas menganggap bahwa ideologi komunis tidak membahayakan bagi negara, dibandingkan kelompok radikal yang mengatasnamakan agama. Kata dia lagi, ancaman serius bagi negara kini adalah munculnya kelompok ekstrimis dengan menyebarkan ideologinya secara masif yang ingin mengubah dasar negara.

“Lihat saja peristiwa bom di Kampung Melayu, terus ada bom meledak yang baru dirakit di Bandung. Apakah kita ini enggak khawatir? Itu jelas ancaman di depan mata, daripada ancaman yang sering kali digembor – gembor kelompok mereka, (menyebut) PKI… PKI,” kata Yaqut di Kantor Kementerian Politik, Hukum dan Keamanan, Jakarta, Selasa 18 Juli 2017.

Pernyataan yang sekilas terdengar benar dari satu sisi tetapi salah dari sisi yang lain. Pernyataan itu justru menghilangkan bahaya yang seharusnya sama-sama kita waspadai. Baik ekstrim kanan (dari ormas agamis yang cenderung mengkafirkan pemerintah) dan ekstrim kiri dari kalangan komunis keduanya sama-sama gerakan radikal yang patut diwaspadai.

Merupakan suatu kekeliruan jika hanya menuduh gerakan radikal agama saja yang dianggap berbahaya. Sedangkan, di saat yang sama meniadakan bahaya dari gerakan komunis. Fakta atas kejadian di lapangan terkait pergerakan kaum kiri sangat jelas dan gamblang. Pernyataan tersebut dapat membawa kepada penggiringan opini dan memuluskan proses bangkitnya gerakan kiri ini.

Fakta beberapa peristiwa menggeliatnya pergerakan kaum komunis dapat dengan mudah kita temukan. Diantaranya mereka sudah mengadakan kongres, sebut saja Juni 2010, pertemuan anak PKI dari berbagai kota. Pertemuan itu turut dihadiri oleh anggota DPR RI dari Fraksi PDI-Perjuangan, Rieke Dyah Pitaloka di Banyuwangi, Jawa Timur.

Dan bukan rahasia lagi ketika kader PDIP Ribka Tjiptaning menulis buku kiri ‘Aku Bangga Jadi Anak PKI’. Sebagai anggota DPR dari PDIP, menjadikan kegiatan penyebaran buku hasil karya tulisannya itu melenggang bebas dan menjadi umum dijual di toko-toko buku di Indonesia.

Kongres-kongres lainnya beberapa kali muncul dan hasilnya mereka mengajukan usulan agar pemerintah minta maaf terhadap gerakan 65 juga merupakan tes uji coba sejauh mana sensitivitas Bangsa ini dalam menyikapi kemunculannya.

Dan masih banyak lagi seabreg data lapangan yang membuktikan mulai menggeliatnya ideologi komunis tersebut dari tidur dan sembunyi mereka.

Yaqut juga mengatakan, “Apakah bisa PKI berdiri sendiri. Negara – negara komunis sekarang sudah bangkrut, Soviet bangkrut, China juga sudah jadi negara Kapitalis, Korea Utara juga sebentar lagi bangkrut. Mau bersandar di mana lagi, tidak ada kekuatan apa pun yg memungkinkan PKI balik lagi.”

Ucapan ini juga bukanlah alasan yang tepat bahwa mereka tidak akan bangkit, justru harus tetap diwaspadai, karena mereka sangat mungkin sedang menyusun kekuatan dengan berbagai cara baik secara politik maupun ekonomi untuk bangkit kembali di muka bumi ini.

Cina, sebagai negara penganut komunis dari dulu dan bertahan hingga sekarang. Walaupun menjadi kapitalis, tetapi tetap saja kapitalis komunis dan saat ini menjadi negara yang mulai diakui dunia, karena memiliki kemajuan tekhnologi dan kekuatan militer yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Justru dengan berbagai gejala perkembangan ekonomi negara adi daya dari Amerika yang mulai melemah dan Eropa yang mulai terkotak-kotak, menjadi celah komunisme yang dimotori Cina semakin bersyahwat untuk menggantikan posisi negara super power berikutnya.

Pernyataan Yaqut Cholil bahwa ideologi komunisme sudah tidak membahayakan bagi negara merupakan pernyataan yang serampangan, bahkan hampir terkesan ‘kamuflase’ (baik sengaja atau tidak sengaja) yang akan menutupi bangkitnya ideologi tersebut. Mengapa demikian?

Lihatlah ucapan MenHan Ryamizard yang justru sudah menyatakan jauh-jauh hari sebelum munculnya pernyataan Ketum GP Ansor ini, bahwa ideologi komunis ini harus diwaspadai karena gejala kebangkitannya sudah mulai terlihat, beliau katakan: “Dulu sering sekali kita dengar bahaya laten ditertawakan, nggak ada itu bahaya laten, kemudian komunis sudah tidak ada lagi, tapi disebut-sebut sekarang muncul.”

Bahkan lanjutnya lagi dengan tanpa ragu, “Jadi, kita patut curigai itu yang bilang nggak ada (PKI), mungkin dia yang komunisme,” tegas Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu ketika menggelar acara pertemuan dengan persatuan purnawirawan TNI AD serta Organisasi Masyarakat anti-Partai Komunis Indonesia (PKI) di Balai Kartini, Jakarta (13/5/2016).

Pernyataan dari Menhan Ryamizard telah tegas menohok bagi yang meragukan akan mulai eksisnya gerakan komunis ini, patut dicurigai yang bilang tidak ada PKI.

Menyatakan bahwa gerakan radikal hanya muncul dari gerakan ekstrimis agamis saja, jelas keliru besar. Karena gerakan berideologi kiri dari kalangan komunis ini jelas juga merupakan gerakan radikal, bahkan termasuk gerakan teroris yang telah menteror dan merongrong keutuhan NKRI ini.

Sehingga perlu disadari oleh semua pihak, bahwa gerakan komunis juga merupakan gerakan radikal dan teroris. Fakta sejarah PKI di negeri ini maupun komunisme international merupakan fakta nyata membuktikan bahwa komunisme adalah radikal dan teroris.

Dan di Indonesia sudah jelas dari sejarah masa lalu yang telah mereka lakukan ketika berusaha menguasai negara ini dengan mengganti ideologinya menjadi komunis, dengan cara kudeta berdarah dan teror terhadap para ulama dan rakyat Indonesia.

Sedangkan gerakan Islam yang dilihat Yaqut adalah gerakan Islam yang berfaham ekstrim dari kalangan yang melihat pemerintah sekarang sebagai ‘thogut’ istilah mereka.

Kita harus akui itu sebagai gerakan yang berbahaya yang harus diwaspadai juga karena mereka merupakan golongan yang salah asuhan dari para teroris yang mengambil pemahaman agama secara keliru dan memang sudah diprediksi kemunculannya sejak jaman Islam mulai bertumbuh. Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa salam menyebut mereka sebagai kaum khowarij yang mudah mengkafirkan kaum muslimin dan penguasanya. Sehingga kita memang harus menjauh dari paham tersebut. Bahkan jika memungkinkan maka kita memerangi mereka.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ :

“لئن ادركتهم لأقتلنهم قتل عاد” رواه مسلم عن علي بن أبي طالب

“Jika aku mendapati mereka (Khawarij), benar-benar aku akan perangi mereka seperti memerangi kaum ‘Aad.” (HR Muslim dari Ali bin Abi Thalib)
Oleh karena itu Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib dulu memerangi kelompok pemberontak khawarij ini.

Tetapi bukan kaum muslimin yang berusaha dengan baik menjalankan agamanya yang benar. Karena seorang alim ulama mengatakan bahwa orang yang memiliki pemahaman yang baik terhadap agama justru dari mereka muncul kecintaan dan rasa ingin menjaga dan membela negaranya karena dari pemahaman agama yang benarlah yang mendorong mereka untuk melindungi tanah airnya yang muslim, menjaga aset dan kekayaannya, serta menghalangi bagi siapa saja yang menginginkan keburukan dan makar jahat terhadapnya.

Jadi kesimpulannya ideologi komunis ini juga harus selalu diwaspadai dan jangan dianggap remeh, karena merupakan gerakan teroris radikal yang merongrong keutuhan NKRI juga.

Mari berbagai elemen masyarakat untuk sadar dan berani menjauhi bangkitnya kaum ekstrimis radikal kiri dan kanan ini. Justru menangkal bangkitnya ideologi-ideologi radikal ini tidak ada jalan lain kecuali dengan menanamkan keyakinan agama yang benar dan kuat pada generasi bangsa ini.

Baca Juga

Presiden: PKI Kalau Nongol Gebuk Saja

Jendelainfo.com – Ditengah berbagai isu miring yang dialamatkan kepada Pemerintah, secara tegas Presiden Joko Widodo …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *