Beranda / Fokus / Catatan Sejarah 1: Awal Masuknya Komunis Ke Indonesia

Catatan Sejarah 1: Awal Masuknya Komunis Ke Indonesia

Tahun 1913, tercatat sebagai awal masuknya komunis ke Indonesia sebagai sebuah Ideologi baru. Ideologi ini diperkenalkan oleh Hendricus Josephus Franciscus Maria Sneevliet. Ia adalah bekas Ketua Sekretariat Buruh Nasional dan bekas pimpinan Partai Revolusioner Sosialis di salah satu provinsi di negeri Belanda.

Memanfaatkan pusat organisasi buruh kereta api Vereenigde van Spoor en Tramweg Personnel ( Serikat Personil Kereta Api dan Trein) yang berada di Semarang, pada 1914 dimulailah penyebaran ideologi pertentangan kelas ini melalui VSTP.

Pada bulan Juli 1914 itu Sneevliet bersama dengan P. Bersgma, J.A. Brandstedder, H.W. Dekker (Sekretaris VSTP), mendirikan organisasi politik yang bersifat radikal, Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV) atau Serikat Sosial Demokrat India.

Sebagai lanjutan aksinya ISDV menerbitkan surat kabar Het Vrije Woord (Suara Kebebasan). Terbitan pertama surat kabar ini tercatat tanggal 10 Oktober 1915. Melalui surat kabar ini Sneevliet dan kawan-kawannya melakukan propaganda untuk menyebarkan marxisme.

Dengan menggunakan organisasi buruh di Semarang, ISDV mendekati Sarekat Islam yang dipimpin oleh Oemar Said Tjokroaminoto. ISDV juga melakukan propaganda di lingkungan Angkatan Perang. Sneevliet berhasil mempengaruhi serdadu Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Atas hasutannya berhasil dibentuk Raad van Matrozen en Mariniers (Dewan Kelasi dan Marinir), suatu organisasi di lingkungan anggota militer yang berhaluan radikal revolusioner.

Aktivitas Sneevliet ini dibantu oleh Brandstedder Kepala Soerabajasche Marine Gebouw (Balai Angkatan Laut Surabaya) dan redaktur koran Soldaten en Mattrozenkrant (koran Serdadu dan Kelasi). Rata-rata isi koran ini adalah ide-ide komunisme yang revolusioner dan ide-ide perjuangan kelas. Berbagai pamflet juga diterbitkan dengan tujuan untuk melemahkan kepercayaan bawahan kepada atasannya dalam tubuh Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Pada bulan Desember 1918 Sneevliet diusir dari Hindia Belanda karena aktivitasnya dianggap mengganggu keamanan dan ketertiban oleh pemerintah hindia Belanda. Menyusul kemudian Brandstedder pada bulan September 1919.

Sneevliet dan Brandstedder telah meninggalkan Hindia Belanda (Indonesia) namun mereka berhasil menanamkan pengaruhnya di lingkungan Angkatan Laut Surabaya dan telah terbentuk organisasi yang berhaluan komunis. Di lingkungan Sarekat Islam, ISDV berhasil mempengaruhi pimpinan SI Semarang, Semaun dan Darsono yang juga adalah anggota VSTP.

Pada tanggal 23 Mei 1920, di gedung Sarekat Islam Semarang, ISDV mengubah namanya menjadi Perserikatan Komunis di Indie (PKI). Semaun dipilih sebagai ketuanya dan Darsono sebagai Wakil Bersgma sebagai Sekretaris, Dekker sebagai bendahara dan A Baars sebagai anggota. Organ (media massa) partai ditetapkan Soeara Ra’jat (Rakyat).

PKI melancarkan taktik (block within) memecah belah organisasi dari dalam dengan cara menginfiltrasikan kader atau anggota komunis untuk menjadi salah satu anggota organisasi yang menjadi sasarannya. Selanjutnya mereka beraksi mempengaruhi atau memecah belah organisasi itu. Taktik ini pertama kami dipraktekkan oleh PKI terhadap Sarekat Islam.

Desember 1919 dibentuk federasi organisasi buruh buruh yang bernama Persatuan Pergerakan Kaum Buruh (PPKB) yang diketuai oleh Semaun, Surjopranoto sebagai wakil ketua dan Agus Salim sebagai sekretaris. Dalam Kongres II (Juni 1921) PPKB di Yogyakarta terjadi perpecahan. Semaun dan Bergsma bersama 14 Sarekat Sekerja memisahkan diri dan membentuk Revolutionnair Socialistische Vakcentrale, yang dipelopori oleh VSTP pada bulan Juni 1921. Dalam persaingan ini Surjopranoto dan Agus Salim berhasil menyelamatkan sebagian organisasi buruh dari pengaruh komunis.

Kongres SI Oktober 1921 di Surabaya SI melarang keanggotaan rangkap dan mengeluarkan PKI dari SI. Bulan Maret 1923 PKI mengadakan kongres kilat di Bandung dan Sukabumi. Dalam kongres ini Darsono menganjurkan untuk membentuk SI tandingan di setiap cabang SI, dengan maksud untuk menarik anggota SI yang bersimpati pada Komunis.

Komunis SI tandingan diberi nama SI Merah, kemudian diubah menjadi Sarekat Rakyat, dengan status sebagai organisasi di bawah naungan PKI.

Beberapa tokoh santri yang telah menjadi PKI dimanfaatkan untuk kepentingan propaganda partai, seperti Haji Misbach dari Solo, Haji Datuk Batuah dari Sumatra Barat dan Haji Adnan dari Tegal. Haji Misbach menerbitkan majalah Islam Bergerak, sedangkan Haji Datuk Batuah menerbitkan surat kabar Djago ! Djago (atinya Bangun! Bangun!) dan Pemandangan Islam. lsi surat kabar-surat kabar komunis yang berbaju Islam ini pada umumnya mengungkapkan analogi antara Islam dan komunis dengan bahasa yang sederhana.

Selang tiga bulan sesudah Kongres Komintern IV, pada tanggal 27-28 September 1924 pimpinan PKI mengadakan pertemuan. Mereka membahas berbagai kesulitan yang menimpa PKI. Diantaranya akibat aksi terror yang dilakukan oleh Sarekat Rakyat, yang justru merugikan PKI.

Pada tanggal 11-17 Desember 1923 PKI mengadakan kongres di Kotagede (Yogyakarta). Kongres dipimpin oleh Alimin. Pimpinan PKI menganjurkan untuk membubarkan Sarekat Rakyat, demi aksi proletar murni.

Dalam waktu 4 tahun (Mei 1920 – Desember 1924) PKI berhasil memperluas pengaruhnya melalui cara legal dan ilegal, seperti taktik aksi di dalam (block within) dan propaganda yang intensif. Propaganda-propaganda PKI yang bertema pertentangan kelas mendapat lahan yang subur pada masyarakat kolonial yang bercirikan diskriminasi (sosial,ekonomi, politik, warna kulit). (Abdullah)

Baca Juga

akidah bada'

KESESATAN AKIDAH BADA’ YANG DIYAKINI RAFIDHAH

Akidah Bada’ – Al-Bada’ artinya tampak, yang sebelumnya masih tersembunyi atau berarti pula munculnya pendapat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *