Beranda / Warta / ​Renungan Bagi Pendidik: Harga Sebuah Nyawa?!

​Renungan Bagi Pendidik: Harga Sebuah Nyawa?!

Jendelainfo.com – 2012, 2013, 2014, dan kini 2017. Seakan tidak belajar dari kejadian di masa lalu. Kejadian sama pun berulang. Nyawa seorang anak bangsa melayang, menghilang bersama lenyapnya cita-cita. Tragis. Sebuah renungan bagi pendidik.

Ramai diberitakan bahwa telah terjadi lagi untuk kesekian kalinya di STIP Marunda penganiayaan Senior – Junior yang berakibat meninggalnya seorang taruna tingkat pertama Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran milik Pemerintah tersebut.
Kejadian bermula dari permufakatan para senior tingkat II seusai latihan Drumband. Pelaku SM, mengajak rekannya berkumpul untuk mengerjai juniornya tingkat I yang adalah bassist drum band/tam-tam.

“Menurut para pelaku, dia hendak memberikan pelajaran kepada korban, tapi masih kami lakukan penyidikan,” ujar Kapolres Jakarta Utara Kombes Awal Chairuddin melalui Detik.com, Rabu (11/1/2017).
Penganiayaan yang diistilahkan oleh pelaku sebagai pelajaran kepada para junior itu dilaksanakan pada pukul 22.00. Hal ini diawali dengan pemanggilan enam taruna tingkat I termasuk Amirulloh Adityas Putra (19) oleh empat pelaku untuk berkumpul di lantai 2 kamar M-205 gedung dormitory ring 4.

Satu persatu taruna tingkat I tersebut datang ke lantai dua. Selanjutnya, SM (19), WH (20), IS (21), dan AR (19) memukul para juniornya. Polisi telah menetapkan empat pemukul itu sebagai tersangka. “Pemukulan menggunakan tangan kosong secara bergantian yang diarahkan ke perut, dada, dan ulu hati,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono melalui Kompas.com.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan belasungkawa atas meninggalnya Amirulloh. Kementerian Perhubungan telah berulang kali mengingatkan pengelola sekolah untuk melaksanakan standar prosedur pengawasan untuk mencegah kekerasan di sekolah-sekolah di bawah pembinaan Kementerian Perhubungan.

Hikmah untuk Dijadikan Pelajaran

Nasi sudah menjadi bubur. Nyawa yang hilang sudah tidak dapat dikembalikan. Hanya tertinggal penyesalan. Sebuah renungan bagi pendidik.

Telah tetap bahwa ketika berlangsungnya Haji Wada’ (Haji Perpisahan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا وفِي بَلَدِكُمْ هَذَا
“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian serta kehormatan kalian haram atas kalian sebagaimana keharaman hari kalian ini, pada bulan kalian ini, di negeri kalian ini.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ:الثَّيِّبُ الزَّانِي وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَالتَّارِكُلِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ
“Tidak halal darah seorang muslim yang mengucapkan syahadat Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, dan aku adalah Rasul Allah, kecuali karena tiga hal: tsayyib (orang yang sudah menikah) berzina, jiwa dengan jiwa (hukum qishash), dan orang yang meninggalkan agamanya (murtad), memisahkan diri dari jamaah (kaum muslimin).”

Maka, atas alasan apapun di luar alasan Syar’i, apabila seseorang berbuat aniaya kepada manusia dengan segala bentuknya maka telah jatuh pada pelanggaran terhadap ajaran Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *