Beranda / Ilmu / PENJELASAN BAI’AT SESUAI AL-QUR’AN DAN HADITS

PENJELASAN BAI’AT SESUAI AL-QUR’AN DAN HADITS

bai'at

Masalah bai’at bukanlah hal yang asing di dunia Islam. Perkara ini cukup ramai dibicarakan. Namun definisi bai’at seringnya simpang siur, sehingga pendapat dalam masalah ini cukup membuat bingung kaum muslimin yang baru memulai mempelajari Islam dengan benar. Sangat disayangkan kebanyakan mereka tatkala membahas masalah yang satu ini tidak merujuk kepada penjelasan para ulama Ahlussunnah.

Banyak yang mengambil hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah bai’at, lalu memahaminya dengan akal pikiran mereka sendiri. Lebih parah jika kemudian disesuaikan dengan kepentingan pribadinya, kelompoknya atau pahamnya, sehingga bai’at menjadi jaring atau tali pengikat para pengikutnya untuk tidak lepas dari kelompoknya. Tak sedikit orang dianggap kafir dan diberlakukan padanya hukum-hukum orang kafir di dunia dan akhirat karena tidak melakukan bai’at kepada mereka.

Lalu bagaimana definisi bai’at yang benar ?

Bagaimana penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah serta keterangan para Ulama tentang masalah bai’at ? Berikut penjelasannya.

Definisi bai’at 

Secara bahasa, Bai’at ( بَيْعَةٌ ) merupakan bentuk mashdar dari ( بَاعَ-يَبِيعُ ), yang maknanya: Berjabat tangan atas terjadinya jual beli atau berjabat tangan untuk berjanji setia dan taat. (Lisanul ‘Arab, 1/195, cet. Daar Shadir)

Dikatakan baaya’a fulanan mubaaya’atan yakni ia telah membuat ikatan jual beli bersamanya serta memegang tangannya sebagai tanda sempurnanya ikatan dan keridhaan.

Secara syariat, Ulama Ahlus Sunnah, Shiddiq Hasan Khan (wafat:1307 H) dalam bukunya ‘Iklil al karamah’ hal:26 mengatakan:

Ketahuilah bahwa bai’at adalah berjanji untuk taat, seolah-olah seorang yang berbai’at berjanji kepada pimpinannya untuk menyerahkan kepadanya urusan dirinya dan urusan kaum muslimin, untuk tidak menentangnya pada masalah apapun dalam urusan itu serta mentaatinya pada apa yang ia bebankan kepadanya dari perintahnya baik dalam keadaan suka atau duka.

Dahulu, jika berbaiat kepada pimpinan dan mengikat janji, mereka meletakkan tangan di atas tangan pimpinannya untuk menekankan janji itu, sehingga dengan itu menyerupai perbuatan penjual bersama pembelinya maka dinamailah dengan Bai’at.

 

Ibnu Khaldun mengatakan :

Bai’at adalah perjanjian untuk taat. Di mana orang yang berbai’at telah berjanji kepada amir (pemimpin)nya untuk menyerahkan pandangannya dalam menentukan urusan dirinya dan kaum muslimin, tidak menyelisihinya dalam hal tersebut, serta menaati apa yang dibebankan kepada dirinya berupa perintah baik di saat semangat maupun terpaksa. (Muqaddimah Ibnu Khaldun, 209)

Hukum bai’at

Allah Ta’ala telah menyinggung masalah bai’at, diantaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (Al Fath: 18)

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللهِ شَيْئًا وَلَا يَسْرِقْنَ وَلَا يَزْنِينَ وَلَا يَقْتُلْنَ أَوْلَادَهُنَّ وَلَا يَأْتِينَ بِبُهْتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَاسْتَغْفِرْ لَهُنَّ اللهَ إِنَّ اللهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Wahai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka serta tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang. (Al Mumtahanah: 12)

Tidak diragukan lagi tentang disyariatkanya berbaia’at. Karena juga dengan banyaknya hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan tentang bai’at. Demikian pula menunjukan bahwa beliau membai’at para sahabatnya dalam beberapa kesempatan. Diantaranya :

  1. Hadits-hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibai’at oleh para sahabatnya, di antaranya hadits Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, ia berkata :

كُنَّا نبُاَيِعُ رَسُولَ اللهِ عَلىَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِيَقُولُ لَنَافِيْمَا اسْتَطَعْتُ

Dahulu kami membai’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengar dan menaati perintah beliau, kemudian beliau katakan kepada kami, ‘(Katakanlah dalam bai’atmu), di dalam perkara yang aku mampu’. (HR. Muslim no. 1867, lihat keterangan an-Nawawi tentang hadits ini)

  1. Ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sekian haditsnya terhadap orang-orang yang tidak mau berbai’at atau yang melepaskan bai’at dari penguasanya.

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan tidak berbai’at (kepada pemimpin/penguasanya -pen.) maka meninggalnya dalam keadaan jahiliah.” (HR. Muslim no. 1851 dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma)

مَنْ فَارَقَ الَجمَاعَة شِربًا فَقَدْ خَلعَ رِبقَة الِإْسْلَامِ مِنْ عُنُقِهِ

“Barangsiapa memisahkan diri dari jamaah (kesatuan kaum muslimin) sejengkal saja, dia telah melepas kalung Islam dari lehernya.” (HR. Abu Dawud dari sahabat Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, Shahih)

Bagaimana penjelasan para ulama dalam masalah ini  ?

Al Qurthubi (Wafat.671 H) dalam tafsirnya (1:272 cet. Darus Sya’b) mengatakan:

Dan jika kepemimpinan telah terwujud…maka wajib bagi rakyat seluruhnya untuk membai’atnya untuk patuh dan ta’at untuk menegakkan kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang tidak berbai’at karena udzur dia diberi udzur/maaf dan barangsiapa yang tanpa udzur maka dia dipaksa (untuk berbai’at), agar kesatuan kaum muslimin tidak terpecah.

Demikianlah syariat bai’at, lantas apa hukuman bagi mereka yang tidak berbaiat?

Penjelasan Hukum Orang yang Tidak Mau Berbai’at atau Mencabut Bai’atnya

Hukum orang yang seperti ini adalah berdosa besar, namun tidak dikafirkan. Adapun sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas “meninggalnya dalam keadaan jahiliah,” maka:

  • Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Maksudnya seperti keadaan matinya orang jahiliah dari sisi mereka itu tercerai-berai tidak punya imam.” (Syarh Shahih Muslim, 12/441)
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Yang dimaksud (mati dalam keaadaan jahiliah) adalah keadaan matinya seperti matinya orang jahiliah, yakni di atas kesesatan tidak punya imam yang ditaati, karena mereka dahulu tidak tahu yang demikian. Yang dimaksud bukanlah ia mati kafir, melainkan mati dalam keadaan maksiat….” (Fathul Bari, 13/7)
  • Al-Imam as-Suyuthi rahimahullah berkata, “Yakni seperti matinya orang-orang jahiliah di atas kesesatan dan perpecahan.” (Zahrurruba Syarah an- Nasa’i juz 7—8/139)
  • Asy-Syaikh As-Sindi berkata, “Yang dimaksud seperti matinya orang-orang jahiliah di atas kesesatan bukan yang dimaksud kekafiran.” (Hasyiyah/ catatan kaki pada an-Nasa’i juz 7—8/139)

Adapun sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya, “Maka dia telah melepas kalung Islam dari lehernya” maka tidak pula berarti kafir:

  • Al-Imam Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “(Maksudnya) ia telah menanggalkan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak berserah diri kepada perintah-Nya, kepada Rasul dan kepada pimpinan. Dan saya tidak mengetahui seseorang diberi hukuman lebih dari hukuman itu… Ini pada orang-orang Islam.” (at-Tamhid karya Ibnu Abdil Bar, 21/283)
  • Al-Imam al-Khaththabi berkata, “(Maksudnya) dia telah tersesat dan binasa, seperti binatang jika dilepaskan dari kalungnya yang terikat padanya, maka binatang tersebut tidak aman dari kebinasaan atau hilang.” (‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, 13/72—73)

Demikian pula yang dijelaskan oleh al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (8/131), al-Munawi dalam Faidhul Qadir (6/11), as-Suyuthi dalam syarahnya terhadap Sunan an-Nasa’i (8/65), tidak ada seorang pun dari mereka yang menggolongkannya ke dalam kekafiran.

Demikianlah cahaya seputar masalah bai’at yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah dengan keterangan para ulama tepercaya. Semoga hal ini menjadi penyejuk bagi pencari kebenaran.

Baca Juga

Ketika Penjahat Narkoba Menyalahgunakan Cadar

Jendelainfo.com – Semakin hari semakin banyak orang yang membuat citra Islam dan atributnya tercitrakan negatif. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *