Beranda / Internasional / Raja Arab Saudi Disambut Hangat, Bagaimana Dengan Wahabi? Ini Penjelasannya

Raja Arab Saudi Disambut Hangat, Bagaimana Dengan Wahabi? Ini Penjelasannya

Jendelainfo.com – Kunjungan Raja Arab Saudi ke Indonesia yang dimulai pada 1 Maret 2017 lalu benar-benar mendapat sambutan hangat dan meriah dari rakyat Indonesia. Sepanjang jalan penuh dengan masyarakat yang menyambut gembira dan mengelu-elukan sang Raja. Boleh dibilang, tidak ada pimpinan dunia yang mendapat sambutan sehangat itu sepanjang sejarah Indonesia. Para elit pimpinan bangsa ini memberikan apresiasi terhadap Raja Salman, demikian pula para pimpinan ormas Islam. Bahkan tak ketinggilan para pimpinan agama selain Islam, juga memberikan penghargaan tinggi kepada Raja Arab Saudi tersebut.

Terlebih setelah ditandatanganinya 11 Nota Kesepahaman (MoU) oleh kedua negara, hal yang benar-benar menunjukkan bahwa hubungan Arab Saudi – Indonesia sangat baik.

Hingga pada detik-detik terakhir menjelang perpisahan dengan Raja Salman di bandara Halim Perdanakusuma, tatkala sang Raja kembali mengulangi ungkapan kebahagian dan terima kasih kepada bangsa Indonesia, maka Wakil Presiden Jusuf Kalla menimpali dengan penuh ketulusan, “Ini kecintaan rakyat Indonesia.”

Semoga Allah menjaga para pimpinan kedua negara dan menjaga hubungan baik yang telah terjalin.

Ketua PBNU yang selama kunjungan Raja Arab Saudi di Jakarta tidak ada di tempat, namun berada di Mesir, tiba-tiba sekembalinya ke Indonesia mengucapkan kata-kata yang sangat mengejutkan,
“Sudah saya tegaskan berkali-kali, yang NU waspadai itu Wahabisme bukan Kerajaan Saudi Arabia,” kata Kiai Said Aqil saat menerima Prof. Dr. Alwi Shihab di kantor PBNU Jakarta. Sebuah pernyataan yang tidak saja terdengar aneh lebih daripada itu dapat dikatakan sebagai tidak masuk di akal.

Sebuah pernyataan yang sangat disayangkan terlontar dari seorang yang berkedudukan sebagai pimpinan ormas besar di Indonesia. Ucapan tersebut akhirnya lebih terkesan membangkitkan perpecahan dan permusuhan dibandingkan kesadaran atas persatuan.

Berulang kali pihak Kerajaan Arab Saudi menyatakan keteguhannya untuk senantiasa menjalankan roda pemerintahan berlandaskan Al-Quran dan Hadits. Saat mana tidak ada satu pun negara Islam yang berani menyatakan terang-terangan bahwa negaranya di atas Al-Quran dan Hadits.

Perlu diingatkan bahwa berdirinya negara Arab Saudi tak bisa dilepaskan dari dakwah Tauhid yang ditegakkan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Karena itulah pihak-pihak yang sentimen terhadap kerajaan Islam ini memberikan label sebagai Wahabi. Jadi, tentu saja label Wahabi itu mengenai ulama dan negara Arab Saudi, termasuk Raja Arab.

Stigma negatif “Wahabi” yang perlu diluruskan

(Baca : Penjelasan Raja Salman terhadap Stigma Wahabisme)

Bahwa dakwah Syekh Muhammad bin Abdil Wahab yang dibela dan diperjuangkan oleh negara Arab Saudi bukanlah ajaran atau dakwah baru. Dakwah beliau adalah menyampaikan dakwah tauhid yang merupakan dakwah para nabi dan rasul.

Dalam suatu kesempatan, sebagaimana dikutip dari MEMRI.org, Raja Salman menuliskan sebagai berikut,

“Setiap orang yang bersungguh-sungguh mempelajari surat dan kitab Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, pasti dia akan mendapati bahwa dakwah beliau tidak berisi sesuatu yang baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah atau yang berseberangan dengan apa yang telah dilakukan/diamalkan oleh para Salafush Shalih. [Dakwah Syekh Muhammad Abdul Wahab] tidak ada lain kecuali ajakan untuk kembali kepada sumber yang benar dari keyakinan Islam yang murni sebagai landasan. Adalah suatu kesalahan jika menyebut Wahhabisme sebagai sesuatu yang alamiah, karena [penggunaan istilah ini] pada asalnya ditujukan sebagai fitnah dan penodoaan (terhadap Arab Saudi) …

Dakwah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab bukanlah metode baru, bukan pula ide baru. Sekali lagi saya tantang siapapun yang dapat menemukan di dalam tulisan Syekh atau surat beliau ada sebuah penyimpangan dari teks suci (Al-Quran dan Hadits), atau dari amaliah dan praktek para salafush shalih, maka (jika ada) silakan menunjukkannya kepada kami.

Aku mengajak para penulis dan para peneliti untuk tidak terpengaruh oleh klaim sebagian pihak bahwa [tidak ada salahnya] penggunaan istilah Wahhabisme [dan hal ini] hanyalah sebuah istilah. Orang-orang seperti ini melupakan bahwa tujuan sesungguhnya disebarkan istilah tersebut adalah untuk mencemari Dakwah Salafiyyah yang benar dan murni, yang tidak terdapat ajaran yang bertentangan [kontradiksi] dengan apa yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Lebih jauh, penodaan seperti itu dilakukan oleh berbagai elemen yang tidak menyukai dakwah dan bimbingan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, yaitu tegaknya sebuah negara Islami yang dibangun di atas ajaran [Islam], yang menjaga hak-hak masyarakat dan melayani dua tempat suci (Makkah dan Madinah), bernama negara Arab Saudi.”

Baca Juga

Tuduhan Terhadap Pemerintah Arab Saudi Yang Tidak Pernah Terbukti

Jendelainfo.com – Berikut ini adalah bagian terakhir rangkaian artikel bantahan terhadap tuduhan berbagai pihak terhadap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *