Beranda / Fokus / PELAJARAN DARI DEMONSTRASI DI IRAN

PELAJARAN DARI DEMONSTRASI DI IRAN

Demonstrasi antipemerintah telah pecah di Iran. Demontrasi ini terjadi hampir pada semua kota di Iran. Demonstrasi ini dimulai dari  kota Masyhad di wilayah utara, Kamis (28/12/2017), hingga  menyebar ke beberapa kota besar di Iran pada keesokan harinya.

Pemicu Demontrasi Iran

Awalnya demonstrasi ini adalah untuk menolak kenaikan harga barang bahan pokok. Masyarakat tidak puas dengan kondisi perekonomian, pengangguran dan inflasi di dalam negeri. Namun pada satu sisi, Iran mengeluarkan uang dalam jumlah besar dengan terlibat dalam perang di Suriah dan Yaman serta sibuk melakukan intervensi kepada negara-negara lain. Sehingga sebagian warga Iran meminta pemerintah menggunakan dana itu untuk mengurus rakyatnya sendiri, bukan untuk membiayai konflik di kawasan Timur Tengah.

“Ekonomi di sini semakin memburuk, salah satunya karena ada rencana untuk menaikan harga bahan bakar di Iran. Selain itu, sebagian warga tidak puas karena tidak semua warga menerima subsidi yang seharusnya diberikan oleh pemerintah,” papar Asep Nasrullah, ketua Ikatan Pelajar Indonesia di Iran.

Tuntutan para pendemo semakin berkembang. Pendemo meneriakkan slogan menentang Presiden Hassan Rouhani dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, serta peraturan keagamaan pada umumnya.

Para demonstran dilaporkan meneriakkan slogan-slogan seperti “Rakyat mengemis, ulama bertindak seperti Tuhan”.

Mereka juga mengungkapkan kemarahan atas intervensi Iran di luar negeri. Di Kota Masyhad, beberapa orang meneriakkan “bukan Gaza, bukan Lebanon, hidupku untuk Iran”, sebagai referensi bahwa yang menjadi fokus pemerintah adalah sibuk dengan isu-isu luar negeri bukannya masalah domestik. Telah diketahui dunia bahwa Iran adalah pendukung  dan dalang dari Terorisme Internasional.

Baca : IRAN DALANG DARI TERORISME DUNIA

Demonstran lain meneriakkan “tinggalkan Suriah, pikirkan kami” dalam beberapa video yang diunggah di internet. Iran adalah pendukung militer utama bagi pemerintah Bashar al-Assad di Suriah. Secara keseluruhan, jumlah pendemo berkisar antara ratusan orang di tempat tertentu dan ribuan orang di tempat lainnya.

Baca : Rezim Syiah Bashar Assad Kembali Melakukan Pembantaian Dengan Gas Beracun

Sebelumnya perlu dikatehui bahwa Iran melakukan hal tersebut berdasarkan keyakinan Wilayatul Faqih.

Revolusi 1979 di Iran yang dipimpin oleh Khumaini menjadi tonggak awal berdirinya negara Iran baru yang menjalankan dan mendoktrin rakyatnya dengan gerakan revolusi takfiri Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah Khumainiyah. Hal ini dilakukan dengan ambisi untuk menumbangkan pemerintah muslimin dimanapun berada dengan memunculkan keyakinan Wilayatul Faqih.

Untuk mewujudkan hal ini, mereka mendoktrin bahwa sosok suci Wali Faqih Khumaini sebagai pemegang amanah wilayah “ILAHIYAH” di muka bumi sebelum munculnya Imam Mahdi Syiah di sebuah goa.

Hal ini dijadikan dasar oleh Iran untuk membiayai, melatih dan mempersenjatai berbagai milisi dan kelompok teror di berbagai belahan dunia demi mewujudkan Revolusi Khomeini dan mengibarkan bendera Syiah Iran.

Rakyat didoktrin dengan Revolusi suci, diajari dan dilatih dengan kekerasan dan kebrutalan radikalisme sejak kanak-kanak sekalipun. Setelah itu merekapun dikirim ke medan perang yang telah diciptakan oleh Iran dan para sekutunya.

Perang Irak-Iran, Suriah, Lebanon serta di Yaman menjadi saksi dengan dipulangkannya para tentara yang telah didoktrin tersebut dalam keadaan tak bernyawa demi ambisi Wali Faqih.

Hari ini, rakyat Iran sudah mulai bosan dengan aqidah ini….

Kini tokoh tertinggi Syiah Khomeiniyah itupun akhirnya tak lagi ditakuti… Hingga yel-yel MATILAH KHAMANEI pun dikumandangkan mengiringi kemarahan rakyat Iran ketika menumbangkan baliho raksasa bergambar wajah Khamanei kemudian menginjak-injaknya di aspal jalanan.

Api Revolusi Khomeini yang radikal dan ekstrem yang selama ini dibakar dan didoktrinkan kepada rakyatnya telah berbalik arah sebagai senjata makan tuan.

Nasihat

Nasihat

Pembaca Jendelainfo yang semoga dirahmati Allah, demonstrasi, baik demo damai maupun tidak damai padanya terdapat kerusakan dan merusak. Maka itu semua TIDAK BOLEH di dalam Islam. Dalil Syar’i menunjukkan bahwa demonstrasi bukanlah termasuk permasalahan ijtihadiyyah. Bahkan demonstrasi tidak boleh dinisbahkan kepada Islam dalam kondisi apapun. Karena itu jelas-jelas berbenturan dengan bimbingan/arahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. 

Ketahuilah bahwa aksi turun ke jalan dan meneriakkan seruan-seruan bukan cara untuk melakukan perbaikan dan maupun dakwah. Ini merupakan cara yang jelek dan kasar  serta di antara sarana paling berbahaya yang menyebabkan ditolaknya kebenaran, atau tersebarnya keresahan, kezhaliman, permusuhan, dan kekacauan. Islam telah mengajarkan cara yang benar dalam menasihati pemerintah yaitu melakukan kunjungan dan mengirim surat dengan cara yang terbaik. Bukan dengan cara kasar seperti demontrasi. Mereka (para pendemo itu) menginginkan kebaikan dengan cara tersebut, namun mereka mendapatkan sebaliknya.

 

Kejadian-kejadian saat Demonstrasi Iran

Sebagian besar informasi tentang apa yang sedang terjadi di Iran bertebaran di media sosial, sehingga sulit untuk mengkonfirmasinya.

  1. Di kota Abhar, di wilayah utara Iran, para pengunjukrasa membakar spanduk besar yang memuat foto Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
  2. di kota Arak, Iran bagian tengah, para pemrotes dilaporkan telah membakar markas kelompok milisi Basij yang pro pemerintah.
  3. Di ibukota Iran, Teheran, sejumlah besar pemrotes berkumpul di alun-alun Azadi, seperti dilaporkan BBC Persia.
  4. Di kota Masyhad, para pemrotes membakar sepeda motor milik polisi saat terjadi bentrokan seperti yang terekam dalam video.
  5. Di Kermanshah, di wilayah barat Iran, seorang demonstran bernama Makan mengatakan kepada BBC Persia bahwa pengunjukrasa dipukuli, “tapi kami tidak tahu apakah itu polisi atau milisi Basij”.
  6. Sebelumnya, pemrotes di Universitas Teheran menuntut agar Ayatollah Khamenei untuk turun dari kursi kekuasaan dan sempat terjadi bentrokan dengan aparat polisi.
  7. Hingga 6 januri 2017 oposisi Iran mengumumkan bahwa 50 pendemo telah dibunuh oleh pasukan keamanan saat demonstrasi anti rezim berlanjut untuk hari kesembilan di negara tersebut. Selain itu sebanyak 3.000 lainnya telah ditangkap.
  8. Aktivis mengatakan bahwa bentrokan meletus antara demonstran dan pasukan keamanan di kota Kashan.
  9. Video yang diposkan di media sosial menunjukkan 50.000 pemrotes di sebuah stadion di Tabriz melantunkan penindasan pihak berwenang terhadap para demonstran seperti dikutip Asharq al-Awsa
  10. Di Iran tengah, sembilan orang terbunuh di Provinsi Isfahan — enam di antaranya tewas usai menyerang sebuah kantor polisi di Qahderijan.
  11. Empat masjid dibakar di Savad Kuh.
  12. Di Najafabad, demonstran menembaki polisi, membunuh satu dan melukai tiga lainnya. Sementara itu, dua pemrotes ditembak mati di Izeh di barat daya Iran.
  13. Di negara bagian barat, tiga orang terbunuh di provinsi Hamadan. Di Kermanshah, massa aksi dilaporkan membakar pos lalu lintas.

Masih banyak kejadian-kejadian lainnya yang menjadi akibat dari demontrasi Iran.

Bagaimana tanggapan Pemerintah Iran ? 

Sikap Pemerintah Iran terhadap aksi ini adalah mencari-cari kambing hitam. Pemerintah Iran menuduh kelompok anti-revolusioner dan agen-agen kekuatan asing yang dianggap menyebarkan virus anti pemerintah.

Wakil Presiden Iran, Eshaq Jahangiri menuduh kelompok anti pemerintah berada di balik unjuk rasa, demikian dilaporkan lembaga siaran pemerintah Iran, IRIB.

Dia mengatakan: “Sejumlah insiden di negara ini sepertinya berlatar masalah ekonomi, tapi nampaknya ada maksud lain di belakangnya. Mereka berpikir dengan melakukan ini, akan membuat pemerintah tersakiti. Tapi sebetulnya ada pihak lain yang menungganginya.”

Mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahamdinejad, ditangkap oleh pihak berwenang karena diduga menghasut demonstrasi anti pemerintah pimpinan Hassan Rouhani. Begitu laporan al-Quds al-Arabi yang berbasis di Inggris.

Pekan lalu, jaksa agung Iran menyalahkan Amerika Serikat, Israel dan Arab Saudi atas apa yang pemerintah anggap sebagai hasutan dari luar terhadap gerakan anti-pemerintah. New York Times melaporkan bahwa Ahmadinejad termasuk di antara mereka yang dipandang pemerintah sebagai pembangkang melawan kepemimpinan Rouhani.

“Pemerintah Iran sebagian besar mengandalkan perlambatan layanan internet dan telepon seluler untuk menghentikan demonstrasi tersebut.

Baca Juga

Lauh Fatimah

Syiah Mengklaim LAUH FATIMAH Adalah Wahyu

Syiah Rafidhoh banyak mengklaim atau membuat-buat seseuatu yang diada-adakan. Begitu juga dengan yang mereka klaim …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *