Beranda / Internasional / Kisah Sanksi Amerika Terhadap Iran Ibarat Opera Sabun

Kisah Sanksi Amerika Terhadap Iran Ibarat Opera Sabun

Jendelainfo.com – Telah diketahui bahwa di dunia pemberitaan, Amerika dan Iran adalah dua negara yang diberitakan berseteru. Tidak terhitung lagi ucapan, pernyataan, penilaian yang saling menyerang, menjatuhkan. Bahkan secara tradisional, pasukan Agama Syi’ah Iran memiliki slogan yang mengutuk dan mendo’akan kehancuran bagi Amerika. Tetapi, benarkah mutlak demikian?

Ancaman Amerika Serikat (AS) untuk menjatuhkan sanksi kepada Iran atas uji coba rudal balistik beberapa waktu lalu menjadi kenyataan. Kementerian Keuangan AS mengumumkan sanksi Amerika terhadap 13 orang dan puluhan perusahaan asal Iran yang membantu logistik dan peralatan dalam kegiatan uji coba rudal tersebut.

Presiden AS Donald Trump sempat berkicau lewat akun Twitter mengenai uji coba rudal tersebut. “Iran sedang bermain api. Mereka tidak menghargai betapa baiknya Presiden Obama. Tidak denganku!” cuit pria berusia 70 th itu, sebagaimana dikutip BBC, Sabtu (4/2/2017).

Teheran langsung menanggapi kicauan tersebut. Mereka mengaku tidak gentar terhadap ancaman murahan Negeri Paman Sam yang disebut dikeluarkan oleh orang tidak berpengalaman.

Sanksi AS kepada Iran ini berkenaan dengan uji coba rudal yang dilakukan Iran pada Minggu (29/1).

Perlu diingat baik-baik bahwa Iran yang kali ini tampak sedang diberi sanksi oleh AS, adalah penganut paham Syiah Rafidhah. Sebuah paham radikal yang sangat keras permusuhannya terhadap Islam dan kaum muslimin. Walaupun Iran menamakan dirinya sebagai “Republik Islam”, maka ini hanya hiasan yang menipu.

Apabila Israel (baca: Yahudi) memiliki ambisi mencaplok wilayah kaum muslimin, maka itu ambisi yang terbatas pada wilayah sungai Nil hingga sungai Eufrat.

Sementara permusuhan Syiah Iran terhadap kaum muslimin, merupakan permusuhan yang memadukan antara permusuhan Yahudi dengan permusuhan kaum musyrik terhadap umat Islam. Ambisi mereka lebih luas lagi daripada ambisi Yahudi. Ambisi mereka adalah menguasai seluruh dunia Islam, dan membuat kaum muslimin berubah menjadi penganut Syiah Rafidhah.

Di sisi lain patut dicatat bahwa Amerika Serikat merupakan negara yang jelas-jelas memusuhi Islam dan kaum muslimin. Kebijakan-kebijakan AS selama ini selalu menguntungkan Israel (baca : Yahudi) dan merugikan kaum muslimin.

Memang demikianlah, permusuhan kaum kafir terhadap Islam dan muslimin tidak akan pernah berhenti. Hal ini sebagaimana diberitakan dalam Al-Qur’anul Karim :

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Yahudi dan Kristen tidak akan pernah ridha terhadapmu sampai kamu mau mengikuti agama mereka.” (QS. Al-Baqarah : 120)

Sehingga segala kebijakan apapun yang ditampakkan oleh AS, seperti sanksi Amerika terhadap Iran, pada hakekatnya adalah untuk menyerang Islam dan kaum muslimin. Walaupun suatu ketika misalnya tampak di permukaan ada sebuah kebijakan yang menguntungkan Islam, maka di balik itu semua AS pasti menyimpan makar busuk terhadap Islam.

Babak Baru Drama Permusuhan Amerika Iran

Tentu kita masih ingat, dalam kampanye Trump tahun lalu, hadir salah seorang tokoh Syiah mantan anggota Hizbullah bernama Mohamed El-Hajj Hassan. Dia hadir dengan bersurban putih dan pakaian tradisional tokoh agama Syi’ah. Dalam kesempatan kampanye tersebut Trump banyak melontarkan kata-kata yang menyerang kaum muslimin.

Para pengamat pun kaget mengetahui hal ini. Karena secara fakta Hassan sebelumnya merupakan bagian dari Hizbullah, kelompok politik dan militan Syiah yang telah dimasukkan dalam daftar kelompok teroris oleh US Department (Departemen Pertahanan Amerika – Ed) sejak tahun 1997. Seakan sontak terjadi antiklimaks dari sandiwara permusuhan antara Amerika dengan Iran, sebuah negara pengimpor faham teroris Agama Syiah.

Pemerintah Arab Saudi Jeli Melihat Keadaan

Kondisi ini sangat dipahami oleh Pemerintah Arab Saudi. Meskipun banyak pihak menyoroti Arab Saudi sebagai sekutu Amerika, padahal negara Islam Arab Saudi tidak terkecoh oleh sikap-sikap Iran maupun oleh kebijakan-kebijakan AS. Karena bagi Arab Saudi kepentingan Islam dan kaum Muslimin harus selalu dikedepankan.

Masih ingatkah peristiwa Raja Salman meninggalkan Presiden Amerika Serikat Obama pada acara kunjungan resmi Selasa, 27 Januari 2015 guna menunaikan salat Asar?

Bahkan pada kunjungannya menjelang KTT penanggulangan terorisme di Riyadh Rabu, 20 April 2016 mendapatkan sambutan dingin dari Raja Salman.

Beberapa waktu lalu, Deputi Putra Mahkota sekaligus Menteri Pertahanan Saudi Arabia menegaskan dalam pertemuan dengan para menteri pertahanan beberapa negera bahwa : Ancaman terbesar terhadap dunia yang paling berbahaya adalah : Terorisme, dan Intervensi IRAN!!! (Ahmad, RFY)

Baca Juga

Aliran Syiah

IRAN DALANG DARI TERORISME DUNIA

Jendelainfo.com – Untuk yang kesekian kalinya Menteri Luar Negeri Saudi Arabia, Kamis (6/7/2017), Adel Al …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *