Beranda / Warta / MISI KEMANUSIAN DAN MISI KEJELEKAN UNTUK YAMAN

MISI KEMANUSIAN DAN MISI KEJELEKAN UNTUK YAMAN

Jendelainfo.com – Beberapa pihak, termasuk Hizbut Tahrir, menyoroti negatif Operasi Militer “Ashifatul Hazm” yang dilakukan oleh Aliansi Militer negara-negara arab yang dipimpin oleh Arab Saudi. Operasi militer itu dinilai oleh beberapa pihak tersebut sebagai sebab memburuknya situasi di Yaman. Antara lain menyengsarakan warga sipil termasuk wanita dan anak-anak, serta berbagai pencitraan negatif lainnya. Tak menutup kemungkinan hal ini sengaja disebarkan secara sistematik dan masif oleh kelompok pemberontak Syiah Houthi, sebagai bentuk perang opini di media massa dalam rangka membunuh karakter lawan-lawanannya. Utamanya Arab Saudi.

Namun fakta yang teramat banyak di lapangan tak bisa ditutup-tutupi. Dengan sendirinya fakta menjadi saksi terbaik membuktikan kebenaran yang ada.

Di antara berbagai fakta tersebut, apa yang dipublish oleh akun berita resmi @ALyemenNow dalam ciutannya yang dikirim pada 00:32 Senin 20/2/2017 :

Perbedaan antara pihak yang menginginkan kebaikan untuk negara kami dengan pihak yang menginginkan kejelekan untuk negara kami :
#Arab Saudi : meletakkan 2 milyar dolar untuk deposito di Bank Sentral Yaman, dalam rangka menopang perekonomian negara kami.
Iran : ratusan ribu ranjau dan rudal mereka buat untuk membunuh kami.”

Itulah kenyataan yang ada di lapangan. Siapakah yang berniat jelek untuk Yaman? Dan siapakah yang penuh jiwa kemanusian untuk Yaman?
Sekali lagi, ini hanya salah satu fakta dari sekian banyak fakta.

Di hadapan Konferensi Keamanan Munich ke-53, Menlu Arab Saudi menegaskan dalam pidatonya (19/02/17) :
“Iran telah menyelundupkan persenjataan ke milisi-milisi pemberontak Syiah Houthi, serta mengirim para intelejen Iran ke Yaman. Ini jelas pelanggaran terhadap ketetapan Dewan Keamanan PBB no. 2216.”

Al-Juber juga menyatakan bahwa Aliansi Militer pimpinan Arab Saudi melancarkan operasi militer di Yaman semata-mata demi menyambut seruan Presiden Yaman yang sah, yang meminta pertolongan kepada negara-negara tetangganya untuk mengatasi kejahatan para pemberontak Syiah Houthi yang terus makin berbahaya. Jadi Aliansi Militer bukanlah pihak yang memulai peperangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *