Beranda / Fokus / AQIDAH SYIAH RAFIDHAH TENTANG NIKAH MUT’AH DAN KEUTAMAANNYA

AQIDAH SYIAH RAFIDHAH TENTANG NIKAH MUT’AH DAN KEUTAMAANNYA

nikah mut'ah

Nikah Mut’ah adalah nikah kontrak dalam waktu tertentu. Jika sudah habis masanya maka terputuslah ikatan pernikahan tersebut.

Mut’ah memiliki keistimewaan  yang besar dalam aqidah Syiah Rafidhah. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari kesesatan ini. Dikatakan dalam buku Minhajus Shadiqin yang ditulis oleh Fathullah Al Kasyani dari Ash Shadiq :

Mut’ah adalah bagian dari agamaku, agama nenek moyangku. Barangsiapa yang mengamalkannya berarti dia mengamalkan agama kami. Barangsiapa yang mengingkarinya berarti dia mengingkari agama kami. Anak yang dilahirkan dari hasil perkawinan mut’ah lebih utama daripada anak yang dilahirkan melalui istri yang tetap. Orang yang mengingkari nikah mut’ah adalah kafir dan murtad. [1]

Dinukil oleh Al- Qummi dalam bukunya Man La Yahdhuruhul Faqih, dari Abdillah bin Sinan dari Abi Abdillah, ia berkata :

Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan atas orang-orang Syiah segala minuman yang memabukkan dan menggantikan mereka dengan mut’ah.[2]

Disebutkan dalam Tafsiir Minhajus Shadiqin  karangan Mulla Fathullah Al Kasyani bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barangsiapa yang melakukan nikah mut’ah sekali maka dia telah merdeka dari neraka sepertiga jiwanya. Barangsiapa melakukannya dua kali maka dua pertiga jiwanya telah bebas dari neraka. Barangsiapa melakukannya tiga kali maka telah sempurna terbebas dari neraka.

Dalam kitab tersebut juga disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barangsiapa yang melakukan nikah mut’ah sekali maka dia telah selamat dari murka Allah Yang Maha Perkasa. Barangsiapa melakukannya dua kali maka akan dikumpulkan  bersama orang-orang shalih. Barangsiapa melakukannya tiga kali maka akan berdesak denganku di surga-surga.

Juga dikatakan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barangsiapa yang melakukan nikat mut’ah sekali, maka dia telah mendapatkan derajat seperti Husain. Barangsiapa melakukannya dua kali, maka derajatnya seperti Hasan. Barangsiapa yang melakukannya tiga kali maka derajatnya seperti Ali bin Abi Thalib. Barangsiapa bermut’ah empat kali maka derajatnya seperti derajatku. [3]

Syiah Rafidhah tidak membatasi dengan jumlah tertentu dalam mut’ah. Disebutkan dalam buku Furu’ul Kaafi, At Tahdzib dan Al Istibshar dari Zurarah ia bertanya kepada Abu Abdillah :

Berapa jumlah wanita yang boleh dimut’ah, apakah hanya empat wanita ? Ia menjawab : “Nikahilah (dengan mut’ah) seribu wanita, karena mereka adalah wanita-wanita sewaan.

Dari Muhammad bin Muslim dari Abu Ja’far, ia berpendapat tentang mut’ah tidak hanya terbatas hanya pada empat wanita karena mereka tak perlu dicerai, tidak diwarisi, karena mereka adalah wanita sewaan. [4]

Bagaimana kita bisa menerima dan membenarkan nikah seperti ini, sementara Allah Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (*)

إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ  (*)

فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (*)

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri atau budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al Mukminun : 5 – 7)

Dari ayat di atas jelas bahwa diperbolehkan untuk disetubuhi adalah istri yang sah dan hamba sahaya yang dimilikinya, selain itu diharamkan.

Wanita yang dimut’ah adalah wanita sewaan, bukan istri, tidak mendapat warisan dan tidak perlu dicerai. Hal ini berarti wanita ini adalah pelacur – Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari hal ini.

Orang-orang Syiah Rafidhah menghalalkan nikah mut’ah berdalil dengan ayat :

 ۚ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۖ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَٰلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ ۚ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً

Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. (An Nisa: 19)

Untuk menjawab dalil mereka, maka kita katakan: ayat tersebut adalah berbicara tentang masalah nikah yang sebenarnya. Mari kita lihat bagaimana ayat sebelumnya berbicara.

Dimulai dengan ayat :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا

Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa, (An Nisa : 19)

Kemudian berlanjut dengan ayat  :

وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ

Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, (An Nisa : 20)

Sampai ayat:

وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آبَاؤُكُمْ

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, (An Nisa : 22)

Kemudian ditambah lagi dengan ayat :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, (An Nisa : 23)

Setelah Allah Ta’ala menyebutkan jumlah wanita yang haram dinikahi baik disebabkan nasab keturunan ataupun sebab lainnya . Allah Ta’ala berfirman :

وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَٰلِكُمْ

Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian, (An Nisa : 24)

Maksudnya adalah selain wanita yang disebutkan di atas, atau dibolehkan bagi kalian menikahi wanita-wanita lainnya.

Dan jika kalian menikahi mereka (selain disebutkan di atas) untuk kalian setubuhi, maka berikan maharnya yang telah kalian tentukan untuknya. Dan jika mereka (para istri) membebaskan sebagian dari maharnya dengan kerelaan hati maka tidak berdosa engkau menerimanya.

 

Inilah sebenarnya tafsir dari ayat tersebut sesuai dengan penafsiran mayoritas sahabat Nabi radhiyallahu anhum dan para ulama tafsir sesudahnya. Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang nikah mut’ah. Yaitu hadits Ar Rabi’ bin Saburah Al Juhani, sesungguhnya bapaknya menceritakan kepadanya bahwa ia pernah bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

قد كنت أذنت لكم في الاستمتاع من النساء ، وإن الله قد حرم ذلك إلى يوم القيامة ، فمن كان عنده منهن شيء فليخل سبيلها ولا تأخذوا مما آتيتموهن شيئا

Wahai manusia, sesungguhnya dahulu aku pernah mengizinkan kalian untuk melakukan mut’ah atas kaum wanita. Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah mengharamkan mut’ah sampai hari kiamat. Barang siapa masih terikat mut’ah dengan wanita, tinggalkanlah dia dan janganlah kalian mengambil kembali barang yang telah diberikan. (HR. Muslim, No. 1406)

Salah satu tokoh mereka yaitu At Thuusiy dalam bukunya Tahdzibul Ahkam sebenarnya menganggap jijik dengan nikah mut’ah seraya mencelanya :

Bila wanita ini dari kalangan keluarga mulia tidak boleh dinikahi secara mut’ah, karena ini akan menjadikan keluarganya tercemar dan wanita ini menjadi hina. [5]

Ternyata, orang-orang Syiah Rafidhah tidak berhenti sampai di situ saja, bahkan mereka memperbolehkan menyetubuhi wanita melalui duburnya.

Disebutkan dalam buku mereka Al Istibshar yang diriwayatkan dari Ali bin Al Hakam, ia berkata :

Saya mendengar Shafwan berkata : “Saya berkata kepada Ar Ridha, “Seorang laki-laki dari mantan budakmu meminta saya untuk bertanya kepadamu tentang sesuatu masalah karena ia malu menanyakannya langsung kepadamu.” Maka ia berkata : “Apa masalah itu ?” Ia menjawab : “Bolehkan seorang laki-laki menyetubuhi istrinya melewati duburnya ?” Ia menjawab : “Ya, boleh baginya.” [6]

Baca juga  :

[1] Mulla Fathullah Al Kasyani, Minhajus Shadiqin, 2/495
[2] Ibnu Babawaih Al Qummi, Man Laa Yahdhuruhul Faqih, 330
[3] Mulla Fathullah Al Kasyani, Tafsir Manhajis Shadiqin, 2/492, 493
[4] Al Furu' Minal Kaafi, 5/451
[5] At Thuusiy, Tahdzibul Ahkam, 7/227
[6] Al Istibshar, 3/243

 

Baca Juga

AQIDAH SYIAH RAFIDHAH TENTANG KOTA NAJF DAN KARBALA

AQIDAH SYIAH RAFIDHAH TENTANG KOTA NAJF DAN KARBALA

Orang-orang Syiah beranggapan bahwa lokasi-lokasi kuburan para imam mereka (baik yang hanya diakui belaka atau …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *