Beranda / Warta / Bahaya Menyandarkan Diri kepada Hasil Ramalan

Bahaya Menyandarkan Diri kepada Hasil Ramalan

Jendelainfo.com – Indonesia merupakan negeri yang kaya. Kaya sumber daya alam dan juga kaya budaya.

Tetapi kekayaan itu tidak lantas boleh menjadikan rakyat terlena. Karena, pada kekayaan itu terikut padanya ujian dan cobaan. Apakah kita mau mensyukurinya?

Di antara kebiasaan yang sangat memprihatinkan terjadi di negeri ini, dan sangat disesalkan ternyata itu cukup mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, adalah mengaitkan peristiwa-peristiwa yang ada dengan ramalan dan perdukunan.

Sebut di antaranya ramalan tentang urutan penguasa di Indonesia, ramalan tentang kejayaan Indonesia, kepercayaan terhadap tokoh-tokoh gaib, dan banyak lagi. Kesemuanya sangat membahayakan akidah umat.

Sebegitu kuatnya pengaruh ramalan tersebut hingga urusan yang sifatnya saintifik seperti pembangunan bandara di Kota Kulonprogo pun dikaitkan dengan ramalan.

Sikap yang Seharusnya terhadap Ramalan dan Perdukunan

Sesungguhnya perkara-perkara ghaib hanyalah Allah yang mengetahui. Ini adalah khusus milik Allah semata.

{قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ } [النمل : 65]

“Katakan (wahai Muhammad), Tidak ada siapa pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah.” [ an-Naml : 65 ]

Ada di antara para rasul yang Allah berkehendak memberitahukan perkara ghaib kepada mereka. Dalam hal ini, Allah berfirman :

{عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا} {إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا} [الجن : 27]

“(Dia adalah Rabb) Yang mengetahui yang ghaib. Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seseorang pun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (Malaikat) di muka bumi dan di belakangnya.” (QS. Al Jin : 26-27)

Selain siapa yang Allah kehendaki untuk ditampakkan perkara ghaib kepadanya, maka dia tidak akan tahu perkara ghaib sama sekali.

Maka siapapun yang mengklaim tahu perkara ghaib, padahal dia bukan nabi atau rasul, maka klaim ini jelas-jelas bertentangan dengan Firman Allah pada surat an-Nahl ayat 65 di atas.

Apa yang akan terjadi di masa depan temasuk perkara ghaib, tidak ada yang memiliki ilmunya, baik malaikat, manusia maupun jin, kecuali Allah Ta’ala. Ini adalah salah satu pokok keimanan yang harus diyakini oleh setiap hamba.

Sehingga :

  1. Apabila seorang mengaku mengetahui ilmu ghaib, maka dia telah menjadikan dirinya sejajar dengan Allah. Jelas ini bentuk kekufuran.
  2. Apabila seorang mempercayai ada selain Allah yang mengetahui ilmu ghaib. Maka dia telah meyakini adanya tandingan bagi Allah. Jelas ini merupakan kesyirikan.

Karena pengetahuan tentang ilmu ghaib merupakan kekhususan bagi Allah Tabaraka wa Ta’ala, sebagaimana pada surat an-Nahl : 65.

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menegaskan:

“Barangsiapa yang mendatangi dukun/paranormal lalu membenarkan ucapannya, maka ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad –shallallahu’alaihi wa sallam-.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Bahkan sekedar bertanya tanpa membenarkan atau mempercayai ucapan dukun/paranormal tersebut mengakibatkan tertolaknya sholat seseorang selama 40 hari, tanpa menggugurkan kewajiban sholat darinya. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“‏من أتي عرافًا فسأله عن شيء، فصدقه، لم تقبل له صلاة أربعين يومًا‏”‏ ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏

“Barangsiapa yang mendatangi dukun/paranormal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima sholatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim no. 5957)

Jika bangsa Indonesia ingin maju, maka harus meninggalkan kebiasaan percaya kepada dukun/paranormal. Atau mengaitkan kejadian-kejadian yang ada dengan ramalan dukun.

Sungguh perdukunan merupakan salah satu kegelapan jahiliyyah yang telah ditumpas oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dengan cahaya Tauhid yang beliau bawa.

Misi Nabi adalah membawa rahmat (kasih sayang) untuk seluruh alam. Salah satu bentuk rahmat tersebut adalah meninggalkan perdukunan.

Akankah bangsa Indonesia ini mau mengganti cahaya dengan kegelapan, rahmat dengan laknat? Tentu tidak. Mari bangsa ini maju dengan menerapkan ajaran yang di bawa oleh Nabi Besar Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Baca Juga

perkara ghaib

Hanya Allah yang Mengetahui Perkara Ghaib

Jendelainfo.com – Keyakinan yang wajib kita yakini dan imani yaitu bahwasannya tidak ada yang mengetahui …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *