Beranda / Fokus Khawarij / Mencegah Upaya Provokasi dan Adu Domba di Antara Warga Negara

Mencegah Upaya Provokasi dan Adu Domba di Antara Warga Negara

Jendelainfo.com – Sebagian orang beranggapan bahwa keberhasilan pemberantasan aksi terorisme adalah dengan cara menangkap para pelakunya saja. Pendapat tersebut boleh jadi benar. Tetapi, ada hal lain yang juga perlu diperhatikan demi mencegah dan menanggulangi aksi terorisme yaitu dengan cara mencegah upaya provokasi dan adu domba di antara warga negara.

Patut dipahami bahwa di setiap aksi terorisme selalu ada persoalan yang melatarbelakanginya.

Diantaranya adalah ketidaksabaran sebagian orang dalam memandang dan menyikapi suatu permasalahan.
Hal yang kemudian mengakibatkan munculnya emosi yang tidak terkontrol.

Sikap tergesa-gesa dan tidak sabar ini yang pada akhirnya menjadikan orang mudah terprovokasi.

Berawal dari pernyataan tuduhan bahwa pemerintah tidak adil, tidak mementingkan rakyat, korupsi dan kolusi sampai kepada tingkatan menyatakan pemerintah yang sedang berkuasa sebagai pemerintah kafir.

Sedangkan Al Qur’an sendiri sudah menceritakan, bahwa para Rasul pun mengalami perkara yang bahkan jauh lebih berat dari apa yang kita hadapi. Namun mereka tetap bersabar. Allah berfirman:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوْا عَلٰى مَا كُذِّبُوْا وَاُوْذُوْا حَتّٰٓى اَتٰٮهُمْ نَصْرُنَا ۚ وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِ ۚ وَلَقَدْ جَآءَكَ مِنْ نَّبَاِى الْمُرْسَلِيْنَ

“Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat (ketetapan) Allah. Dan sungguh, telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu”. (QS. Al-An’am : 34)

Tentunya bagi setiap muslimin yang mengaku mengikuti bimbingan Al Qur’an akan berusaha bersabar terhadap situasi dan kondisi yang terjadi. Sebuah situasi dan kondisi yang sebenarnya jauh lebih ringan apabila dibandingkan dengan yang dialami para Nabi dan Rasul.

Namun dalam perjalanan sejarahnya, pada dasarnya kaum teroris adalah kaum yang reaksioner, yaitu kaum yang sudah tidak peduli dengan rambu-rambu syari’at. Seolah olah Islam itu tidak pernah memberikan aturan dalam menyikapi satu kondisi tertentu.

Mereka seakan lupa ketika salah seorang sahabat Nabi Shalallahu’alaihi wasallam bertanya tentang penguasa yang tidak bertakwa.

Adi bin Hatim bertanya :

قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، لاَ نَسْأَلُكَ عَنْ طَاعَةِ مَنِ اتَّقَى وَلَكِنْ مَنْ فَعَلَ وَفَعَلَ –فَذَكَرَ الشَّرَّ- فَقَالَ: اتَّقُوا اللهَ وَاسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا

Kami katakan, “Wahai Rasulullah, kami tidak bertanya kepadamu tentang taat kepada orang yang bertakwa, akan tetapi tentang orang yang melakukan demikian dan demikian”—ia menyebutkan kejelekan-kejelekan.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Bertakwalah kepada Allah, dengarkan dan taati (penguasa itu).” (HR. Ibnu Abu ‘Ashim)

Sungguh istilah sabar dalam kamus kaum reaksioner seakan hilang, sehingga untuk mendengar dan taat pun tidak bisa untuk diamalkan. Akhirnya membuat kondisi negeri semakin kacau dan hancur. Maka menjadi penting bagi kita untuk mencegah upaya provokasi dan adu domba di antara warga negara.

Baca Juga

Aliran Syiah

IRAN DALANG DARI TERORISME DUNIA

Jendelainfo.com – Untuk yang kesekian kalinya Menteri Luar Negeri Saudi Arabia, Kamis (6/7/2017), Adel Al …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *