Beranda / Ilmu / Stigma Wahabisme, Ini Penjelasan Raja Salman

Stigma Wahabisme, Ini Penjelasan Raja Salman

Pemerintah dan mayoritas rakyat Indonesia menyambut baik kedatangan Raja Salman bin Abdul Aziz Aalu Suud ke Indonesia tahun ini (1-9/03/2017). Alhamdulillah kunjungan ini telah banyak memberikan hasil positif untuk kedua negara.

Namun ada beberapa pihak yang resah dengan kedatangan Raja Salman ini. Sampai-sampai mereka tuangkan keresahan itu melalui media massa, baik cetak maupun elektronik. Di antara isu yang mereka angkat dalam keresahannya itu, bahwa kunjungan ini merupakan ekspansi Wahabisme di dunia Islam.

Stigma ini telah lama sengaja disematkan oleh pihak-pihak yang tidak suka dengan negara ini. Tak pelak, gelaran negatif itu berhasil mempengaruhi banyak pihak. Sehingga mereka selalu curiga dan memberikan penilaian negatif atas segala kebijakan Arab Saudi, baik kebijakan dalam negeri maupun luar negeri.

Apakah Wahabisme itu?

Sesunguhnya masalah ini telah dijelaskan oleh Raja Salman ketika beliau masih menjabat sebagai gubernur Riyadh. Sosok yang dikenal peduli dan tangguh ini melayangkan surat kepada salah satu stasiun televisi internasional, ketika beliau mendengar pemberitaan-pemberitaan negatif dan salah tentang Arab Saudi dan Wahabisme. Surat itu pada bulan April tahun 2008. Berikut petikan surat monumental tersebut :

“Negara Arab Saudi tegak di atas dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bukan di atas kedaerahan, kesukuan, bukan pula di atas ideologi (pemikiran manusia). Arab Saudi berdiri di atas Aqidah Islamiyyah sejak lebih dari 270 tahun yang lalu, ketika Imam Muhamad bin Su’ud dan Syekh Muhammad bin Abdul Wahab saling berbaiat (janjia setia) untuk menyebarkan Islam dan menegakkan Syariat Allah.

Karena asas dan orientasinya ini, Arab Saudi diserang oleh musuh-musuhnya sejak awal berdirinya hingga hari ini. Yaitu dengan cara penggambaran jelek dan menyematkan tuduhan negatif terhadap dakwah reformasi Syekh Muhammad bin Abdul Wahab.

Dakwah ini pada prinsipnya adalah mengajak kepada Islam sebagaimana yang terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah. Oleh karena itu muncullah istilah-istilah negatif, seperti Wahabiyah (Wahabisme) untuk mencemarkan sejarah Arab Saudi dan prinsip-prinsipnya. Istilah itu (Wahabiyah) dikaitkan dengan kelompok sesat yang muncul di Afrika Utara. Penamaan yang dinisbahkan kepada Abdul Wahab bin Rustum pada abad ke-2 hijriah (abad ke-8 masehi). Kelompok ini memang dikenal menyimpang aqidahnya dan telah keluar dari Sunah nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Kesalahan dalam mengaitkan gerakan dakwah Syekh Muhammad bin Abdul Wahab dengan kelompok sesat tersebut telah dijelaskan oleh DR. Muhammad bin Sa’d Asy-Syuwair dalam bukunya “Tashih Khatha’ Tarikhi haula Al-Wahhabiyah”.

Ketika di Mina, pada tahun 1365 H / 1946 M, tatkala menyambut para pimpinan dan utusan haji, Raja Abdul Aziz telah menjelaskan asas negara Arab Saudi ini. Beliau mengatakan dalam kesempatan tersebut, “Orang-orang mengatakan bahwa kami (Arab Saudi) adalah Wahabi. Padahal hakekatnya kami adalah Salafiyun (pengikut generasi salafus shalih), yang senantiasa menjaga agama kami, dan kami mengikuti Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya.” Inilah asas negara Arab Saudi sejak awal didirikan.

Pertanyaannya : apakah ada satu orang pun yang bisa mendapatkan dalam karya-karya warisan Syekh Muhammad bin Abdul Wahab ada satu saja sesuatu yang tidak bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, untuk membuktikan kebenaran tuduhan dan tudingan-tudingan tersebut??”

Demikian petikan isi surat Amir Salman bin Abdul Aziz.

Baca Juga

Raja Yang Hafal Al-Qur'an

DEWAN ULAMA SENIOR ARAB SAUDI MENYAMBUT PENUNJUKAN PUTRA MAHKOTA BARU

Jendelainfo.com – Sejak awal berdirinya, Arab Saudi tak pernah lepas dari peran serta dan bimbingan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *