Beranda / Fokus Komunisme / Cap Go Meh Hendak Digelar di Masjid Agung, Keterlaluan…!!!

Cap Go Meh Hendak Digelar di Masjid Agung, Keterlaluan…!!!

Jendelainfo.com – Cap Go Meh (Hokkien: 十五暝) melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama (Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam). Ini berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari.

Kenyataan ini untuk membungkam mulut tak bertanggung jawab dari Ketua Yayasan Lembaga Studi Sosial dan Agama Semarang Tedi Kholiludin yang mengatakan, “Cap Go Meh itu selebrasi (perayaan) budaya kok, bukan selebrasi agama. Pada intinya itu bukan ibadah, jadi kenapa harus dilarang diadakan di masjid.” Pernyataan tersebut sebagaimana dikutip dari harian Republika.

Tidak cukup di situ, lisan tak bertanggung jawab dari Tedi ini juga mengeluarkan pernyataan yang menilai dengan adanya penolakan perayaan Cap Go Meh di halaman MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah) itu menunjukkan mulai ada krisis toleransi di Kota Semarang. Menurut dia, Cap Go Meh bisa dirayakan di tempat mana pun sepanjang tidak melanggar hukum.

Demikianlah, dengungan suara toleransi ala liberal yang bermaksud merusak, dan menghinakan Agama Islam.

Sangat disayangkan, adanya ide perayaan yang sangat tidak pantas diadakan di masjid ini, walaupun di halaman masjid, terlebih di jadwal akan dihadiri tokoh-tokoh liberal lintas agama seperti Habib Luthfi bin Yahya, Kiai Haji Mustofa Bisri (Gus Mus), dan Romo Aloysius Budi Purnomo seorang kafir.

Dan sungguh bila terjadi, pelaksanaan acara ritual agama Konghucu di halaman masjid ini merupakan bentuk penistaan terhadap masjid dan agama Islam. Di samping merusak nilai-nilai toleransi itu sendiri.

Reaksi Dewan Pakar ICMI Pusat

“Saya langsung istighfar mohon ampun pada Allah, kok sampai segitunya minta toleransi?” kata mantan jendral petinggi Polri ini yang juga anggota Dewan Pakar ICMI Pusat Anton Tabah Digdoyo. Beliau mengaku sangat kaget mendengar Cap Go Meh akan digelar di Masjid Agung Semarang.

Anton menuturkan sebuah bangunan masjid dalam Islam bukan bangunan biasa tapi termasuk rumah Allah. Sehingga ada etika dan tata cara tersendiri untuk masuk ke dalam masjid. Di antaranya harus suci dari hadas kecil maupun besar. “Apalagi ketika umat Muslim berada di dalam masjid tidak setiap orang boleh masuk masjid,” katanya lagi.

Anton menjelaskan, tidak sembarang orang bisa masuk ke masjid. Jangankan bukan Muslim, orang Muslim saja yang dalam kondisi tidak suci dilarang masuk masjid. Misalnya, dalam keadaan jinabat (usai berhubungan pasutri belum mandi besar) atau wanita Muslimat yang dalam keadaan haid atau nifas juga dilarang masuk masjid.

Ia juga meminta semua umat bisa menghargai aturan Islam, karena Islam sebagai agama terakhir yang Allah turunkan dan telah paripurna ajarannya mendalam serta detail dibandingkan agama-agama lain. Bahkan masalah buang air kecil pun diatur adabnya dalam Islam.

Mantan ajudan presiden ke-2 ini menuturkan ajaran Islam sangat detil tentang masjid sebagai ranah ibadah bukan muamalah. Sehingga jangan dikaitkan dengan toleransi. Karena kata dia, toleransi itu saling menghormati dalam beribadah bukan lalu boleh apa saja.

“Saya heran kok Cap Go Meh mau di masjid. Apa ini korelatif dengan festival kuliner babi panggang juga di Semarang beberapa hari yang lalu,” katanya.

Menurut jendral yang juga Ketua Penanggulangan Penodaan Agama itu, festival semacam itupun sejujurnya tak lazim jika diadakan di negara atau kota mayoritas Muslim. Seharusnya jika membuat acara buatlah acara yang religius dan tidak provokatif sehingga kerukunan toleransi selalu terjaga.

Alhamdulillah, Ketua Dewan Pelaksana Pengelola MAJT, menyatakan bahwa pihaknya telah melarang acara tersebut. “Benar, kemarin sudah kita batalkan,” ungkapnya, Sabtu (18/2).

Baca Juga

Awas Bahaya! Ternyata Masjid Perahu Di Semarang, Masjidnya Syiah!

Jendelainfo.com – Pergerakan syiah semakin hari semakin berani dan terus melebarkan sayapnya. Termasuk keberadaan Masjid …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *