Beranda / Bimbingan Islam / INILAH DOSA ORANG TUA KEPADA ANAK

INILAH DOSA ORANG TUA KEPADA ANAK

INILAH DOSA ORANG TUA KEPADA ANAK – Saat terlahir, seorang anak berada di atas fitrah yang selamat. Dia senantiasa siap menerima kebaikan. Oleh karena itu, ketika pengajaran kebaikan diberikan akan mudah diterima. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan fitrah pada setiap anak, yang ia senantiasa menerima kebaikan yang bersesuaian dengan fitrahnya.

Ketika terjadi pergeseran dari fitrahnya kemudian si anak berperilaku menyimpang, bisa dipastikan ada kekeliruan di dalam penjagaan fitrah yang selamat tersebut.

Maka demikianlah, penyimpangan yang dilakukan oleh seorang anak diantara penyebabnya adalah akibat dari kejelekan yang ada dan dibawa oleh orang tuanya.

Diantara berbagai kejelekan yang ada dan dibawa oleh orang tua adalah sikap abai. Sikap abai terhadap akhlak, pendidikan, pergaulan, dan lingkungan tempat tumbuh dan berkembangnya sang anak.

 وكم ممَّن أشقى وَلَدَه وفلذةَ كبده في الدنيا والآخرة

بإهماله وتركِ تأديبه , وإعانته له على شهواته

ويزعم أنه يُكرمه وقد أهانه , وأنه يرحمه وقد ظَلَمَه وحرمه،

ففَاتَهُ انتفاعُه بولده، وفوَّت عليه حظَّه في الدنيا والآخرة

وإذا اعتبرتَ الفسادَ في الأولاد رأيتَ عامَّتَه من قِبَل الآباء

Betapa banyak orang tua yang menjadi penyebab sengsaranya sang anak dan buah hatinya didunia dan diakhirat. 
Dengan cara sang orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan adab terhadap anaknya.
Atau membantu sang anak untuk sebebas-bebasnya memenuhi syahwatnya. 
Dengan anggapan yang demikian itu adalah bentuk memuliakan dan kasih sayang terhadap anak, padahal justru tindakan dia ini adalah kezhaliman terhadap anak dan merupakan keharaman. 
Dia juga (Orang tua) dengan tindakannya tersebut telah menyebabkan dia terluputkan dari mendapat kemanfaatan dari si anak di dunia dan akhirat. 
Dan jika anda mau mencermati sungguh mayoritas kerusakan yang ada pada anak itu bersumber dari orang tuanya.

Demikian penuturan Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud.

Memfokuskan perhatian pada pemenuhan kebutuhan jasmani, seperti makanan dan minuman, gizi yang baik, pakaian, dan kesehatan badan keluarga secara umum dan kesehatan badan anak secara khusus—inilah yang dilakukan oleh mayoritas orang tua.

Namun, kalau orang tua hanya memfokuskan perhatian pada pemenuhan kebutuhan jasmani saja, bisa dikatakan bahwa hal tersebut tidak ubahnya seperti perilaku binatang ternak dan akan berakibat kerusakan dan kemudaratan. Yang pasti, akibatnya adalah kemudaratan dalam kehidupan akhirat si anak.

Kalau tindakan tersebut disertai tindakan yang lebih besar dan lebih utama, yaitu pemenuhan pendidikan agama yang mencakup pendidikan akhlak yang mulia dan penjagaan fitrah anak dari perubahan dan kerusakan, hal itu adalah kewajiban yang harus dilakukan orang tua kepada anaknya agar anak meraih kesuksesan yang hakiki dan kebahagiaan yang sempurna.

KERUSAKAN YANG TIMBUL PADA ANAK BERSUMBER DARI ORANG TUANYA

 Orang Tua, Penjaga Fitrah Anak

Orang tualah yang paling bertanggung jawab atas perubahan fitrah si anak, dari yang baik ke berbagai bentuk penyelewengan. Orang tualah pihak yang paling dekat dengan anak dan paling berpengaruh atas pertumbuhan dan perkembangan perilaku anak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

            “Setiap anak terlahir di atas fitrah yang selamat. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

 Penanaman perilaku yang kurang baik dan pendidikan yang kurang tepat, bahkan pendidikan yang keliru terhadap anak, dapat menghalangi perkembangan fitrah kebaikan anak.

Betapa sering kita lihat orang tua justru mengenalkan anaknya dengan perilaku orang-orang yang menyimpang, baik terkait dengan akidahnya, akhlak dan perilakunya. Cara berpikir mereka tentang urusan dunia dan tujuan hidup di dunia, pengambilan suri teladan dan tokoh idola, maupun hal lainnya juga menyimpang. Orang tua memiliki andil besar dalam masalah tersebut.

Oleh karena itu, yang wajib diketahui dan dilakukan oleh para orang tua adalah menjaga fitrah kebaikan (baca: keislaman) yang telah ada pada anak semenjak terlahir.

Orang tua harus menjaga fitrah ini dari berbagai perubahan dan pergeseran, dari yang baik ke berbagai bentuk penyelewengan. Tugas penjagaan fitrah tersebut hendaklah diberi porsi yang lebih besar daripada penjagaan terhadap urusan jasmani mereka.

Di awal masa pertumbuhannya, anak belum mengetahui berbagai akibat yang akan menimpanya ketika ia melakukan berbagai hal. Ia tidak mengetahui mana yang bermanfaat dan mana yang bermudarat. Hal ini sebagaimana keadaannya yang belum memiliki kemampuan untuk menyediakan bagi dirinya berbagai kebutuhannya, baik berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, maupun kebutuhan lainnya. Orang tuanyalah yang menyediakan semua kebutuhan anak tersebut.

Oleh karena itu, jangan sampai orang tua berpikiran keliru, bahwa karena ingin membahagiakan anak dan karena mengasihi dan menyayangi si buah hati, orang tua memberikan segala sesuatu yang menjadi keinginan anak, terutama keinginan yang melampaui batasan syariat.

Apabila orang tua mampu mengalihkan si anak ke perkara lain yang tidak melanggar batasan syariat, si anak akan tetap mengikuti orang tuanya dengan dasar fitrah yang baik tersebut. Yang namanya anak (kecil) tidak mungkin mampu memutuskan sesuatu untuk dirinya sendiri dalam segala perkara.

Kita juga sering menyaksikan para orang tua mengambil teladan pendidikan anak dari orang-orang barat / kafir atau belajar dari  buku-buku mereka. Mereka ingin mencoba mengikuti metode barat. Padahal dalam masalah pendidikan anak ini tidak dibutuhkan spekulasi. Namun yang dibutuhkan adalah contoh yang pasti. Anak juga bukanlah objek uji coba.

Begitu juga sikap abai yang muncul dan terdapat pada orang tua umumnya terjadi karena dua hal. Hal pertama adalah sikap meremehkan, hal kedua adalah kebodohan (ketidak tahuan)

 

Perhatikanlah! Orang tua kadang menganggap bahwa menuruti setiap keinginan anak tanpa memilah dan memilih lebih lanjut dianggap sebagai bentuk pemberian kasih sayang kepada anak.
Dan perhatikan lagi yang lain, orang tua terkadang bersikap keras dan terlalu mengekang sang anak karena alasan kasih sayang juga, dengan berbagai kekhawatirannya. Maka bagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam membimbing umatnya dalam perkara ini?

Hendaknya kita mencontoh orang terbaik dan teladan terbaik yang telah direkomendasikan  oleh Allah Ta’ala.

Berikut kami berikan satu buah contoh pendidikan anak dalam Islam.

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

 

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

 

Perintahkan Anak Kalian Shalat ketika Umurnya Tujuh Tahun! Dan pukullah atas (meninggalkan)nya di usia sepuluh tahun! Dan pisahkan mereka di tempat tidurnya. (HR. Abu Dawud)

Seorang ulama berkata tentang hadits ini:

Ini adalah hadits yang agung tentang tarbiyah.  Kita TIDAK butuh mengimpor tarbiyah dari pendidikan Barat dan dari buku-buku orang-orang Barat.Bahkan cukup kita mengambilnya dari Kalam Rabb kita, Sunnah Nabi kita -shalallahu ‘alaihi wasallam-, dan dari Sirah (kisah perjalanan hidup) salafus shalih. Inilah model tarbiyah kita orang-orang muslim. Adapun anak-anak kita akan belajar di sekolah-sekolah dan universitas-universitas (metode pendidikan) Barat maka ini bertentangan dengan tujuan dari kepentingan (nilai pendidikan) yang dituntut dari kaum muslimin. Dan terkandung dalam hadits bahwa tarbiyah itu berjenjang. Setahap demi setahap. Pertama sekali perintah (menegakkan shalat) tanpa memukul. Lalu yang kedua memukul setelah perintah (ketika tidak dilaksanakan). Selanjutnya disertai memisah mereka (anak-anak) di ranjang (ketika tidur).

Memukul yang dimaksud hanya dalam kadar memberi efek jera. Si anak merasakan sakit namun  tidak sampai menimbulkan trauma (luka, patah, memar dll). Dalam keterangan hadits lain bahwa ada larangan memukul wajah.

Orang Tua Sebagai Pendamping Anak

Adalah kewajiban orang tua melakukan pendampingan kepada anak semenjak dini ketika anak di rumah, di sekolah, di jalan, dan di mana pun anak berada.

Orang tua wajib menciptakan atau memberikan lingkungan yang baik dengan selalu menitikberatkan penjagaan amalan agama yang benar—yang mencakup akhlak karimah (mulia) dan adab-adab yang syar’i—dan menjauhkan anak dari berbagai sarana dan fasilitas yang merusak agama dan akhlaknya.

Orang tua wajib pula memilihkan bagi anaknya tempat tarbiyah atau pendidikan yang baik. Harus dilihat dan diperhatikan siapa pengelola lembaga pendidikan tersebut, siapa mudir (kepala sekolah) dan seluruh pengasuhnya. Janganlah orang tua menutup mata, tidak memedulikan masalah-masalah ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

المَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu mengikuti agama sahabat dekatnya, maka hendaknya ia melihat siapa yang dia jadikan sahabat dekat.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek adalah seperti berteman dengan penjual minyak wangi dan berteman dengan pandai besi.” (al-Hadits)

Dalam pendidikan, janganlah orang tua menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab ini kepada pihak sekolah. Menjadi kewajiban orang tua, sebagai wali  bagi anaknya di sekolah turut serta membantu lembaga pendidikan yang menjadi tempat membentuk perilaku anaknya tersebut. Orang tua hendaknya menjalin komunikasi dengan segenap pengasuh di lembaga pendidikan tersebut. Dengan demikian, semua pihak bisa bersama-sama mengantarkan anak-anak menjadi anak yang salih dan salihah, biidznillah ta’ala.

Baca Juga:

Baca Juga

anak umur 13 tahun tenggelam

Anak Umur 13 Tahun Tenggelam di Semarang

Jendelainfo.com – Musibah siapa yang tahu, semua sudah ditakdirkan oleh Allah. Maka kewajiban bagi kita …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *