Beranda / Internasional / Raja Salman, Wahabisme, dan Islam Moderat

Raja Salman, Wahabisme, dan Islam Moderat

Jendelainfo.com – Agama Islam adalah agama yang sempurna. Ajarannya paripurna. Rasulullah telah menggariskan bahwa agama ini dipelajari, dimengerti, dipahami, dan diamalkan berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadits dengan bimbingan dan pemahaman para sahabat nabi yang mulia. Sebuah generasi terbaik umat ini, yang pada jaman mereka ajaran agama Islam diturunkan. ISlam hanya ada satu, tidak ada istilah lain semisal Islam Moderat, Islam Garis Keras, Islam Kiri atau yang lainnya.

Demikianlah agama Islam, kebenarannya tidak diukur berdasarkan pendapat, ucapan, maupun sikap orang per orang. Baik mereka itu tokoh agama, tokoh akademisi, tokoh politik, maupun tokoh negara. Terlebih lagi, jika pendapat, ucapan atau sikap mereka bertentangan dengan aturan syariat Islam, maka itu semua harus ditinggalkan, dan harus tunduk pada dalil Al-Quran dan al-Hadits.

Allah berfirman,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian.” (al-Maidah : 3)

Seorang imam besar umat ini, Imam Syafii rahimahullah pernah mengatakan
إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله -صلى الله عليه وسلم- فقولوا بسنة رسول الله -صلى الله عليه وسلم- ودعوا ما قلته

“Apabila kalian mendapatkan dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi ajaran/bimbingan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka berpeganglah kalian dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tersebut dan tinggalkanlah pendapatku.”

Kunjungan resmi kenegaraan Raja Salman ke Indonesia (1 – 3 Maret 2017), mendapat sambutan luas dari berbagai elemen masyarakat. Tidak kurang tokoh lintas agama pun menyatakan kekaguman mereka terhadap sosok Raja Salman. Suasana hubungan akrab antara Kerajaan Arab Saudi dan Indonesia sangat terasa.

Kenyataan tersebut merupakan bukti nyata bahwa sosok Raja Salman menarik dan membuat kagum banyak pihak. Sekaligus cerminan bahwa pimpinan tertinggi negara Islam itu mendapat tempat khusus di hati rakyat Indonesia.

Ada beberapa pihak yang kemudian berupaya mendapatkan legitimasi atas eksistensi dan kepentingannya dengan Raja Salman. Bahkan pegiat wisata berupaya mendapat peluang mempromosikan wisatanya dengan nebeng nama raja Salman. Sampai muncul berita tak bertanggung jawab dan menodai martabat bangsa Indonesia, bahwa Putri Raja Salman datang ke sebuah Spa besar di Bali dan berdandan tak pantas. Ternyata yang datang seorang pramugari Inggris, bukan putri arab, bukan pula putri Raja Salman.

(Baca : Putri Arab Berdandan Penari Bali? Baca selengkapnya di sini)

Kaum liberal yang selama ini selalu mengkritisi Arab Saudi dan wahabi, pun berupaya mendapat “legitimasi” dari Raja besar dan baik hati ini. Bahwa Raja Salman adalah seorang yang sejalan dengan pihak yang “moderat” bukan bersama pihak yang mereka sebut sebagai “konsevatif”.

“Sebagai pemimpin tertinggi dari negara yang menganut wahabisme, tentu tindak-tanduknya mencerminkan sebagian keyakinan yang dianutnya. Kelompok Wahabi di Indonesia selalu merujuk Saudi Arabia sebagai Islam paling otentik, yang mencerminkan tafsir mereka atas teks Al-Qur’an dan Hadits. Tapi ternyata, ketika melihat perilaku Raja Salman, dalam banyak hal, perilakunya tidak jauh berbeda dengan kebiasaan Muslim Indonesia secara umum. Pakaian yang dikenakannya isbal atau sampai di bawah lutut. Wahabi dan Salafi garis keras selalu menekankan haramnya isbal dengan menyertakan sejumlah dalil untuk menguatkan pendapatnya.” demikian salah satu tulisan yang dimuat dalam sebuah media online. Kasihan orang-orang liberal itu. Sejak kapan kebenaran dalam agama diukur berdasarkan sikap seorang tokoh atau seorang raja?

Ketahuilah bahwa Khadimul Haramain Raja Salman bin Abdul Aziz seorang yang dididik di atas syariat Islam yang murni. Beliau seorang yang berkarakter tangguh dan berjiwa juang tinggi. Beliau berjihad membela Islam di tingkat international. Lihatlah ketika ucapan mereka disandingkan dengan pernyataan Raja Salman.

(Baca: Raja Arab Saudi Disambut Hangat, Bagaimana Dengan Wahabi?)

Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Sunan beliau:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam itu banyak berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang banyak bertaubat.” HR at-Tirmidzi 2499.

Sebagai pimpinan tertinggi negara Arab Saudi, adalah suatu kemestian untuk melakukan hubungan diplomatik international demi perjuangan Islam. Raja terkadang dihadapkan kemestian untuk menghormati budaya dan tradisi negara lain, serta memperhatikan berbagai kode etik hubungan kenegaraan lainnya, jika tidak diindahkan akan dianggap tidak menghormati negara lain atau melanggar tata tertib dunia internasional. Tentu ini merupakan tantangan yang sangat besar dan berat. Sehingga raja harus mengambil sikap yang baik dan tepat menurutnya. Di sinilah sangat tidak menutup kemungkinan beliau jatuh dalam kesalahan. Karena walau bagaimanapun beliau tetap seorang manusia biasa yang tidak maksum. Arab Saudi dan Raja Salman secara khusus, posisinya adalah sebagaimana yang diucapkan oleh Imam Malik bin Anas rahimahullah.

“Setiap orang biasa diambil atau ditolak ucapan/pendapatnya. Kecuali penghuni kubur ini (yakni Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam).” (Imam Malik bin Anas rahimahullah)

Semoga Allah mengampuni Raja Salman dan terus membimbing beliau untuk senantiasa teguh membela Islam menghadapi musuh-musuhnya.

“Demi Allah, seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri, sungguh aku akan memotong tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hikmah yang dapat kita ambil dari perkataan Rasulullah ini adalah bahwa beliau tidak dapat menjamin bahwa anggota keluarganya akan terluput dari berbuat salah.

Maka ketahuilah, bahwa Raja Salman pun tidak bisa menjamin bahwa para pangeran, putri, staff, menteri negara Arab Saudi selalu benar. Bahkan para ulama di Arab Saudi pun bukanlah orang-orang yang maksum dari kesalahan. Maka kewajiban sebagai saudara sesama muslim (bagi yang tinggal di luar Saudi) dan sebagai rakyat (bagi yang tinggal di dalam Saudi) adalah saling memberikan nasehat dengan cara yang baik. Tentunya dengan cara yang telah diajarkan dalam syari’at Islam. Bukan dengan cara berdemo, menjadi oposisi, atau membongkar aib-aib pemerintah di depan umum atau media massa.

Sehingga kesalahan, tetaplah kesalahan walaupun dilakukan oleh pejabat atau raja. Tolak ukur kebenaran tetaplah Al Quran dan Al Hadits serta bimbingan para sahabat Rasul. Inilah yang harus menjadi prinsip setiap muslim. Prinsip ini pulalah yang ditegakkan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahab dalam dakwahnya. Mengajak kepada Islam yang murni sebagaimana yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Inilah prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sejak masa para salafush shalih. Prinsip inilah yang tak disukai oleh kaum liberal, tak mampu dilakukan oleh kaum radikal, membuat Iran yang berhaluan syiah sangat benci.

Secara jujur kita akui, bahwa Kerajaan Arab Saudi merupakan mercusuar dunia Islam. Satu-satunya negara yang berani menyatakan secara tegas bahwa negaranya berasaskan Islam, berdasarkan Al-Quran dan al-Hadits, dan benar-benar menerapkan syari’at Islam dalam keseharian dan praktek kenegaraan. Kesalahan dan kekurangan pada Arab Saudi tetap ada di sana-sini, namun bukan alasan untuk menjatuhkan atau membenci. Arab Saudi negara paling depan memerangi radikalisme, syiah, liberalisme, dan berbagai pemikiran dan praktek yang menyimpang dari kemurnian Islam. Arab Saudi berdiri membela dakwah Tauhid yang ditegakkan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, dan itu terus hingga hari ini.

(Baca : Salafi Wahabi Sumber Terorisme?!)

Demikianlah, janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum lantas membuatmu berbuat tidak adil. Iya, penerapan standar ganda oleh beberapa pihak dalam menilai pemerintah Arab Saudi nampak sekali pada mereka yang mengkritik sikap dan kebijakan Kerajaan. Para pengkritik seolah memposisikan diri mereka pihak yang tidak pernah salah dan tidak bisa salah. Berbagai dalih alasan dibuat untuk membenarkan perbuatan mereka.

Baca Juga

MENGEJUTKAN, BERTAHUN TAHUN ARAB SAUDI MENYIMPAN BUKTI KONSPIRASI QATAR (2)

Jendelainfo.com – Telah dimuat pada artikel terdahulu bahwa dunia seakan terhenyak ketika Kerajaan Arab Saudi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *