Beranda / Warta / MUI Pusat Imbau Umat Islam tidak Merayakan Hari Valentine

MUI Pusat Imbau Umat Islam tidak Merayakan Hari Valentine

Setelah MUI berbagai wilayah beserta pemerintah Propinsi, Kabupaten/Kota mengeluarkan larangan perayaan hari Valentine, tiba gilirannya Wakil Ketua MUI Pusat menyampaikan pernyataannya.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Yunahar Ilyas mengimbau umat Islam agar tidak merayakan atau memperingati Hari Valentine.

“Jadi, tidak ada gunanya Valentine itu karena dari segi sejarahnya juga bukan dari Islam, tapi agama lain. MUI mengimbau umat Islam tidak usah ikut-ikutan Valentine,” kata Yunahar Ilyas saat dihubungi, Senin (13/2).

Dia menuturkan, Valentine sering kali menjadi dalih untuk mengumbar sahwat. Misalnya, dengan berpesta pora, pacaran, atau bahkan melakukan seks bebas. Karena itu, Yunahar meminta pihak orang tua Muslim untuk menjaga diri dan keluarganya dari mudarat tersebut.

“Kepada para remaja, agar jangan ikut-ikutan Valentine. Islam mengajarkan, kasih sayang itu diungkapkan setiap hari. Tak ada hari spesial. Sayang kepada orang tua, saudara, antara suami dan istri. Bukan dalam arti hubungan bebas atau pacaran,” kata dia.

Kejelekan dan Keanehan Perayaan Hari Valentine

Beberapa versi sebab-musabab dirayakannya hari Kasih sayang ini, dalam The World Book Encyclopedia (1998) melukiskan banyaknya versi mengenai Valentine’s Day.

Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama –nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998).

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Cukuplah hal di atas menjadi alasan bagi kaum muslimin untuk tidak merayakan hari Valentine. Wallahu a’lam.

Baca Juga

Cara Mudah Memastikan Status Kehalalan Suatu Produk

Jendelainfo.com – Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) meminta masyarakat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *