Beranda / Fokus / MENGEJUTKAN, BERTAHUN TAHUN ARAB SAUDI MENYIMPAN BUKTI KONSPIRASI QATAR

MENGEJUTKAN, BERTAHUN TAHUN ARAB SAUDI MENYIMPAN BUKTI KONSPIRASI QATAR

Jendelainfo.com – Dunia seakan terhenyak ketika Kerajaan Arab Saudi mengambil sikap tegas terhadap Qatar. Sebuah sikap yang tidak banyak pihak tahu bahwa hal itu bukan merupakan sebuah proses yang tiba-tiba. Sebuah sikap yang memiliki dasar setelah bertahun-tahun bersabar, mengalah atas berbagai ganggungan, kesalahan, dan makar jahat Qatar. Makar Qatar berupa dukungan terhadap terorisme dan kelompok-kelompok radikal.

Berikut ini adalah pemaparan singkat peristiwa-peristiwa yang terjadi sejak 20 tahun lalu.

Hal ini bukan sekedar isu atau berita tanpa sumber, tetapi merupakan fakta yang didukung oleh bukti-bukti nyata, diberitakan secara resmi oleh media massa.

Tahun 1997

Di tengah berbagai perselisihan dan gangguan yang terus menurus dilakukan oleh pihak Qatar, para pimpinan Arab Saudi selalu berusaha meredam dan membuat senang pimpinan Qatar, Hamd bin Khalifah. Dalam keadaan Arab Saudi tahu hakekat sebenarnya. Namun Arab Saudi sengaja menahan diri dan meredam emosi rakyatnya demi menyenangkan pihak Qatar. Hingga DR. Su’ud al-Mushaibih terdorong untuk menulis sebuah artikel dalam rubrik kolom yang dimuat oleh satu media dalam negeri.

Dalam tulisannya itu DR. Su’ud mengkritik cara politik Qatar yang tidak baik selama ini. Maka Hamd bin Khalifah mengeluhkan artikel dan penulisnya itu kepada Raja Fahd bin ‘Abdul ‘Aziz.

Demi meredam gejolak yang timbul dan memuaskan pimpinan Qatar, Raja Fahd pun menghentikan penulis dan menghentikan penerbitan koran yang memuat itu selama tiga hari. Yang kemudian setelah itu koran tersebut kembali diizinkan terbit dengan dukungan dari Amir Nayef bin Abdul Aziz.

Tahun 2008

Setelah hubungan dengan Hamd bin Khalifah kembali membaik, dan Saddam Husein kalah pada tahun 2003, yang berujung pada peristiwa pendudukan Iraq oleh tentara AS, ternyata Hamd bin Khalifah memberikan tangan dukungannya kepada pimpinan militer AS di Iraq, Paul Bremer.

Maka terjadilah perombakan pengurus di Stasiun al-Jazeerah, sesuai arahan Paul Bremer. Pada saat yang bersamaan, Qatar menyambut para pimpinan partai Ba’ts (sosialis) yang berhasil kabur.

Oleh Qatar mereka diberi paspor Qatar agar bisa masuk ke Arab Saudi. Maka pada tahun 2008 hubungan Qatar Arab Saudi kembali memburuk. Akan tetapi hal ini tidak tampak ke permukaan.

Pihak keamanan Arab Saudi menangkap sejumlah orang di jalur Dammam – Riyadh. Di antara yang tertangkap adalah salah seorang pembesar bangsawan Qatar, seorang pembesar pimpinan partai Ba’ts Iraq, dan sisanya warga Iraq.

Mereka semua berpaspor Qatar dan mereka membawa peralatan-peralatan yang dicuri dari salah satu museum di Iraq.

Adapun jual beli barang-barang tersebut hanyalah kedok belaka agar bisa masuk perbatasan Saudi dan untuk menutupi aksi sesungguhnya yang telah mereka rencanakan.

Peristiwa ini berbuntut pada pemutusan hubungan dengan Qatar. Namun kemudian datanglah utusan dari Kuwait, untuk melobi Arab Saudi. Maka Arab Saudi pun mengalah terhadap Qatar sebagai bentuk penghormatan Arab Saudi terhadap jerih payah utusan Kuwait.

Tahun 2009

Pada Konfrensi Tingkat Tinggi Liga Arab yang diselenggarakan pada bulan Maret 2009 dan berlangsung di Doha – Qatar, pimpinan Qatar Hamd bin Khalifah mengatur agenda acara perdamaian antara Raja Saudi, Raja Abdullah bin Abdul Aziz dengan Presiden Libia Muamar Qadafi. Dengan sikap penuh ksatria Raja Abdullah menerima ajakan damai tersebut. Padahal sebelumnya telah terbongkar konspirasi makar Libia yang merencakan pembunuhan terhadap Raja Abdullah.

Fakta membuktikan bahwa acara perdamaian itu hanyalah seremonial untuk mengelabuhi Arab Saudi.

Berikutnya, Qatar mulai memberikan dukungan kepada kelompok pemberontak Houthi di Yaman. Yaitu dukungan kepada Badruddin Al-Houthi yang diatur rapi oleh Iran.

Qatar berperan memberikan dukungan finansial dan politik, sementara Iran berperan melatih dan memberikan persenjataan yang dipasok dari Qatar. Tampak jelas setelah itu, bahwa yang menjadi target sebenarnya bukan Presiden Yaman, Ali Abdullah Shalih. Namun target sesungguhnya adalah penyerangan terhadap Arab Saudi

Pada 3 November 2009 dengan dukungan finansial dan persenjataan dari Qatar serta latihan militer dari Iran, mulailah kelompok Syiah Houthi menyelinap di perbatasan Yaman – Saudi dan menyerang wilayah Jizan (Saudi). Serangan tersebut mengakibatkan kerugian besar di pihak pemberontak Houthi.

Sementara pihak Saudi mempersembahkan sejumlah pahlawan yang gugur membela agama dan negaranya, dari sipil dan militer.

BACA JUGA :

 

Baca Juga

Aliran Syiah

IRAN DALANG DARI TERORISME DUNIA

Jendelainfo.com – Untuk yang kesekian kalinya Menteri Luar Negeri Saudi Arabia, Kamis (6/7/2017), Adel Al …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *