Beranda / Fokus / Mewaspadai Bahaya Laten Gerakan Transinternasional Faham Komunisme Di Indonesia – 1

Mewaspadai Bahaya Laten Gerakan Transinternasional Faham Komunisme Di Indonesia – 1

Jendelainfo.com – Komunisme adalah ideologi dan gerakan yang bersifat internasional. Ideologi ini lahir dari dasar historismaterialisme yang secara diametral bertentangan dengan Islam. Banyak orang telah membahas dan menulis tentang komunisme tetapi belum banyak yang memperhatikan tingkah laku dan gerakannya, khususnya di Indonesia.

Sejarah telah mencatat, setiap penganut komunisme adalah pembawa misi yang permanen, yaitu membentuk negara komunis dan masyarakat komunis. Misi ini dijabarkan dalam berbagai bentuk aksi, baik yang bersifat terbuka maupun yang bersifat tertutup, yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing tempat, daerah, atau negara yang disebutkan sebagai tahap perjuangan (Mirip bahkan serupa dengan pergerakan syiah).

Karena organisasi komunis bersifat internasional, maka gerakannya pun bersifat internasional, serta dikendalikan secara internasional pula. Sesudah gagalnya Pemberontakan 1926/1927, organisasi komunis di Indonesia hancur dan bercerai-berai. Para tokoh dan kadernya tersebar. Mereka menyelamatkan diri dari tangkapan pemerintah Hindia Belanda.

Dengan hancurnya organisasi komunis ini, banyak orang berasumsi bahwa komunis telah lemah, tidak berbahaya dan akhirnya mati. Akan tetapi kenyataan menunjukkan lain. Kader-kader yang bercerai-berai itu melakukan “pekerjaan ilegal”. Tiap-tiap individu mengaku sebagai pembawa misi untuk meneruskan gerakannya, dengan dalil tujuan menghalalkan segala cara.

Kebangkitan fasisme pada tahun 1935, menyebabkan terjadinya perubahan politik di Eropa. Menghadapi perubahan ini, pimpinan tertinggi komunis menghentikan permusuhannya dengan kapitalisme dan menyatakan perang terhadap fasisme. Perubahan sikap itu dilakukan pula oleh orang-orang komunis di Indonesia. Tanpa malu-malu mereka menerima bantuan dari pihak kapitalis yang ditandai dengan kerjasama Mr. Amir Sjarifuddin Van der Plas.

Oleh karena setiap kader komunis adalah “pembawa misi” komunisme, maka mereka tidak pernah mengakui hasil perjuangan kelompok lain. Keberhasilan pemimpin nasionalis memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945, tidak pernah diakui oleh orang-orang komunis, bahkan mereka berusaha merongrongnya.

Aksi-aksi Politik

Mereka menyatakan bahwa “revolusi Agustus adalah revolusinya borjuis nasional”. Akan tetapi, karena kaum komunis tidak dapat membantah kenyataan tersebut, maka mereka melakukan aksi-aksi politik yang dilaksanakan dari jalan atas dan dari jalan bawah. Mr. Amir Sjarifuddin adalah pelopor aksi dari jalan atas. Dengan membina kerjasama dengan golongan sosialis, ia berhasil mengubah KNIP eksekutif menjadi KNIP-legislatif pada bulan Oktober 1945. Dengan KNIP-legislatif kelompok komunis melakukan silent coup terhadap Sukarno-Hatta. Sekalipun enggan,Sukarno-Hatta terpaksa menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada kelompok Sjahrir-Amir.

Lawan politik berikutnya adalah kelompok Tan Malaka. Pada 1946 kelompok ini berhasil ditendang dari arena politik, akibat peristiwa kudeta tanggal 3 Juli 1946. Hanya menghadapi Angkatan Perang, Mr. Amir Sjarifuddin merasa kewalahan. Panglima Besar Angkatan Perang Jenderal Soedirman yang semula dianggap sebagai anak bawang ternyata seorang politikus tangguh yang bersikap merendah. Angkatan Perang sulit dipengaruhi dan ditaklukkan, sekalipun Mr. Amir Sjarifuddin telah menciptakan pelbagai laskar tandingan.

Orang-orang komunis sadar bahwa Angkatan Perang harus dibina secara sabar dan hati-hati. Lawan selanjutnya adalah kawan seiringnya, yakni kelompok sosialis. Kelompok ini ditinggalkan begitu saja, tanpa peduli dengan jasa Sjahrir. Sampai tahun 1948 Mr. Amir Sjarifuddin berhasil mengkonsolidasi PKI dari jalan atas sampai ke tahap pembentukan Front Demokrasi Rakyat. Tahap aksi selanjutnya diserahkan kepada Musso “Sang Guru” yang baru pulang dari luar negeri. Dalam aksi-aksi dari jalan atas, orang-orang komunis seolah-olah mencapai kesepakatan untuk tidak menampakkan wajah asli. Mereka selalu nampak dengan wajah sosialis, wajah nasionalis bahkan Islam. (Abdullah)

Sumber: Buku Bahaya Laten Komunisme di Indonesia, Pusjarah TNI

Baca Juga

Presiden: PKI Kalau Nongol Gebuk Saja

Jendelainfo.com – Ditengah berbagai isu miring yang dialamatkan kepada Pemerintah, secara tegas Presiden Joko Widodo …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *