Beranda / Fokus / Sejarah Kelam UIN Mulai Dari Mendukung LGBT Hingga Pelarangan Cadar

Sejarah Kelam UIN Mulai Dari Mendukung LGBT Hingga Pelarangan Cadar

Jendi – UIN (Universitas Islam Negeri) dahulu bernama IAIN sebagai sebuah institusi pendidikan berlabelkan Islam kembali menjadi sorotan. Beberapa waktu lalu beredar Surat Edaran yang secara langsung diakui oleh pihak Rektorat terkait dengan pelarangan penggunaan cadar bagi mahasiswinya di lingkungan kampus. Hal yang menambah panjang catatan kelam di lingkungan kampus UIN.

Hal kontroversial seperti itu bukanlah pertama kali ini terjadi. Sebelumnya, bahkan pihak UIN Jakarta memecat seorang Dosen yang bersikukuh untuk menggunakan cadar saat mengajar.

Merunut kebelakang, akan mudah bagi kita untuk mengumpulkan berbagai data dan informasi tentang berbagai keanehan, kalau tidak boleh disebut penyimpangan, yang terjadi di lingkungan kampus UIN dan dilakukan oleh para civitas akademika-nya. Sebut saja satu nama diantara mereka Prof. Musdah Mulia yang terkenal dengan dukungannya terhadap LGBT dan legalisasi pernikahan sesama jenis.

Ada Yang Salah Dengan Sistem Pendidikan UIN

Apa yang salah dalam sistem pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN), sehingga ada lulusannya menjadi nabi palsu? Tahun 2010, namanya Syamsuddin, nabi palsu pimpinan aliran sesat Puang Malea dari Polewali Mandar, lulusan Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Makassar tahun 2008.

Warga dan para tokoh agama setempat menilai ajaran nabi palsu Syamsuddin dalam aliran Puang Malea sangat menyimpang dari Islam. Beberapa penyimpangan di antaranya: pimpinan aliran Puang Malea, Syamsuddin mewajibkan kepada para pengikutnya untuk mengakui bahwa dirinya adalah Nabi Khaidir.

Kemudian, pengikut terlebih dahulu harus disucikan dengan mandi bersih yang diawali dengan buang hajat. Calon pengikut aliran ini mandi tanpa busana dengan kepala ditutupi selembar kain putih.

Jauh ke belakang, Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang dengan jurnal Justisia-nya, pada Edisi 23 Th XI 2003 memuat artikel-artikel yang membuat kita mengelus dada. Di antaranya adalah artikel berjudul Qur’an Perangkap Bangsa Quraisy dan Pembukuan Qur’an oleh Usman, Sebuah Fakta Kecelakaan Sejarah.

Pada tahun 2004, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta meluluskan sebuah tesis master yang secara terang-terangan menyatakan Al-Qur’an bukan kitab suci. Tesis tersebut kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan.

Penelitian Departemen Agama 2006 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyebutkan, “Al-Qur’an bukan lagi dianggap sebagai wahyu suci dari Allah SWT (subhanahu wa ta’ala) kepada Muhammad SAW (shallallahu ‘alaihi wa sallam) melainkan merupakan produk budaya (muntaj tsaqafi) sebagaimana yang digulirkan oleh Nasr Hamid Abu Zaid, metode tafsir yang digunakan adalah hermeneutika.”

Rentetan tragedi yang sulit diterima akal sehat terjadi di lembaga pendidikan tinggi berlabel Islam. Hal ini merupakan rilis ulang aqidah sesat yang meyakini bahwa Al-Quran adalah makhluk, bukan Kalam ilahi. Sebuah keyakinan sesat yang telah dikupas tuntas kesesatannya oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah lainnya.

Mengambil Pelajaran

Tidak cukup satu dua halaman untuk menuliskan setiap kejadian dan kesaksian mereka yang merasakan, menemui, dan mengalami berbagai kejadian dan peristiwa janggal di UIN. Cukuplah sedikit kisah di atas dan kejadian akhir-akhir ini dapat diambil sebagai pelajaran bagi yang mau. AJB

Baca Juga

taqwa

Video: Taqwa Kunci Kejayaan Umat di Dunia dan Akhirat

Emansipasi Wanita dalam Islam

Salah satu usaha propaganda (manipulasi persepsi) yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk mengacaukan keimanan penganutnya, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *