Beranda / Warta / 22 Pelajar Siap Tempur Diciduk Aparat

22 Pelajar Siap Tempur Diciduk Aparat

Jendelainfo.com – Sebanyak 22 pelajar siap tempur diciduk aparat ketika mereka nongkrong di pinggir kali kawasan Rawabambu Bekasi Utara, kecurigaan aparat ternyata tepat, ketika para pelajar yang masih di bawah umur tersebut diperiksa, ternyata mereka didapati membawa berbagai senjata tajam.

Dari hasil pemeriksaan, aparat berhasil mengumpulkan sebanyak 22 senjata tajam yang diduga akan mereka gunakan untuk tawuran. Kasubag Humas Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Erna Ruswing mengatakan, “Ketika diperiksa kami menemukan 22 senjata tajam berbagai jenis seperti celurit dan parang.” Maka atas hal ini para pelajar terpaksa digelandang ke Polsek Bekasi Utara, Kota Bekasi, Ahad (7/5). “Mereka masih diperiksa intensif oleh penyidik,” pukasnya.

Pembaca jendelainfo.com yang budiman, contoh kejadian di atas merupakan potret kecil dari keadaan sebagian pelajar yang masih hobi tawuran. Aksi berbau kekerasan ini memang sudah teranggap sebagai tradisi yang terulang. Satu sekolah bisa saling serang dengan sekolah lainnya tanpa ada sebab logis yang mendasari. Berbagai pihak telah mencarikan solusi atas fenomena ini, akan tetapi nyatanya tawuran masih tetap ada.

Pembaca jendelainfo.com yang budiman, solusi atas permasalahan tawuran yang terjadi di kalangan para pelajar sebenarnya telah ada di dalam Islam, sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam,

《 الْمُسْلِم ُأَخُوْ الْمُسْلِمِ لا يَظْلِمُهُ ولايخذله وَلا يُسْلِمُه》
Artinya:
“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim (lainnya), janganlah dia menzaliminya, jangan pula merendahkannya dan jangan juga menyakitinya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan sabdanya,

《لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ》
Artinya:
“Hilangnya dunia itu lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.” (HR Nasaa`i dan Tirmidzi).

Hadits-hadits semisal yang menjelaskan tentang persaudaraan sesama muslim dan besarnya ancaman dosa melukai bahkan membunuh seorang muslim sangatlah banyak. Jika seorang pelajar muslim dapat memahami dan meresapi ajaran agama Islam dengan benar kemudian bisa diamalkan di dalam keseharian niscaya kenakalan-kenakalan remaja akan sirna.

Tinggal yang tersisa adalah sudah sejauh mana tingkat keseriusan dan peran aktif kita sebagai orang tua atau selaku pendidik yang berusaha untuk mendekatkan para pelajar untuk mau mempelajari ilmu agama dengan benar. Hal tersebut agar mereka sadar bahwa sesama muslim adalah bersaudara walau berbeda sekolah dan juga jangan sampai diciduk aparat lagi. (UTS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *