Beranda / Bimbingan Islam / Pembelaan Terhadap Syariat Hijab/Cadar

Pembelaan Terhadap Syariat Hijab/Cadar

Jendi – Akhir-akhir ini, semakin marak fenomena menghujat syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menganggap syariat Islam sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Mereka mendengungkan slogan-slogan, jargon-jargon atau yel-yel yang mengatasnamakan Hak Asasi Manusia, Kesetaraan Gender, Keterbukaan, Modernisasi, dan berbagai istilah lainnya. Sesuatu yang tidak lain tujuannya semata-mata hanyalah berusaha menjauhkan umat Islam dari agamanya. Allah telah berfirman:

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120)

Fenomena tersebut disadari ataupun tidak, merupakan kepanjangan tangan dari konspirasi musuh-musuh Islam untuk memadamkan  agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kita ambil satu contoh yaitu syariat hijab/cadar yang beberapa waktu belakangan ini dihujat dan dipermasalahkan. Sejatinya mereka mempermasalahkan syariat Islam yang merupakan cahaya Allah Ta’ala. Dengan ini mereka berupaya memadamkan cahaya tersebut.

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (Ash-Shaf : 8)

 

Terdapat tiga jenis manusia yang selalu menghujat syariat hijab/cadar yang mereka tidak ingin mengerti tentang syariat hijab/cadar. Di antaranya :

Yang pertama adalah orang-orang kafir yang menginginkan kehancuran bagi kaum muslimat agar mereka bisa bergaul bebas dan mengikuti syahwat mereka.

 Yang kedua adalah orang-orang muslim yang membeo kepada dunia Barat. Mereka dengan berani mengklaim diri mereka sebagai cendekiawan-cendekiawan Islam.  Padahal sejatinya mereka ini adalah kaum Liberal yang merupakan para pemuja akal. Hal jenis ini lebih berbahaya dari jenis pertama, karena mereka merusak Islam dari dalam.

Kemudian yang ketiga yaitu kaum muslimin yang jahil, yang berpendapat di atas kebodohan dalam perkara agama. Mereka ada yang benar-benar tidak tahu dan ada yang hanya sedikit sekali pengetahuan mereka tentang agama. Sehingga mereka pun mudah diombang ambing arus fitnah yang berkembang sampai berkata bahwasanya hijab/cadar merupakan syariat yang tidak manusiawi. Na’udzubillahi min dzalik.

Suara sumbang dari tiga jenis manusia tersebut terus disebarkan, terus digodok dan menjadi viral di media sosial, padahal hukumnya sudah dijelaskan oleh para ulama dari generasi terdahulu umat ini. Bahkan perkaranya gamblang bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mensyariatkan hijab baik di dalam Alquran maupun melalui lisan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengingat kembali, mari kita simak beberapa dalil dari sekian banyak dalil yang menunjukkan di syariatkannya hijab terutama cadar.

  • Dalam surat Al Ahzab Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.” (Al Ahzab : 59)

Ayat ini menegaskan tentang wajibnya perkara hijab/cadar dan diantara bukti bahwa istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semuanya berhijab. Demikianlah sebagian dalil dari dalil-dalil dari Alquran yang menunjukkan disyariatkannya hijab dan cadar.

  • Diriwayatkan oleh Imam Bukhari ketika Aisyah radhiallahu ‘anha tertinggal dari rombongan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah menunggu di tempatnya semula dengan harapan rombongan itu kembali hingga iapun tertidur.

Dalam waktu bersamaan, ada juga seorang sahabat bernama Shafwan bin al-Mu’aththal as-Sulami radhiallahu ‘anhu tertinggal dari pasukannya. Ia tertinggal lantaran tertidur dan tidak diketahui oleh anggota pasukan lainnya.

Maka, ketika ia bergerak mengejar rombongan pasukan, Shafwan radhiallahu ‘anhu melihat sesuatu. Ia dekati. Ternyata, yang ada di hadapannya adalah Aisyah radhiallahu ‘anha.
Shafwan radhiallahu ‘anhu ketika melihat Aisyah radhiallahu ‘anha tertidur kemudian shafwan beristirja: “Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun” Maka Aisyah radhiallahu ‘anha pun terbangun ketika mendengar istirja’ nya lalu beliau menutupkan jilbab ke wajahnya…

Potongan kisah ini menunjukkan bahwasanya para istri Rasulullah shalallahu wa sallam berhijab/cadar.

Sesungguhnya istri-istri dan putri-putri para sahabat pun berhijab.

  • Dalam surat yang sama Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ۚ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ

“Apabila kalian ada keperluan (ingin bertanya/ ingin meminta sesuatu) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang hijab/ tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Al Ahzab: 53)

Ini perintah yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk hijab.

Ketika mereka para penentang hijab berdalih bahwa ayat ini aku khusus untuk istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, bukan untuk seluruh kaum muslimat secara umum, maka pernyataan ini telah dibantah dari dua sisi :

  1. Yang pertama : Yang menjadi patokan itu keumuman lafadz-nya bukan kekhususan sebabnya. Ketika hal ini hukumnya wajib bagi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka wajib bagi kaum muslimat.
  2. Kemudian sisi yang kedua : Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan:

ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Al Ahzab: 53)

Sudah diketahui bersama bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wanita-wanita yang suci bahkan mereka diharamkan untuk menikah setelah menikah dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Namun mereka diminta untuk menggunakan hijab agar menambah kesucian tersebut .

Mereka yang suci saja diperintahkan untuk menggunakan hijab, apalagi orang selain mereka yaitu kaum muslimat pada umumnya yang tidak ada tazkiyah (rekomendasi) dari Allah sedikitpun terhadap kesucian mereka. Maka lebih pantas dan lebih utama bagi mereka untuk menutupi tubuh-tubuh mereka karena ini merupakan bentuk meminta kesucian.

  • Hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam :
    Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة

“Barang siapa yang menjulurkan pakaiannya dalam keadaan sombong maka Allah Subhanahu wata’ala tidak akan melihat kepadanya di hari kiamat.”

Ketika turun ayat ini, maka sebagian kaum mukminat menyangka perintah ini berlaku umum, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Sehingga Ummu Salamah pun bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam :

فَكَيْفَ تَصْنَعُ النِّسَاءُ بِذُيُوْلِهِنَّ؟ قَالَ: يُرْخِيْنَهُ شِبْرًا. قَالَتْ: إِذًا تَنْكَشِفُ أَقْدَامُهُنَّ. قَالَ: يُرْخِ ذِرَاعًا وَلاَ يَزِدْنَ

Lantas apa yang harus diperbuat oleh kaum wanita terhadap sisa kain dari pakaian mereka?

Bersabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam : “panjangkan satu jengkal.”

Kembali Ummu Salamah berkata : “Jika demikian, masih terlihat telapak kali mereka,”

Maka beliaupun bersabda: “kalau begitu panjangkanlah satu Hasta jangan lebih dari itu.” (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnnu Majah, shahih)

Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwasanya telapak kaki kaum wanita termasuk aurat. Ada yang perlu digarisbawahi di sini. Telapak kaki wanita diperintahkan untuk ditutup padahal fitnahnya tidak seberapa, apalagi wajah yang menjadi sumber keelokan seorang wanita dan kecantikan mereka yang menjadi sumber fitnah bagi laki-laki, maka lebih-lebih lagi harus ditutup berdasarkan dalil-dalil yang ada dari Al Qur’an dan Hadits serta penjelasan para ulama generasi terdahulu.

Jadi, ini merupakan sebagian dalil dari dalil-dalil dari Al Qur’an dan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menunjukkan disyariatkannya hijab dan cadar. Sehingga hijab dan cadar bukanlah budaya namun syariat Islam.

Baca Juga

agama warisan

BAHAYA AGAMA WARISAN NYA AFI NIHAYA FARADISA

BAHAYA AGAMA “WARISAN” NYA AFI NIHAYA FARADISA Agama Warisan – Masih seputar plagiarismenya Afi Nihaya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *