Beranda / Warta / Kekecewaan Jokowi yang Tidak Mampu Menarik Investasi Saudi Sebesar Cina

Kekecewaan Jokowi yang Tidak Mampu Menarik Investasi Saudi Sebesar Cina

Jendelainfo.com – Di dalam sebuah kesempatan, saat acara resmi di Cirebon, Presiden Jokowi sempat mengemukakan rasa kecewanya yang segera mendapat beragam tanggapan dari netizen. Sebuah pernyataan yang lebih pada cerminan rasa besarnya harapan Presiden dibandingkan dengan kesan kekecewaan Jokowi yang sesungguhnya.

Dikatakan bahwa telah banyak hal yang dilakukan oleh Jokowi sebagai tuan rumah yang baik untuk memberikan pelayanan maksimal terhadap Raja Salman saat kunjungan beliau beberapa waktu lalu.

Harapannya antara lain adalah terjalinnya hubungan dekat antara dua negara yang berlanjut pada investasi besar Kerajaan Saudi di Indonesia. Dan benar, saat itu ditandatangani pula nota kesepahaman investasi Arab Saudi sebesar 89 Triliun rupiah. Nilai yang jauh lebih besar dari rencana investasi yang dilakukan Cina di Indonesia. Seketika, Presiden sempat menyatakan terkejut dengan besarnya nilai investasi itu.

Belakangan, setelah mengetahui betapa investasi yang jauh lebih besar ditanamkan Saudi di Cina, hal ini menjadikan Presiden merasa kurang mampu menumbuhkan kepercayaan Saudi untuk dapat berinvestasi sebesar di Cina. Dalam bahasa Presiden itu dikatakan sebagai kekecewaan beliau.

Hubungan Baik Dua Negara Bukan Sekedar Besarnya Nilai Investasi

Di banyak kesempatan, Presiden Jokowi menyanjung dan memuji Raja Salman. Presiden Joko Widodo memuji hubungan Indonesia dengan Arab Saudi. Jokowi berharap kunjungan Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud dapat meningkatkan hubungan kedua negara.

“Indonesia dan Arab Saudi adalah dua negara besar yang memiliki pengaruh penting di kawasan. Sudah selayaknya dua negara kita dapat terus meningkatkan kerja sama, baik dalam konteks bilateral maupun internasional,” ujar Jokowi dalam sambutan pengantar seusai jamuan makan siang di Istana Bogor, Rabu (1/3/2017).

Saudi, menurut Jokowi, punya posisi penting bagi Indonesia. Saudi menjadi satu dari tujuh negara pertama yang memberi pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia pada 1947. Apalagi kedua negara sama-sama memiliki ikatan khusus dengan latar Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Nilai hubungan Indonesia dengan Arab Saudi tidak bisa diukur dari sisi materi atau investasi semata. Dalam kunjungan Raja Salman bulan Maret lalu, telah banyak nota kesepakatan antara kedua negara. Di antaranya kesepahaman dalam pemberantas terorisme. Ini sangat besar nilainya.

Ibarat persahabatan antara dua orang, pasti akan saling memberikan pengaruh kebaikan. Presiden Jokowi tentu tidak salah memilih Arab Saudi sebagai negara sahabat. Sebuah negara yang dikenal makmur dan memiliki stabilitas keamanan dan politik yang sangat tinggi. Di samping tentunya komitmen yang sangat kuat terhadap syariat Islam.

Terlebih Arab Saudi negara yang berhasil di bidang pemberantasan terorisme radikalisme. Bahkan di tataran intenasional Arab Saudi menyuarakan pemberantasan terorisme langsung pada negara yang menjadi sumber di balik berbagai teror di dunia.

Sehingga pemberantasan terorisme bukan berkutat pada pencitraan jelek terhadap jenggot, cadar atau celana gantung. Karena memang itu bagian dari Syariat Islam yang harus dijunjung tinggi. Bukan ciri-ciri teroris.

Dengan menyasar pada negara atau kekuatan yang menjadi akar dan sumber terorisme internasional, pemberantasan terorisme dan radikalisme menjadi tepat sasaran.

Apresiasi Bagi Sang Presiden

Demikianlah, segala usaha dan upaya Presiden Jokowi yang penuh kesungguhan untuk menjadi tuan rumah yang baik. Yang hal itu diakui berbagai pihak. Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono memuji Presiden Joko Widodo karena berhasil menyambut kedatangan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud ke Indonesia dengan baik.

Inilah hubungan baik Indonesia – Kerajaan Arab Saudi. Bukan semata-mata nilai investasi yang menjadi ukuran. Dan Presiden Jokowi paham betul terhadap hal itu. Ungkapan kekecewaan Presiden Jokowi itu lebih pada makna harapan besar seorang sahabat terhadap sahabat dekatnya. Bukan kekecewaan yang bermakna kebencian atau permusuhan.

Semoga dengan pertalian persahabatan ini, akan membawa dampak yang sangat baik bagi Indonesia. Terutama Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak. (Ahmad, WIS)

Baca Juga

Tuduhan Terhadap Pemerintah Arab Saudi Yang Tidak Pernah Terbukti

Jendelainfo.com – Berikut ini adalah bagian terakhir rangkaian artikel bantahan terhadap tuduhan berbagai pihak terhadap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *