Beranda / Internasional / Di Balik Penunjukan Putera Mahkota Arab Saudi

Di Balik Penunjukan Putera Mahkota Arab Saudi

Jendelainfo.com – Jika kita mau jernih berpikir dan jauh dari prasangka negatif, seharusnya tidak perlu membuat pemberitaan yang bermuatan provokasi.

Berikut jawaban dari beberapa pertanyaan atau isu negatif seputar penunjukan Putera Mahkota Kerajaan Arab Saudi:

1. Anggapan Bahwa Pengangkatan Tersebut Karena Penyakit Dementia (Gangguan Ingatan) Yang Diderita oleh Raja Salman

Anggapan atau opini ini dikemukakan oleh salah seorang pengamat dari ISMES (Indonesian Society for Middle East Studies). Pernyataan ini hanyalah opini atau dugaan belaka. Bukanlah fakta. Oleh karena itu jangan heran jika dibantah oleh pengamat lainnya. Misalnya Direktur ICMES mengatakan, “Saya kira tidak karena dementia.”
Demikianlah kecenderungan media-media tak bertanggung jawab, yang suka memoles gosip demi melariskan medianya, sukanya menampilkan dugaan-dugaan yang sulit dipastikan kebenarannya. Cara seperti itu merupakan cara-cara yang tak bermartabat yang dilakukan oleh media-media tersebut.

Kerajaan Arab Saudi tentu memiliki prosedur dan aturan yang jelas terkait pemerintahan. Di sana juga adalah para ulama, dalam lembaga resmi Dewan Ulama Senior yang menimbang secara syar’i apakah seseorang layak sebagai raja ataukah tidak. Termasuk faktor kesehatan fisik dan ingatan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam syari’at. Apalagi sosok Raja Salman yang selama ini dikenal sebagai tokoh yang alim, bijak, dan berdedikasi tinggi di tengah keluarga kerajaan dan di hadapan rakyat. Kekurangan tentu ada sebagai manusia biasa, termasuk faktor usia. Namun tidak kemudian menebarkan kecurigaan kepada publik dengan analisa-analisa yang jauh dari kebenaran.

2. Anggapan bahwa Muhammad bin Salman masih sangat muda, kurang berpengalaman, dan sangat emosional

Penilaian ini juga bersumber dari analisa. Bagaimana dibilang kurang berpengalaman, sementara Muhammad bin Salman berhasil merombak pola perekonomian Arab Saudi. Dia yang berperan menentukan visi 2030, yang akan memproyeksikan perekonomian Saudi tidak akan lagi bergantung kepada minyak. Visi 2030 ini diterima dan diapresiasi oleh majelis kabinet. Apakah ini bukan bukti yang menunjukkan dia sosok muda cerdas dan berpengalaman.

Perhatikan penilaian salah seorang ulama anggota Dewan Ulama Senior Arab Saudi, Prof. DR. Shaleh Al-Fauzan. Tentunya beliau sosok yang selama ini banyak mengenal watak dan kiprah Pangeran Muhammad bin Salman, dibanding analis-analis ISMES atau semacamnya. Akun twitter @NayefBinMamdooh mengunggah video ucapan Prof. DR. Shaleh Al-Fauzan, “El-Amir Muhammad bin Salman kita doakan beliau agar diberi taufiq dari Allah. Beliau dikenal sebagai sosok yang serius dan bersungguh-sungguh, serta memiliki riwayat perjalanan hidup yang baik.”

Demikian pula pernyataan Gubernur wilayah utara, Faishal bin Kholid bin Sultan mengatakan, “Negara kami adalah negara yang kuat berkat persatuan kami. El-Amir Muhammad bin Salman adalah seorang negara yang memiliki cara pandang cemerlang.” demikian dilansir oleh @SaudiNews50. Faishal bin Khalid adalah salah seorang bangsawan dari keluarga kerajaan. Tentu mengenal baik watak dan dedikasi Muhammad bin Salman.

Sungguh menyedihkan, para analis yang berasal lembaga-lembaga ilmiah, ternyata analisanya yang jauh kebenaran dimuat sedemikian rupa oleh media-media yang tak bertanggung jawab. Ini salah satu contoh cara yang tak bermartabat.

Bersambung ke  Poin 3  pada artikel  Berbagai Anggapan Salah Seputar Penunjukan Putera Mahkota Arab Saudi

Baca Juga

Tuduhan Terhadap Pemerintah Arab Saudi Yang Tidak Pernah Terbukti

Jendelainfo.com – Berikut ini adalah bagian terakhir rangkaian artikel bantahan terhadap tuduhan berbagai pihak terhadap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *