Beranda / Ilmu / Panduan Bersuci 2: Bejana dan Hukum-hukumnya

Panduan Bersuci 2: Bejana dan Hukum-hukumnya

Pembahasan tentang bejana tidak kalah penting dibandingkan pembahasan tentang air untuk bersuci. Pentingnya perkara ini dapat dilihat dari pembahasan para ulama di dalam kitab-kitab fiqih mereka.

Dan bejana ini tidak sekedar digunakan untuk bersuci, bahkan dapat dikatan bahwa di dalam kehidupan sehari-hari banyak hal dilakukan yang tidak bisa lepas dari penggunaannya. Pertimbangan tersebut menjadikan penting bagi kita untuk memahami pembahasannya.

Pengertian

Bejana adalah wadah tempat menyimpan air, makanan dan lainnya. Bisa terbuat dari besi, kayu, plastik atau lainnya. Sehingga wujudnya dapat berupa tempat air minum, piring, ember, gayung, tempayan, dan semisalnya.

Hukum asal penggunaan

Boleh menggunakan seluruh bejana untuk makan dan minum dan seluruh penggunaan, apabila bejana tersebut suci dan mubah. Selain dari wadah yang terbuat dari emas dan perak. Allah Ta’aala berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا

“Dia-lah Allah Yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kalian.” (QS. Al-Baqarah: 29)

Hukum penggunaan bejana yang terbuat dari emas dan perak

Penggunaan wadah dari emas dan perak untuk makan dan minum haram hukumnya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda;

لَا تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ والْفِضَّةِ، وَلَا تَأْكُلُوا فِي صِحَافِهَا، فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا، وَلَكُمْ فِي الْآخِرَةِ

“Janganlah kalian minum dengan bejana dari emas dan perak, dan jangan makan dengan bejana yang terbuat dari keduanya. Karena itu bagi mereka (orang kafir) di dunia, dan bagi kalian (wahai orang beriman) di akhirat” (Muttafaqun ‘alaih).

Adapun menggunakannya untuk selain makan dan minum para ulama berbeda pendapat, sebagian ulama berpendapat boleh sebagaian yang lain berpendapat tidak boleh, namun sebagai bentuk kehati-hatian sebaiknya tidak menggunakannya.

Hukum bejana orang kafir

Wadah orang-orang kafir boleh untuk digunakan, kecuali bila diketahui ada najisnya. Dalam kondisi seperti ini tidak boleh digunakannya, kecuali setelah mencucinya. Bila tidak diketahui dari pemiliknya suka bersinggungan dengan benda-benda najis, maka boleh menggunakannya.

Itu sekelumit dari hukum yang terkait dengan bejana yang seyogyanya kita pahami. (joko)

Baca Juga

tentang wudhu, hukum air dan tata cara menghilangkan najis

Tata Cara Menghilangkan Najis

Jendelainfo.com – Para pembaca jendelainfo.com yang kami hormati, pada artikel yang lalu kita sudah membahas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *