Beranda / Warta / Radikalisme di Bumi Papua, Kemana Banser?

Radikalisme di Bumi Papua, Kemana Banser?

Jendelainfo.com – “Saudara-saudara diminta segera membubarkan diri. Sekali lagi diminta segera meninggalkan tempat,” kata aparat kepolisian dari mobil polisi menggunakan pengeras suara.

Saat itu tanggal 16 Maret 2006, kira-kira pukul 12.25 WIT. Himbauan tersebut tak diindahkan ratusan mahasiswa. Mereka tetap memilih duduk bertahan di jalan raya, tepat depan Gapura Kampus Universitas Cenderawasih, Jayapura.

Tidak sampai hitungan menit setelah datangnya suara tadi, lima aparat kepolisian dari pengendalian masyarakat (Dalmas) Polda Papua keluar dari barisan. Tiga orang dari sebelah kiri massa, dan dua dari sebelah kanan. Mereka menyemprot gas air mata ke arah massa yang sudah berdemo selama tiga hari.

Tidak terima dengan perlakuan aparat, mahasiswa balik serang. Polisi terus dihujani batu dan lemparan kayu. Tiga anggota polisi meninggal di tempat.

Mereka adalah Pratu Daud Soleman, Seorang Anggota Pengendali Massa (Dalmas), Brigadir Syamsudin (Brimob) dan Briptu Arisona Horota (Brimob).

Papua Hari Ini

Tokoh agama dan penulis buku-buku Papua, Pendeta  Socrates Sofyan Yoman mengatakan, terkait belum adanya penuntasan sejumlah kasus yang diduga pelanggaran HAM di tanah Papua oleh Pemerintah Indonesia karena telah dianggap Papua akan segera berdiri sendiri.

“Indonesia tahu Papua pasti berdiri sendiri sebagai bangsa berdaulat lepas dari Republik Indonesia, karena itu pemerintah Indonesia tidak peduli tentang sejumlah kasus pelanggaran HAM. Karena Indonesia tidak peduli dengan manusia Papua, tapi mereka berusaha kuasai tanah Papua dan sumber daya alamnya. Mereka memusnahkan orang asli Papua dengan berbagai pendekatan yang wajar dan tidak wajar,” jelas Pendeta Socrates Sofyan Yoman kepada di Jayapura, Selasa (20/09/2016).

Kemana Banser – NU?

Kemana Banser? Ormas besar NU memiliki sayap paramiliter yang disebut Banser. Dikatakan bahwa Banser pengawal perdamaian. Pada prakteknya tak jarang menampakkan tindakan dan aksi tak semestinya. Sehingga menimbulkan kesan bahwa kyai, atau kegiatan keagamaan tampak “garang”.

Rentetan peristiwa, kejadian demi kejadian, kerusuhan, tindakan anarkis, dan radikalisme di Papua telah memakan korban secara nyata dalam jumlah yang tidak sedikit. Sebuah hal yang menuntut segenap elemen bangsa ini untuk bahu-membahu, turut serta bersama pemerintah mewujudkan kedamaian dan perdamaian.

Mungkin sedikit yang menyadari bahwa Organisasi Papua Merdeka (OPM), ternyata salah satu wujud radikalisme di bumi Indonesia yang sesungguhnya. Mereka secara nyata mengancam persatuan dan kesatuan NKRI. Adakah Banser memerangi mereka? Sebagaimana yang mereka teriakkan di berbagai kesempatan akhir-akhir ini tentang menjaga keutuhan NKRI?

Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Provinsi Papua dan Papua Barat Amir Mahmud Madubun di Jayapura, seperti dilansir Merdeka.com, Selasa (17/1) menyatakan, “Kami meminta dan mengimbau kepada seluruh warga Nahdlatul Ulama (NU), GP Ansor dan Banser yang ada di Papua dan Papua Barat, untuk tidak mengikuti gerakan-gerakan radikalisme, intoleransi dan kelompok-kelompok yang dengan jelas tidak berpedoman pada Pancasila dan NKRI.” Apakah mereka tulus mengatakan hal ini?

Menengok ke belakang

Ketika hari natal dan tahun baru tiba, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU siap siaga menjaga gereja demi rasa aman ummat kristen beribadah. Bukan cuma di Jakarta atau pulau jawa saja, namun juga di Papua.

Gerakan Pemuda (GP) Ansor Nusa Tenggara Timur menyiapkan personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) untuk membantu aparat Kepolisian Daerah NTT mengamankan perayaan Natal di sejumlah gereja. “Sekitar 150-200 anggota Banser akan menjaga sejumlah gereja saat perayaan Natal,” kata Ketua GP Ansor NTT Abdul Muis, Selasa, 16 Desember 2014, dilansir Tempo (16 Desember 2014).

Tapi, tampaknya Banser NU lalai dalam menjaga masjid yang sejatinya adalah rumah ibadahnya sendiri pada hari raya Idul Fitri 1436 H / 2015 M. Hal ini terbukti dengan peristiwa penyerangan jamaah sholat Ied dan pembakaran masjid di Papua pada hari Jum’at, 17/7/2015.

Tentu saja kejadian itu menjadi pelajaran tersendiri bagi ummat Islam. Mantan ketum GP Anshor NU bernama Khatibul Umam Wiranu pun mengambil sikap, seperti dilansir laman NUGarisLurus.Com, Minggu 19 Juli 2015.

Berikut ini sebagian pernyataannya, “… Ansor dan Banser sibuk jaga gereja saat acara ritual dan kebaktian umat kristiani (mungkin ada bayarannya di dunia)  sampai-sampai melupakan tugas utama menjaga ulama dan masjid (mungkin tidak ada bayarannya di dunia). Peristiwa pembakaran tempat solat idhul fitri oleh siapapun hrs jadi instropeksi pemimpin ansor dan banser agar tidak lupa akan tujuan pendirian ansor dan banser. …”

Sebuah kritik keras kepada Banser dari Ketum Banser sendiri. Kenapa dan kemana Banser? Yang seharusnya mereka keras terhadap kaum kafir dan bersikap lemah lembut terhadap kaum muslim. Bukan malah sebaliknya, gereja dijaga dan pengajian dibubarkan, serta radikalisme yang tampak nyata malah didiamkan.

Baca Juga

Ahok jadi warga NU, kemana Banser?

Polarisasi Sikap Banser dalam Pilkada Jakarta, Sebuah Keajaiban?

Jendelainfo.com – Sungguh kita dibuat kagum dengan kecepatan pimpinan Banser dalam berpikir dan bertindak. Sedemikian …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *