Beranda / Internasional / Benarkah Kondisi Ekonomi Saudi Pemicu Kunjungan Arab Saudi setelah 40 tahun?

Benarkah Kondisi Ekonomi Saudi Pemicu Kunjungan Arab Saudi setelah 40 tahun?

Jendelainfo.com – Ramai diperbincangkan saat ini tentang kunjungan kenegaraan pemerintah Kerajaan Arab Saudi ke Indonesia dan negara di kawasan Asia lainnya. Hal ini tidak sedikit mengundang berbagai pertanyaan yang menarik untuk didiskusikan. Termasuk di dalamnya, isu seputar kondisi ekonomi Saudi.

Di antara berbagai sisi yang boleh jadi cukup menarik perhatian adalah besarnya rombongan yang dibawa Raja Salman disandingkan dengan kondisi perekonomian Arab Saudi yang kabarnya kurang bagus. Sebenarnya bagaimana kondisi sesungguhnya perekonomian Arab Saudi saat ini?

Tidak dipungkiri bahwa pendapatan terbesar perekonomian Arab Saudi adalah dari sektor Minyak dan Gas. Berdasarkan data perkiraan yang dikeluarkan oleh CIA, sektor perminyakan menyumbang hingga 87% pendapat negara, 42% dari GDP, dan 90% penyumbang nilai ekspor. Jelas, ketika terjadi penurunan harga minyak dunia seperti yang terjadi beberapa tahun belakangan ini akan sangat dirasakan pengaruhnya. Tetapi apakah hal ini lantas membuat perekonomian Saudi terpuruk? Ternyata tidak.

(Lihat data CIA: https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/sa.html)

Data dari Bank Dunia (World Bank) yang disiarkan di halaman website resminya menunjukkan bahwa GDP per kapita Arab Saudi sejak 2007 terus tumbuh. 2007 US$ 41.196,8444760865, 2008 US$ 43.567,3081556, 2009 US$ 43.285,2116285, 2010 US$ 44.246.8201944, 2011 US$ 47.474.0433846, 2012 US$ 48.830,0429586, 2013 US$ 48.963,4547985, 2014 US$ 49.618,8543418, 2015 US$ 50.283,9335919.

(Lihat data Bank Dunia: http://data.worldbank.org/country/saudi-arabia)

Pertumbuhan tinggi terjadi di tahun 2011 sebesar lebih dari US$ 3.000. Setelah itu, pertumbuhan GDP Saudi terus melambat. Meskipun begitu pertumbuhannya selalu positif atau meningkat terus. Nampak pada tabel bahwa nilai GDP terus meningkat.

Hal inilah, kalau dikatakan bahwa pertumbuhan GDP Saudi menurun itu ada benarnya yang ternyata apabila dilihat kenyataannya nilai GDP per kapita masih tetap tinggi dan terus tumbuh secara positif. Di sini, perlambatan pertumbuhan GDP adalah lampu kuning bagi bagi pemerintah Arab Saudi untuk segera mencari strategi terbaik memacu pertumbuhan ekonominya lagi. Dan ini sudah dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi dengan meluncurkan Visi 2030.

(Lihat Vision 2030: Fiscal Balanced Program: http://vision2030.gov.sa/en/bb2020)

Demikianlah, janganlah hanya karena nafsu memojokkan pemerintah Saudi atas kunjungan kenegaraan ke Indonesia, anda mengesankan GDP Growth Rate sebagai indikator ekonomi sesusungguhnya. Padahal, di sana ada GDP Per Capita dan GDP Power Parity Purchase (PPP) yang seharusnya dilihat untuk menilai kondisi perekonomian sesungguhnya. Berani?


source: tradingeconomics.com

Baca Juga

Tuduhan Terhadap Pemerintah Arab Saudi Yang Tidak Pernah Terbukti

Jendelainfo.com – Berikut ini adalah bagian terakhir rangkaian artikel bantahan terhadap tuduhan berbagai pihak terhadap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *