Beranda / Ilmu / Ketika Kesabaran Berbuah Manis

Ketika Kesabaran Berbuah Manis

Jendelainfo.com – Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 155 tentang keutamaan sabar.

Istriku, inilah yang aku mampu

Termasuk di antara kenikmatan yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah berkeluarga. Banyak terdapat hikmah yang terkandung di dalamnya. Bersamaan dengan itu, setiap insan Allah berikan hak dan tanggung jawab terhadap pasangannya. Seorang istri wajib berkhidmat sepenuhnya terhadap suami, dan suami wajib berbuat baik sepenuhnya terhadap istri. Sungguh akan menjadi banyak bila hal tersebut dirinci satu persatu.

Rasulullah bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيْمَاناً أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً، وَخَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

“Orang-orang yang beriman yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dari Abu Hurairah)

Satu perkara yang paling umum, sering dibahas, dan sebagai bagian ujian serta cobaan bagi pasangan suami istri adalah perihal nafkah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لِيُنفِقۡ ذُو سَعَةٖ مِّن سَعَتِهِۦۖ وَمَن قُدِرَ عَلَيۡهِ رِزۡقُهُۥ فَلۡيُنفِقۡ مِمَّآ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُۚ لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَاۚ سَيَجۡعَلُ ٱللَّهُ بَعۡدَ عُسۡرٖ يُسۡرٗا ٧

“Orang yang mampu hendaknya memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan yang ada.” (QS. ath-Thalaq: 7)

Ketika kesabaran diuji,  maka ada di antara istri yang secara tidak sadar mungkin telah menjadi beban suaminya. Tanpa melihat kondisi keuangan suami, mereka seolah berlomba untuk dapat terpenuhinya segala kebutuhan rumah tangganya. Sebuah keinginan dan harapan yang sejatinya normal, tetapi betapa mulia akhlak seorang istri apabila tidak membebankan kepada suaminya apa yang di luar kemampuannya.

Bijak dalam membedakan antara keinginan dan kebutuhan menjadi kunci di sini. Di antara hal yang dapat dilakukan seorang istri adalah tidak menghamburkan uang dan tidak membebankan dengan banyak tuntutan atau permintaan atas sesuatu yang tidak darurat atau mendesak.

Seorang istri seharusnya merasa cukup terhadap apa yang ada dan berusaha melihat ke bawah dalam urusan dunia.
Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah darimu dalam urusan dunia, dan janganlah  kalian melihat kepada orang yang berada diatasmu yang demikian itu akan lebih bisa untuk kita tidak meremehkan kenikmatan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berkata Imam Ibnu Jarir rahimahullah (wafat tahun 310 H): “Hadits ini mengumpulkan macam—macam kebaikkan; dikarenakan seseorang apabila melihat orang yang berada diatasnya (dalam urusan dunia –ed), jiwanya menuntut untuk seperti itu, dan merasa kecil dengan nikmat Allah yang ada disisinya, dan bersemangat untuk menambah agar seperti itu atau mendekatinya. Hal ini ada pada keumuman manusia. Adapun apabila dia melihat orang yang dibawahnya pada perkara dunia tampaklah baginya nikmat Allah تعالى  atasnya, maka ia mensyukurinya, tawadhu dan melakukan kebaikkan.” (Syarh Shahih Muslim, Imam an-Nawawi:6/97).

Telah diwajibkan bagi para suami untuk memberikan nafkah kepada keluarganya. Maka seorang suami yang bertanggungjawab akan senantiasa berusaha mencari nafkah demi kehidupan yang layak. Adakalanya jalan yang mereka tempuh begitu berat dan sukar. Tidak jarang mereka di saat panas kepanasan, hujan kehujanan namun itu semua tidak mereka perdulikan. Bahkan tak jarang dalam waktu panjang berakibat tidak baik pada kesehatannya. Tidakkah para istri kasihan melihat kondisi ini, seandainya terjadi? Mengingat hal yang seperti ini, janganlah mudah banyak menuntut di luar kemampuannya atau membelanjakan kepada sesuatu Yang kurang bermanfaat.

Bersikaplah qanaah (merasa cukup dengan apa yang Allah berikan),  Alhamdulillah, engkau mempunyai suami yang bertanggung jawab dan berusaha menunaikan hak-hakmu.

Jadikanlah bahan renungan. Masih banyak para wanita yang belum menikah ketika usia mereka sudah lebih dari tiga puluh. Renungkanlah juga para istri yang mempunyai suami tidak bertanggung jawab.

Tidakkah para istri khawatir terhadap dirinya bila yang dilakukan akan memperkeruh suasana kehidupan rumah tangganya? Dan tidak kah mereka takut apabila sang suami terjatuh kepada usaha mencari rezeki dengan cara yang haram? Berbuat baiklah wahai para istri terhadap suamimu.

Seorang istri yang baik akan mendampingi suaminya dengan sifat qana’ah tidak melihat  kondisi kehidupan rumah tangga orang lain yang berada diatasnya dalam perkara dunia. Dia senantiasa bersyukur dengan apa yang Allah تعالى berikan kepadanya.

Allah ta’ala berfirman :

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar itu akan dipenuhi pahala mereka dengan tiada hitungannya.” (QS. Az-Zumar: 10)

Wallahu a’lam bish shawwab. (Joko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *